www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Thursday, September 20, 2012

Emas dan Uang Kertas : Supply Side

Salah satu perbedaan mendasar antara uang kertas dan uang emas adalah cara memproduksinya. Uang kertas dapat diproduksi dengan mudah dan murah. Biaya cetak 1 US Dollar misalnya hanya setara 0.04 Dollar atau 4 sen saja. Bahkan bisa menjadi nol, bila dimunculkan dari awang-awang dalam catatan elekronik binary digit di komputer. Sedangkan untuk memproduksi emas membutuhkan rangkaian yang panjang mulai dari eksplorasi hingga ekstraksi. Seluruh rangkaian itu menggunakan teknologi dengan biaya tinggi. Dan tentu saja emas ini jumlahnya terbatas, tidak seperti uang kertas yang asalnya dari pohon (jadi produksi uang kertas tidak ramah lingkungan karena harus mengorbankan hutan untuk mencetak uang).

Dari grafik di atas terlihat jelas perbandingan antara True Money Supply (TMS) atau emas dengan suplay uang di Amerika. Supply emas per tahun hanya naik 1-2% dari total cadangan emas dunia, sedangkan supply US Dollar menurut laporan Federal Reserve per 17 November 2011 sejumlah  $2,150,000,000,000, naik 28% dalam 2 tahun terakhir, sedangkan M2 (supply uang dalam pengertian yang lebih luas) naik dari  $8.48 trillion menjadi $9.61 trillion dari November 2009 hingga Oktober 2011 naik 12.9% dalam 2 tahun terakhir. 

Kenaikan sisi supply ini juga dipicu dengan kebijakan pencetakan uang secara massif melalui program Quantitative Easing (QE) oleh Federal Reserve pada tahun 2008 (QE 1), 2010 (QE 2), dan 2012 (QE 3). Maka seiring kebijakan tersebut harga emas dunia mencapai level US$ 800-1.200 tahun 2008-2010, US$1.200-1.600 tahun 2010-2012, dan kemungkinan akan menembus batas psikologis US$ 2.000 sesuai prediksi para pakar emas pada periode 2012-2014 mendatang. Setelah QE 3 beberapa pekan lalu saat ini harga emas bertengger di posisi US$ 1.700, setelah sekian lama bertahan di posisi US$1.600. 

Maka selagi sisi supply uang kertas terus mengungguli supply emas, maka harga emas akan terus berlari meninggalkan daya beli uang kertas.

wallahu 'alam

sumber :
1.http://www.goldmoney.com/gold-research/felix-moreno-de-la-cova/golden-stability-versus-fiat-chaos-part-I.html
2.http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/83-gd-articles/investasi/1076-qe-infinity-dan-maknanya-bagi-kemakmuran-kita





Thursday, September 13, 2012

Breaking Story

Amerika Serikat saat ini sedang berada di ambang senja. Dalam berbagai bidang  ekonomi, politik dan militer mereka sedang menuju jurang kehinaan.  Dalam bidang ekonomi, krisis 2008 masih terus menyisakan kelesuan hingga kini, dan akan menyusul krisis babak baru tahun 2013 mendatang.Nilai Dollar akan kembali terjungkal, setelah setahun belakangan menguat sebagai imbas dari krisis Eropa, namun the real bomb belum lagi akan menyala. 

Dalam bidang politik posisi AS semakin terpojok menyusul kemarahan muslim di berbagai dunia saat ini sebagai efek dari film Anti-Islam (betapa gamblangnya judul tersebut!) yang diproduksi di AS dengan berbagai sponsor para pebisnis Yahudi dan didukung Terry Jones pendeta yang berazam untuk membakar Al Quran dengan sutradara Yahudi Sam Bacile.

Munculnya film ini merupakan bagian dari peringatan 11 September 2011 yang hingga kini menjadi momok pemerintahan AS di seluruh dunia. Kemarahan muslim di seluruh dunia adalah suatu hal yang sudah mereka prediksi dan bisa jadi mereka harapkan, sebagai test case pendahuluan dari grand design AS, Yahudi, dan Komunis internasional terhadap muslim dunia.

Semua ini mengarahkan konsentrasi konflik di wilayah Timur Tengah yang sedang bergejolak di Suriah , Palestina, Yaman, Irak dan juga di wilayah lain seperti Afghan, Somalia, dan Sudan. Dengan zionis Israel di tengah-tengah masjid Al Aqsha  Palestina sebagai sentral pergolakan.

Di bidang militer AS benar-benar kewalahan, perang Afghan telah membuat mereka mengalami kerugian yang besar. Sudah 2000 tentaranya tewas. Mereka tidak mengambil pelajaran bagaimana Uni Soviet kalah telak, yang berakhir dengan terpecahnya mereka menjadi banyak negara. Bahkan kekaisaran Inggris juga punahkarena kalah perang pada masa silam. Artinya tidak ada satupun negara atau kerajaan yang berhasil mengalahkan bangsa Afghan yang miskin dan sederhana. Saat terjadi perang Afghan dan Soviet pada periode 1979-1989, setiap hari Soviet mengalami kerugian 60-70 juta Dollar, kini AS telah menghabiskan 1,4 triliun untuk memerangi Irak dan Afghan pasca 9/11. 
Dan apa yang terjadi sekarang sesuai dengan prediksi pengatamat ahli Amerika yang berbicara di TV negerinya saat berlangsung perang antara Afghan dan Soviet " Bangsa Afghanistan akan menang melawan soviet, kemudian pengaruh Islam akan melanda Rusia, kemudian Eropa dan Amerika. Setelah itu Amerika, Rusia dan Eropa akan beraliansi menghadapinya."

Karena sejarah berulang maka ungkapan pengamat Amerika itu kini bisa kita ubah menjadi, "Bangsa Afghanistan akan menang melawan Amerika, kemudian pengaruh Islam akan melanda Amerika dan Eropa. Setelah itu Amerika, Eropa , dan Rusia akan beraliansi menghadapinya."

Itulah yang terjadi saat ini dengan film Anti-Islam sebagai selingannya.

wallahu 'alam

Tuesday, September 11, 2012

Qatar Ingin Jadi Pemilik Saham Mayoritas Shell




Negara Qatar ingin menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan minyak Royal Dutch Shell dengan menaikkan jumlah sahamnya menjadi 7 persen, lansir Reuters (9/9/2012).
Middle East Economic Survey (MEES) mengatakan bahwa pengelola investasi negara Qatar Investment Authority (QIA) berupaya meningkatkan sahamnya di Shell dari di bawah 3 persen menjadi 7 persen, atau melebihi kepemilikan Blackrock yang mencapai 5 persen. Shell menolak untuk mengomentari hal itu, lapor Reuters.

Pada bulan Mei, MEES melaporkan bahwa Qatar berusaha membeli 3-5 persen saham Shell. Shell mengkonfirmasi berita itu dengan mengatakan bahwa Qatar telah membeli sahamnya dalam jumlah besar.

Peraturan pasar saham di Inggris mengharuskan para pembeli lebih dari 3 persen saham perusahaan yang terdaftar dalam bursa harus membuka identitasnya. Dan Qatar belum mengungkapkan hal itu.
QIA menjadi pengelola investasi negara di kawasan Timur Tengah yang paling aktif saat ini. Tidak hanya mengandalkan investasi dalam negeri di bidang gas alam, Qatar membeli saham-saham produsen barang, konsumsi seperti perusahaan pembuat mobil Jerman Porsche, sampai perusahaan keuangan seperti bank Inggris Barclays.
Seorang pejabat senior QIA pada bulan April mengatakan, krisis finansial menghalangi lembaganya untuk berinvestasi di bidang komoditi. Dan ia memperkirakan akan terjadi kesenjangan antara permintaan dan penawaran pada tahun 2016-2017.

Selain membeli saham Shell, sebelumnya QIA telah membeli saham perusahaan minyak Prancis, Total, dan perusahaan Eropa, Energias de Portugal dan Iberdrola.
QIA juga membeli saham Xstrata sebanyak 12,3 persen, sehingga menghalangi perusahaan tambang yang terdaftar di bursa London itu melebur dengan Glencore.
Shell, perusahaan tambang minyak dan gas asal Belanda, mengoperasikan proyek gas alam bernilai milyaran dolar di Qatar.*

sumber : www.hidayatullah.com

Tuesday, July 24, 2012

Menjelang Ramadhan 492 H di al-Quds


BEBERAPA hari menjelang Ramadhan, 913 tahun yang lalu, kota al-Quds (Yerusalem) jatuh ke tangan pasukan Salib. Peristiwa ini terjadi pada Perang Salib pertama dan menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan dunia Islam pada masa itu.
Pasukan Salib yang dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles, Godfrey of Buillon, dan beberapa bangsawan Prancis dan Italia lainnya itu memang menjadikan al-Quds sebagai sasaran utama mereka. Mereka berangkat sejak pertengahan tahun 1096, sebagai respons atas seruan Paus di Roma untuk merebut al-Quds dan membantu Byzantium dalam menghadapi tentara Turki Saljuk. Setelah berkumpul di Konstantinopel (kini bernama Istambul), mereka bergerak ke Asia Minor dan menaklukkan kota Nicaea pada bulan Juni 1097.

Nicaea ketika itu merupakan ibukota Kesultanan Rum, salah satu kesultanan Bani Saljuk. Pada tahun berikutnya, Juni 1098, mereka berhasil merebut kota Antioch (Antakya) di utara Suriah, setelah mengepungnya selama sembilan bulan. Dan setahun setelahnya, awal Juni 1099, tentara Salib tiba di depan tembok al-Quds.
Ketika itu al-Quds berada di bawah kendali Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Mesir.
Pasukan Salib mengepung beberapa bagian kota itu. Mereka membangun menara kayu untuk menembus benteng kota. Mereka berdoa dan melakukan upacara keagamaan dengan berjalan mengelilingi al-Quds tanpa mengenakan alas kaki, sementara kaum Muslimin memperhatikan dari atas tembok kota. Mereka berjuang di tengah teriknya musim panas pertengahan tahun itu, dengan terus mengenakan baju perang, serta adanya keterbatasan akses terhadap air.
Dengan semangat dan kesungguh-sungguhan, pasukan Salib akhirnya berhasil memasuki tembok kota al-Quds dari bagian utara. Hal ini terjadi pada pagi atau siang hari Jum’at tanggal 15 Juli 1099, bertepatan dengan 23 Sha’ban 492 H. Maka, kota ini pun jatuh ke tangan pasukan Kristen Eropa hanya seminggu menjelang masuknya bulan Ramadhan.
Sementara biasanya banyak peziarah Muslim yang datang ke kota ini untuk menetap selama bulan Ramadhan.
Apa yang terjadi setelah itu? Sebagian pembaca mungkin sudah pernah mendengarnya. Puluhan ribu kaum Muslimin yang berada di kota ini dibunuh secara kejam, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, serta antara orang dewasa dengan orang tua dan anak-anak. Pembantaian terjadi selama tiga hari hingga satu minggu. Berikut ini merupakan penjelasan beberapa sejarawan terkait dengan peristiwa tersebut:

Fulk of Chartes, salah satu saksi sejarah dan penulis kisah Perang Salib I menjelaskan, “Banyak yang melarikan diri ke atap Kuil Sulaiman, dan mereka dipanah hingga jatuh ke tanah dan mati. Di tempat ini hampir sepuluh ribu orang yang terbunuh. Sungguh, jika kalian berada di sana kalian akan melihat kaki-kaki kami berwarna (merah) hingga ke lutut disebabkan darah korban. Tapi seperti apa lagi saya akan menjelaskannya? Tak satu pun dari mereka yang dibiarkan hidup; tak satu pun perempuan dan anak-anak yang disisakan....”

Ibn al-Athir dalam kitab Tarikh-nya menulis, “Di Masjid al-Aqsa orang-orang Frank membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang, sebagian besar dari mereka adalah para imam, ulama, orang-orang shaleh dan para sufi serta kaum Muslimin yang meninggalkan negeri tempat tinggal mereka dan datang untuk menjalani kehidupan yang shaleh pada bulan Agustus/ Ramadhan ini.”

“… tak ada usia ataupun jenis kelamin yang selamat dari amukan mereka,” kata Edward Gibbon dalam History of the Decline And Fall of the Roman Empire. “Mereka melakukan pembantaian selama tiga hari tanpa memilah atau memilih (siapa yang layak dibunuh dan siapa yang tidak)…. Setelah tujuh puluh ribu Muslim dibunuh, dan orang-orang Yahudi yang tak berbahaya dibakar di dalam sinagog mereka, mereka masih memiliki sisa tawanan yang sangat banyak....”
Sementara itu Joseph Francois Michaud, seorang Sejarawan Prancis, menulis dalam bukunya yang dikenal sebagai Michaud’s History of the Crusade, “Tak satu pun air mata kaum perempuan maupun jeritan tangis anak-anak, bahkan tak juga pemandangan atas tempat di mana Yesus telah memaafkan orang-orang yang mengeksekusinya (dahulu), mampu melembutkan hati para penakluk yang sedang marah ini.”

Semua itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan apa yang telah terjadi di al-Quds pada masa itu. Dan pasukan Salib yang telah melumuri tangannya dengan darah banyak manusia ini tidak menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai sesuatu yang buruk atau kedzaliman yang besar. Seolah semuanya biasa saja. “Setelah itu,” kata Fulk of Chartes, “semuanya, para pendeta dan orang-orang biasa, pergi ke Gereja Makam Tuhan (the Sepulcher of the Lord) dan kuilnya yang suci, sambil menyanyikan kidung (gereja) yang kesembilan.”

Kaum Muslimin tidak melakukan hal semacam ini ketika mereka menaklukkan al-Quds dan Palestina pada masa Umar ibn al-Khattab. Penduduk Kristen dan Yahudi di kota itu diperlakukan dengan baik oleh kaum Muslimin sepanjang kota dan wilayah itu dikendalikan oleh kaum Muslimin. Kelak ketika al-Quds direbut kembali oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187, beliau juga memperlakukan penduduk non-Muslim di kota itu dengan baik. Tidak ada balas dendam atau pembantaian yang dilakukan atas penduduk non-Muslim di sana. Sebaliknya, jatuhnya al-Quds pada tahun 1099 ke tangan pasukan Salib benar-benar merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang besar.

Ketika kota itu jatuh ke tangan pasukan Salib, kaum Muslimin bukanlah bangsa yang lemah. Sebetulnya mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menahan serangan lawan. Hanya saja para pemimpin mereka sibuk mempertahankan kekuasaan masing-masing dan banyak ulamanya dilenakan dengan perselisihan madzhab. Masyarakat yang terdzalimi dan terancam kehidupannya tidak tahu kemana mereka mesti mengadu.

Kira-kira satu bulan kemudian, pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan pertengahan Agustus 1099, serombongan masyarakat berangkat dari Damaskus menuju Baghdad, dipimpin oleh Qadi kota Damaskus, Abu Sa’ad al-Harawi. Sesampainya di Baghadad, al-Harawi melakukan sebuah tindakan provokatif untuk memancing emosi kaum Muslimin. Ketika itu hari Jum’at, 19 Agustus 1099, menjelang tengah hari. Orang-orang berbondong-bondong menuju Masjid Jami’ kota Baghdad.

Al-Harawi sengaja duduk di dekat masjid, di tempat yang bisa dilihat oleh banyak orang. Dan dia makan di tempat umum tersebut, ketika semua orang sedang berpuasa. Hal semacam ini jika dilakukan pada hari ini di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim tetapi secara resmi berpaham sekuler, tentu akan tetap menimbulkan kemarahan orang banyak. Apalagi jika ia dilakukan di Baghdad, di pusat kekhalifahan Islam, pada masa itu. Al-Harawi sebagai seorang musafir tentu dibolehkan tidak berpuasa, tetapi orang-orang tidak mengetahui hal ini, dan makan di tempat terbuka di siang hari pada bulan Ramadhan merupakan sebuah pelanggaran etika sosial yang dipandang cukup serius.

Maka orang-orang pun mengerumuni al-Harawi. Mereka menegur dan marah kepadanya. Tapi al-Harawi tetap melanjutkan makannya dengan tenang. Tak lama kemudian petugas keamanan yang berada di dekat situ mulai datang ke tempat itu. Pada saat itulah al-Harawi bangkit berdiri di tengah kerumunan orang ramai. Dengan kemampuan orasinya yang bagus ia bertanya kepada khalayak ramai, bagaimana mungkin mereka bisa begitu peduli dengan pelanggaran puasa di bulan Ramadhan, tetapi pada saat yang sama mereka nyaris tidak peduli dengan pelanggaran dan pertumpahan darah yang menimpa saudara-saudara mereka di al-Quds dan sekitarnya? Bagaimana mereka bisa tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa di sana? Ia memberikan orasi, menceritakan apa yang telah terjadi, dan membacakan syair-syair yang menyentuh, sehingga semua orang menjadi tertegun dan menangis karenanya.

Al-Harawi dan rombongannya kemudian pergi menemui Khalifah di istananya. Khalifah dan orang-orang dekatnya menerima rombongan ini, mendengarkan kisah dan ekspresi kesedihan mereka, sehingga ikut menangis juga saat mendengar semua itu. Tapi masalahnya, khalifah pada masa itu tidak memiliki kekuasaan yang riil untuk membantu kaum Muslimin di Syria dan Palestina. Tidak ada tindakan nyata yang diambil setelah itu. Maka orasi dan protes al-Harawi dan rombongannya hanya berujung pada tangisan manusia, atau mungkin juga doa dari mereka, tidak lebih dari itu.

Demikianlah nasib al-Quds ketika itu. Ia jatuh ke tangan pasukan Salib dan dikusai oleh mereka selama hampir satu abad. Kota ini perlu menunggu waktu yang cukup lama sebelum muncul kekuatan baru di Syria yang siap dan mampu untuk membebaskannya.

Kini al-Quds pun telah sekian dekade dikuasai oleh zionis. Kaum zionis ini pun banyak melakukan pembunuhan dan perilaku keji terhadap rakyat sipil yang ada di Palestina. Dan Muslim pada hari ini tidak memiliki kemampuan untuk membebaskannya. Mereka lemah dan sibuk memperlemah diri sendiri. Seolah-olah kelemahan yang ada belum mencukupi bagi mereka. Banyak dari Muslim hari ini pun mungkin hanya sanggup berdoa dan menangis saat mendengar apa yang terjadi di Palestina, ataupun di bumi-bumi Muslim yang lain. Bahkan mungkin banyak dari mereka yang tak peduli. “Toh mereka bukan saudara atau kawan saya,” gumam sebagian mereka, sambil sibuk mengirim dukungan SMS untuk salah satu kontestan Indonesian Idol atau sambil terkagum-kagum membolak-balik halaman buku yang ditulis oleh Irshad Manji.

Sejarah memang sering berulang. Dan seolah-olah syair yang ditulis oleh seorang penyair pada masa itu, sebagai respons atas kejatuhan al-Quds, kembali bergema pada hari ini:
“Putra-putra Islam, di belakangmu ada pertempuran yang di dalamnya kepala-kepala menggelinding di antara kakimu

Beraninya kalian tidur-tiduran di balik bayang-bayang keamanan, dalam hidup yang lembek seperti bunga-bungaan di taman?

Bagaimana mungkin mata dapat tertidur di balik pelupuknya di saat terjadi bencana yang akan membangkitkan setiap orang yang tidur?

Sementara saudara-saudara kalian di Suriah hanya dapat tidur di atas hewan-hewan tunggangan, atau di dalam perut burung-burung pemakan bangkai!”
Dan, seorang seorang penyair lainnya menulis bait yang menusuk ini:
“Tidakkah kalian berhutang kepada Allah dan Islam, untuk membela anak muda dan orang tua?

Jawablah kepada Tuhan! Terkutuklah kalian! Jawab!!!”
Ya Allah, mungkin keadaan kami pada hari ini memang sudah demikian buruknya. Entah bagaimana kami akan menjawabnya ….*/Singapura, 26 Sya’ban 1433/ 16 Juli 2012

Oleh Alwi Alatas
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia



Wednesday, July 18, 2012

Khalid bin Walid : Hidayah yang Berbuah


Dalam sejarah Islam terkenal sebuah nama Khalid bin Walid. Sebelum Islam dia adalah panglima perang kafir Quraisy Mekkah yang cerdik dan kuat. Dialah panglima perang yang membalik keadaan pada perang Uhud sehingga dapat memporakporandakan barisan pasukan Islam, hingga Nabi Muhammad saw nyaris terbunuh.

Namun setelah melakukan dialog dengan dirinya dan perenungan mendalam, dia memutuskan untuk  berangkat ke Madinah menyatakan syahadat Islam dan baiat kepada Rasulullah SAW.
Setelah masuk Islam Khalid bin Walid terlibat dalam berbagai pertempuran melawan berbagai golongan yang menentang Islam seperti kaum murtad yang dipimpin Musailamah al Kadzab. Dan akhirnya khalifah Abu Bakar menjatuhkan pilihannya kepada Khalid sebagai panglima untuk menaklukkan Irak yang dikenal dengan imperium Persia dan terus berlanjut pada penaklukan Romawi.

Pada perang Yarmuk dekat sebelum pertempuran berlangsung, panglima Romawi meminta Khalid untuk tampil ke depan, karena ia ingin berbicara dengannya. Muncullah Khalid hingga kedua mereka berhadap-hadapan di atas punggung kuda masing-masing, yakni pada lapangan kosong di antara kedua pasukan besar.

Panglima pasukan Romawi yang bernama Mahan berkata :
Kami mengetahui, bahwa yang mendorong kalian ke luar dari negeri kalian tak lain hanyalah kelaparan dan kesulitan....Jika kalian setuju, saya beri masing-masing kalian 10 Dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Di tahun yang akan datang saya kirimkan sebanyak itu pula...!

Mendengar itu bukan main marahnya Khalid, tapi ditahannya, sambil mengertakkan gigi; ia menganggap suatu kekurangajaran dalam kata-kata panglima Romawi itu.....,lalu diputuskannya akan menjawabnya dengan kata-kata yang sesuai, maka berucaplah ia :

Bahwa yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang Anda sebutkan tadi, tetapi kami adalah satu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami tahu benar, bahwa tak ada darah yang lebih manis dan lebih baik dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!”

Siapa yang tidak  bergidik mendengar jawaban panglima Khalid, tentu ini sebentuk psy war yang dilontarkan oleh seorang panglima Khalid. Terlebih lagi Khalid bin Walid adalah seorang anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan perang, demikian pula kehidupannya.

Dalam perang itu pasukan Islam dapat mengalahkan Romawi walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit, seperti dalam satu babak, Khalid mengerahkan 100 orang pasukannya menembus sayap kiri pasukan Romawi yang berjumlah 40 ribu orang dan berhasil menang. Tentu tidak masuk akal, namun apabila melihat profil mereka dan para pemimpinnya hal ini tidaklah mustahil.

Perang dalam Islam bukanlah untuk membalas dendam atau melakukan kezaliman, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membebaskan manusia dari perbudakan dan penganiayaan.
Rakyat di Persia dan Romawi  mengalami derita karena mengalami perbudakan dan penyiksaan dari raja Persia dan Romawi. Bandingkan dengan peringatan keras dari Khalid kepada seluruh anggota pasukannya setiap kali akan berangkat :

“Janganlah kalian sakiti para petani, biarkanlah mereka bekerja dengan aman, kecuali bila ada yang hendak menyerang kalian. Perangilah orang yang memerangi kalian.” 

Islam juga melarang membunuh wanita, orang tua dan anak-anak dalam perang.  Nabi saw telah memerintahkan untuk menghindari membunuh orang tua, seperi diriwayatkan oleh Burdah bahwa Rasulullah saw memerintahkan seorang memimpin bala tentara atau batalyon. Beliau memberikan wasiat khusus supaya bertakwa kepada Allah juga kaum muslimin dengan kebaikan.” Abu Dawud meriwayatkan Rasulullah saw bersabda,”Jangan membunuh orang yang tua renta, begitu pula dengan bayi, anak kecil, tidak pula para wanita...”

sumber :
1.Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah , Khalid Muhammad Khalid (CV Diponegoro, 1999)
2.Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia , Raghib As-Sirjani (Pustaka Al Kautsar, 2011)