www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, October 27, 2026

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.145, Risiko Fiskal dan Dolar AS Menambah Tekanan jelang FOMC


USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.145, Risiko Fiskal dan Dolar AS Menambah Tekanan jelang FOMC


  • Kurs Rupiah melemah 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS, melanjutkan penurunan selama dua sesi berturut-turut.
  • Tekanan jual asing di pasar obligasi dan kekhawatiran fiskal akibat tingginya harga minyak masih membebani Rupiah, meski BI mempertahankan intervensinya.
  • Dolar AS menguat mendekati level tertinggi dua pekan menjelang keputusan The Fed, sementara pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga pada Desember.

Rupiah Indonesia (IDR) belum berhasil melepaskan diri dari tekanan dalam dua hari perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda kembali terkikis 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Selasa (27/10), melanjutkan pelemahan dari posisi Rp18.110 pada Senin. Secara kumulatif, Rupiah telah kehilangan 105 poin atau sekitar 0,58% sejak penutupan Jumat di Rp18.040. Kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia, berlanjutnya arus modal asing keluar dari pasar saham, serta penguatan Dolar AS menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pergerakan nilai tukar.

Pelemahan Rupiah terjadi saat pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,45% pada Senin, sementara investor asing tercatat melepas surat utang Indonesia senilai bersih US$203 juta pada 21 Oktober. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menggelar lelang sembilan seri SUN pada Selasa dengan target indikatif Rp30 triliun dan maksimal Rp45 triliun. Permintaan investor serta imbal hasil lelang menjadi indikator penting untuk menilai daya tarik aset berdenominasi Rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar.

Harga Minyak Tinggi Memperbesar Risiko Fiskal Indonesia


USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.145, Risiko Fiskal dan Dolar AS Menambah Tekanan jelang FOMC


  • Kurs Rupiah melemah 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS, melanjutkan penurunan selama dua sesi berturut-turut.
  • Tekanan jual asing di pasar obligasi dan kekhawatiran fiskal akibat tingginya harga minyak masih membebani Rupiah, meski BI mempertahankan intervensinya.
  • Dolar AS menguat mendekati level tertinggi dua pekan menjelang keputusan The Fed, sementara pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga pada Desember.

Rupiah Indonesia (IDR) belum berhasil melepaskan diri dari tekanan dalam dua hari perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda kembali terkikis 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Selasa (27/10), melanjutkan pelemahan dari posisi Rp18.110 pada Senin. Secara kumulatif, Rupiah telah kehilangan 105 poin atau sekitar 0,58% sejak penutupan Jumat di Rp18.040. Kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia, berlanjutnya arus modal asing keluar dari pasar saham, serta penguatan Dolar AS menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pergerakan nilai tukar.

Pelemahan Rupiah terjadi saat pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,45% pada Senin, sementara investor asing tercatat melepas surat utang Indonesia senilai bersih US$203 juta pada 21 Oktober. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menggelar lelang sembilan seri SUN pada Selasa dengan target indikatif Rp30 triliun dan maksimal Rp45 triliun. Permintaan investor serta imbal hasil lelang menjadi indikator penting untuk menilai daya tarik aset berdenominasi Rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar.

Harga Minyak Tinggi Memperbesar Risiko Fiskal Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia. Sebagai negara importir neto minyak, Indonesia mau tak mau harus menanggung risiko membengkaknya tagihan impor energi, beban subsidi, hingga dana kompensasi kepada Pertamina. Risiko tersebut muncul di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menyerap Rp153,2 triliun hingga September 2026. Pemerintah juga tengah mengkaji perluasan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi negeri, yang berpotensi menambah kebutuhan anggaran apabila direalisasikan. Kombinasi tingginya harga energi dan besarnya komitmen belanja pemerintah meningkatkan tantangan menjaga defisit APBN tetap terkendali.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap Rupiah, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Destry Damayanti pada Senin (26/10) menilai fluktuasi Rupiah terkini masih tergolong "volatilitas biasa" dan memastikan bank sentral tetap aktif melakukan intervensi sesuai kondisi pasar.

Dolar AS Menguat Menjelang The Fed, Risiko Pasokan Minyak Belum Mereda

Dari pasar global, harga minyak mentah masih bertahan tinggi meskipun upaya diplomasi Timur Tengah mulai menunjukkan perkembangan. Minyak Brent kembali menguat 0,6% menjadi US$116,6 per barel pada perdagangan Selasa, setelah sempat terkoreksi pada awal sesi, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,7% menjadi US$102,5. Pembicaraan antara Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran sempat membuka harapan meredanya konflik. Namun, serangan terbaru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz mempertahankan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Tingginya harga minyak juga memperbesar risiko inflasi AS, yang dapat mempertahankan ekspektasi pengetatan moneter The Fed.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) menguat mendekati 102,20 pada perdagangan Selasa, mencapai level tertinggi dalam hampir dua pekan. The Fed secara luas diprakirakan mempertahankan suku bunga pada akhir pertemuan kebijakan Rabu (28/10), tetapi pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan pada Desember akibat kekhawatiran inflasi energi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 81%. Karena itu, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan kebijakan serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh, sebelum beralih ke laporan awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal ketiga dan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) pada Kamis (29/10), yang berpotensi menentukan arah Dolar AS dan Rupiah selanjutnya.

USD/IDR Membidik Resistance Psikologis 18.200

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR memperkuat momentum bullish setelah menembus garis tren menurun yang terbentuk sejak Juni. Pasangan mata uang ini ditutup di level 18.145, melampaui tertinggi kemarin di 18.120. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) yang meningkat ke 74,19 menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), sehingga risiko koreksi teknis jangka pendek mulai meningkat meskipun momentum penguatan masih dominan.

Jika kenaikan berlanjut, USD/IDR berpeluang menguji resistance 18.180 (tertinggi 8 Juni), sebelum membidik level psikologis 18.200. Sebaliknya, koreksi awal dapat membawa pasangan mata uang ini kembali ke area support 18.090–18.075, disusul level psikologis 18.000. Penembusan di bawah area tersebut berpotensi membuka jalan menuju wilayah yang membasi pergerakan pekan lalu di 17.943, dengan batas bawah berikutnya di 17.860 (terendah 30 September). Selama bertahan di atas 18.000, bias pergerakan jangka pendek USD/IDR masih cenderung bullish.

Sumber : fxstreet-id.com



Internet Lumpuh Total, Layanan Bank dan Penerbangan Langsung Disetop



Foto: Ilustrasi Scam Hacker Virus. (Pexels)


Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan global hingga pemerintah di berbagai negara berpacu dengan waktu untuk menambal celah keamanan kritis (vulnerability) pada bahasa pemrograman PHP yang menopang sebagian besar ekosistem internet. Langkah darurat ini diambil setelah penyedia layanan cloud melaporkan lonjakan masif serangan peretasan tak lama setelah kerentanan tersebut diungkap ke publik.
Aksi cepat ini menyusul keputusan sejumlah pemerintah di Eropa dan kawasan lain yang memilih untuk mematikan (take offline) berbagai situs web resmi sebagai langkah pencegahan. Di saat yang sama, para pengelola situs web terus berjuang keras mengamankan sistem yang menggunakan perangkat lunak tersebut.

Penutupan mendadak pada layanan perbankan, maskapai penerbangan, kereta api, sistem perpajakan, hingga layanan publik dari Tokyo hingga Helsinki menjadi salah satu ujian paling krusial bagi fondasi pemrograman berusia puluhan tahun ini. Fenomena ini sekaligus menyingkap betapa besarnya ketergantungan pemerintah dan raksasa bisnis dunia pada kode digital yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

"Saya belum pernah melihat peristiwa seperti ini dalam waktu yang sangat, sangat lama," ujar CEO Microsoft Satya Nadella dalam sebuah acara di Jerman, dikutip dari Reuters, Senin (26/10/2026). Ia menegaskan bahwa insiden ini menjadi peringatan keras akan pentingnya membangun perangkat lunak yang dapat dipelihara secara aman di tengah sistem yang makin kompleks.

"Ini adalah hari dan malam yang sangat panjang bagi seluruh tim IT dan keamanan siber di luar sana."

PHP Jadi Fondasi Internet Mirip HTML dan Python

Para pengembang PHP, bahasa pemrograman utama yang setara dengan HTML dan Python, telah merilis perbaikan (patch) untuk menambal celah keamanan yang tersembunyi selama bertahun-tahun sebelum akhirnya terdeteksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pengembang mendesak seluruh pengguna untuk segera melakukan pembaruan sistem.

Co-founder perusahaan keamanan siber asal Belgia Aikido Security, Madeline Lawrence, mengungkapkan bahwa perincian celah keamanan tersebut terlanjur bocor ke publik sebelum perbaikannya siap diimplementasikan. Dampaknya, gelombang serangan siber langsung terjadi.

"Perusahaan-perusahaan kini berlomba memperbarui sistem demi menahan peretas yang memanfaatkan AI untuk mengeksploitasi celah tersebut. Ini adalah pertarungan kecepatan," tegas Madeline.

Seiring langkah pencegahan yang diambil korporasi dan pemerintah, upaya peretasan dilaporkan melonjak hingga jutaan kali. Raksasa layanan cloud Cloudflare dan Amazon Web Services (AWS) mengonfirmasi lonjakan fantastis tersebut.

"Dalam 10 jam sebelum diumumkan secara resmi, kami mendeteksi ribuan upaya eksploitasi di seluruh jaringan," ungkap CEO Cloudflare Matthew Prince melalui unggahannya di platform X.

"Angka itu melonjak menjadi puluhan ribu hanya dalam 45 menit pascapengumuman, menembus ratusan ribu dalam 2 jam, dan kini sudah mencapai jutaan serangan."

Dampak Sistemis dari Jepang hingga Finlandia
Dampak guncangan siber ini terasa kuat di Asia. Sejumlah raksasa korporasi Jepang mulai dari perusahaan pialang Nomura, raksasa perbankan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), maskapai ANA, hingga operator kereta East Japan Railway terpaksa menghentikan sementara beberapa layanan internet mereka.

Langkah serupa diambil produsen bir Asahi Group Holdings yang menghentikan sementara operasional situs web tertentu guna melakukan penilaian dampak keamanan. Perusahaan asuransi Tokio Marine Holdings juga turut menangguhkan situs web utamanya.

Tak hanya sektor swasta, Kementerian Keuangan, Badan Meteorologi, hingga Badan Pajak Nasional Jepang mematikan sebagian layanan online mereka demi menerapkan standar keselamatan siber. Penutupan massal ini mencerminkan kekhawatiran tinggi Tokyo, terlebih TrendAI mencatat jumlah insiden siber di Jepang dalam 9 bulan pertama tahun ini telah melampaui total kasus sepanjang tahun lalu.

Guncangan juga menjangkau Eropa. Raksasa telekomunikasi Prancis, Orange, menangguhkan akses ke sejumlah aplikasi dan situs web berbasis PHP di beberapa anak perusahaannya. Sementara di Finlandia, penyedia layanan IT pemerintah Valtori terus bekerja nonstop menginstal perbaikan keamanan setelah sempat mematikan seluruh layanan web publik pemerintah.

"Memulihkan layanan bisa memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Selain pembaruan patch, seluruh sistem harus diuji secara ketat," jelas Direktur Jenderal Valtori Hannu Naumanen.

Pemulihan Diproyeksi Memakan Waktu Berminggu-minggu
Merespons ancaman yang makin nyata, otoritas di berbagai negara Asia langsung menginstruksikan inspeksi keamanan siber secara menyeluruh.

Kementerian Industri Tiongkok mendesak seluruh organisasi dan pengguna untuk menginspeksi sistem mereka dan segera melakukan pembaruan ke versi PHP teraman. Beijing juga menyarankan peningkatan pemantauan siber serta perombakan kata sandi dan kunci akses akun secara berkala.

Sementara itu, Pemerintah Korea Selatan resmi menaikkan tingkat waspada keamanan siber sektor swasta ke posisi siaga dan mengaktifkan protokol tanggap darurat guna mengantisipasi potensi serangan susulan.

Kepala Keamanan Asosiasi Industri Digital Jerman (Bitkom), Felix Kuhlenkamp, menilai bahwa meski korporasi besar relatif cepat melakukan perbaikan, proses pemulihan bagi organisasi kecil dan sistem IT yang kompleks akan memakan waktu jauh lebih lama.

"Banyak yang menjalankan situs web berbasis PHP tetapi tidak benar-benar mengawasinya secara aktif. Jika situs tersebut masih menggunakan versi PHP lama yang sudah tidak didukung perbaikan keamanan, maka seluruh sistemnya harus diperbarui dari nol," pungkas Felix.
(fab/feb)

Sumber : cnbcindonesia.com









Wednesday, October 7, 2026

Gold to hit $5,000, silver $97 in the next 12 months - LBMA delegate survey

Krisis energi yang masih terus berlangsung, inflasi berkelanjutan, dan meningkatnya bagi hasil obligasi sebagai indikasi awal kenaikan kembali emas dan perak.

Berdasarkan hasil konferensi LBMA tahun 2026 menunjukkan bahwa meluasnya diversifikasi cadangan devisa Bank sentral di dunia , fragmentasi geopolitik internasional membentuk fondasi baru bagi sistem moneter global seiring meningkatnya utang negara menimbulkan tanda tanya keamanan obligasi negara .

Menurut Konferensi tsb bahwa harga emas akan kembali mencapai $5.013 pada hari ini di tahun 2027 atau sekitar kenaikan 20% dibanding angka sekarang. Harga emas saat ini adalah $ 4.163/Oz.

Saya pikir, emas mengirim pesan kepada kita bahwa mungkin. utang global mencapai kondisi abnormal dimana suplay uang kertas mungkin melampaui permintaan, menurut think, Vikam Diwan head of Commodities and Fund Manager at Nippon India Mutual Fund during a panel discussion.

Permintaan emas Bank Sentral adalah tema utama yang lain dimana eksekutif bank sentral melihat emas bukan hanya sekedar lindung nilai dari inflasi dan risiko geopolitik.

Hasil dari survey UBS Management Asset menjelaskan bahwa 65% responden menyatakan bahwa diversifikasi adalah alasan utama cadangan emas 










Thursday, September 10, 2026

Emas tembus $15.000 per oz? Mimpi, Prediksi, atau Peringatan



Tidak perlu menunggu krisis moneter agar harga emas naik signifikan 

Untuk mencapai angka US$15.000/Oz tidak mesti dipicu oleh krisis moneter yang yang luar biasa.

Beberapa faktor di bawah ini akan menjadi pemicu kenaikan harga hingga US$ 15.000 :
  • Utang pemerintah terus bertambah.
  • Inflasi tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum tahun 2020 secara terstruktur.
  • Proporsi biaya bunga makin tinggi terhadap pendapatan pemerintah.
  • Bank sentral tetap melakukan diversifikasi cadangan devisa.
  • Obligasi pemerintah kehilangan status  Safe Haven nya.
  • Aliansi geopolitik semakin terfragmentasi.
  • Investor perorangan mulai beralih ke emas  mengikuti Bank Sentral.
Tidak satupun dari faktor di atas memerlukan jatuhnya sistem finansial. Perjalanan hingga mencapai $15.000 terjadi secara rangkaian kenaikan emas secara stabil.


Faktor pertama  
Utang tanpa Solusi Politik

Utang federal pemerintah AS saat ini telah lebih dari USD 40 Triliun. Masalahnya bukan pada besarnya angka tsb, tetapi pada cara pemerintah dalam mengatasi utang tsb. Alih-alih mengurangi utang tapi terus berkembang dari waktu ke waktu.

Pemerintah biasanya  mengurangi utang dengan cara menaikkan pajak, memotong anggaran belanja, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi.

Proyeksi utang pemerintah yang dikeluarkan IMF per April 2026, menyatakan utang pemerintah AS terhadap GDP akan mencapai 100% pada 2029. Ini bukan hanya masalah AS namun gambaran sistem keuangan secara global.

Fakor kedua 
Obligasi pemerintah tidak sepenuhnya aman

Selama beberapa dekade obligasi pemerintah menempati pusat sistem keuangan yang menawarkan return, likuiditas dan aset yang akan memproteksi investasi selama periode tertentu.

Situasi akan berubah ketika utang dan inflasi naik secara bersamaan.

Inflasi yang meningkat memerlukan imbal hasil yang lebih tinggi, imbal hasil yang lebih tinggi memicu kenaikan biaya utang.Kenaikan biaya utang memicu defisit, sehingga memicu utang yang lebih tinggi.


Faktor ketiga
Akumulasi cadangan emas Bank Sentral 

Mengacu pada laporan World Gold Council tahun 2026, bank-bank sentral dunia menambah hampir 1.000 ton cadangan emasnya setiap tahun dalam empat tahun terakhir.

Hasil survey sejumlah bank sentral:
  • Sejumlah 89% cadangan emas bank-bank sentral dunia diprediksi akan bertambah dalam 12 bulan ke depan.
  • Sejumlah 45% berharap institusi mereka  menaikkan cadangan emasnya.
  • 74% memperkirakan peredaran mata uang Dollar AS akan menurun dalam 5 tahun ke depan.



Faktor keempat 
Emas akan kembali menjadi mata Uang

Kebanyakan investor barat menganggap emas adalah komoditas- sesuatu yang dapat diperjualbelikan seperti minyak, tembaga, dan gandum.

Komoditas bisa dikonsumsi, sedangan emas tidak, bahkan terus terakumulasi.

Emas ditambang (dari perut bumi), dimurnikan, dan disimpan karena selama ribuan tahun mereka telah mengenal logam yang  pemerintah tidak mampu memproduksinya, yang sifatnya yang langka , tahan lama, dan mudah dibawa.

Dalam hal ini perbedaan antara uang dan alat tukar menjadi penting.

Alat tukar adalah satuan nilai yang di tentukan oleh pemerintah sehingga bisa dibelanjakan, dipinjamkan, dan dikenakan pajak. Emas adalah aset yang menjadi anti tesa dari alat-alat tukar yang terukur tsb.
















Wednesday, September 9, 2026

Bank Sentral Cina membeli 20,2 ton Emas di bulan Agustus terbesar sejak 2023

Bank Rakyat Cina membeli 20,2 metric ton emas  sepanjang Agustus lalu, belanja bulanan emas terbesar sejak 2023. State Administration of Foreign Exchange (SAFE) mengumumkan Senin (07/09) lalu.

Pembelian  tsb menambah total cadangan emas Cina menjadi 2.387 ton. Menjadikannya selama 22 bulan berturut-turut menambah cadangan emasnya atau akumulasi sekitar 80 ton selama 8 bulan pertama tahun ini.

Pembelian emas yang signifikan lainnya di bulan Juli lalu  adalah Bank Nasional Ceko sejumlah  2 ton emas atau  berturut-turut selama 41 bulan, sementara Bank Nasional Kazakhstan, Bank Negara Malaysia, dan Bank Sentral Bolivia masing-masing membeli 1 ton. Cadangan emas Kazakhstan sendiri saat ini adalah 75% dari total cadangan devisa.

Namun rekor pembelian emas tahun ini adalah Polandia, yang sejauh ini (sepanjang 2026) telah membeli 90 ton emas. Akumulasi cadangan emas Bank Sentral Polandia adalah 640 ton, dari target tahun ini sejumlah 700 ton atau 28% dari total cadangan devisanya.

Sementara itu pembelian emas Cina Agustus lalu menjadikannya peringkat ke 6 dunia dalam cadangan emas.

Sumber : Ernest Hoffman, kitco.com