www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Thursday, September 10, 2026

Emas tembus $15.000 per oz? Mimpi, Prediksi, atau Peringatan



Tidak perlu menunggu krisis moneter agar harga emas naik signifikan 

Untuk mencapai angka US$15.000/Oz tidak mesti dipicu oleh krisis moneter yang yang luar biasa.

Beberapa faktor di bawah ini akan menjadi pemicu kenaikan harga hingga US$ 15.000 :
  • Utang pemerintah terus bertambah.
  • Inflasi tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum tahun 2020 secara terstruktur.
  • Proporsi biaya bunga makin tinggi terhadap pendapatan pemerintah.
  • Bank sentral tetap melakukan diversifikasi cadangan devisa.
  • Obligasi pemerintah kehilangan status  Safe Haven nya.
  • Aliansi geopolitik semakin terfragmentasi.
  • Investor perorangan mulai beralih ke emas  mengikuti Bank Sentral.
Tidak satupun dari faktor di atas memerlukan jatuhnya sistem finansial. Perjalanan hingga mencapai $15.000 terjadi secara rangkaian kenaikan emas secara stabil.


Faktor pertama  
Utang tanpa Solusi Politik

Utang federal pemerintah AS saat ini telah lebih dari USD 40 Triliun. Masalahnya bukan pada besarnya angka tsb, tetapi pada cara pemerintah dalam mengatasi utang tsb. Alih-alih mengurangi utang tapi terus berkembang dari waktu ke waktu.

Pemerintah biasanya  mengurangi utang dengan cara menaikkan pajak, memotong anggaran belanja, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi.

Proyeksi utang pemerintah yang dikeluarkan IMF per April 2026, menyatakan utang pemerintah AS terhadap GDP akan mencapai 100% pada 2029. Ini bukan hanya masalah AS namun gambaran sistem keuangan secara global.

Fakor kedua 
Obligasi pemerintah tidak sepenuhnya aman

Selama beberapa dekade obligasi pemerintah menempati pusat sistem keuangan yang menawarkan return, likuiditas dan aset yang akan memproteksi investasi selama periode tertentu.

Situasi akan berubah ketika utang dan inflasi naik secara bersamaan.

Inflasi yang meningkat memerlukan imbal hasil yang lebih tinggi, imbal hasil yang lebih tinggi memicu kenaikan biaya utang.Kenaikan biaya utang memicu defisit, sehingga memicu utang yang lebih tinggi.


Faktor ketiga
Akumulasi cadangan emas Bank Sentral 

Mengacu pada laporan World Gold Council tahun 2026, bank-bank sentral dunia menambah hampir 1.000 ton cadangan emasnya setiap tahun dalam empat tahun terakhir.

Hasil survey sejumlah bank sentral:
  • Sejumlah 89% cadangan emas bank-bank sentral dunia diprediksi akan bertambah dalam 12 bulan ke depan.
  • Sejumlah 45% berharap institusi mereka  menaikkan cadangan emasnya.
  • 74% memperkirakan peredaran mata uang Dollar AS akan menurun dalam 5 tahun ke depan.



Faktor keempat 
Emas akan kembali menjadi mata Uang

Kebanyakan investor barat menganggap emas adalah komoditas- sesuatu yang dapat diperjualbelikan seperti minyak, tembaga, dan gandum.

Komoditas bisa dikonsumsi, sedangan emas tidak, bahkan terus terakumulasi.

Emas ditambang (dari perut bumi), dimurnikan, dan disimpan karena selama ribuan tahun mereka telah mengenal logam yang  pemerintah tidak mampu memproduksinya, yang sifatnya yang langka , tahan lama, dan mudah dibawa.

Dalam hal ini perbedaan antara uang dan alat tukar menjadi penting.

Alat tukar adalah satuan nilai yang di tentukan oleh pemerintah sehingga bisa dibelanjakan, dipinjamkan, dan dikenakan pajak. Emas adalah aset yang menjadi anti tesa dari alat-alat tukar yang terukur tsb.
















Wednesday, September 9, 2026

Bank Sentral Cina membeli 20,2 ton Emas di bulan Agustus terbesar sejak 2023

Bank Rakyat Cina membeli 20,2 metric ton emas  sepanjang Agustus lalu, belanja bulanan emas terbesar sejak 2023. State Administration of Foreign Exchange (SAFE) mengumumkan Senin (07/09) lalu.

Pembelian  tsb menambah total cadangan emas Cina menjadi 2.387 ton. Menjadikannya selama 22 bulan berturut-turut menambah cadangan emasnya atau akumulasi sekitar 80 ton selama 8 bulan pertama tahun ini.

Pembelian emas yang signifikan lainnya di bulan Juli lalu  adalah Bank Nasional Ceko sejumlah  2 ton emas atau  berturut-turut selama 41 bulan, sementara Bank Nasional Kazakhstan, Bank Negara Malaysia, dan Bank Sentral Bolivia masing-masing membeli 1 ton. Cadangan emas Kazakhstan sendiri saat ini adalah 75% dari total cadangan devisa.

Namun rekor pembelian emas tahun ini adalah Polandia, yang sejauh ini (sepanjang 2026) telah membeli 90 ton emas. Akumulasi cadangan emas Bank Sentral Polandia adalah 640 ton, dari target tahun ini sejumlah 700 ton atau 28% dari total cadangan devisanya.

Sementara itu pembelian emas Cina Agustus lalu menjadikannya peringkat ke 6 dunia dalam cadangan emas.

Sumber : Ernest Hoffman, kitco.com












Belanda Pindahkan Cadangan Emas ke London

Bank sentral Belanda (DNB) mengonfirmasi bahwa emas senilai miliaran dolar telah dipindahkan dari Amerika Utara ke London, dengan alasan adanya "peningkatan gejolak geopolitik".

Dalam pernyataan pada Rabu, DNB mengatakan sebanyak 86 ton emas telah dipindahkan dari Amerika Serikat dan Kanada melalui operasi kompleks yang memakan waktu beberapa bulan.

Kini, emas tersebut disimpan di Bank of England, tempat logam mulia itu dapat diperjualbelikan dengan lebih mudah "dalam situasi krisis".

Presiden DNB, Olaf Sleijpen, mengatakan langkah tersebut "diperlukan untuk memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan kami".

Keputusan itu diambil di tengah sengketa perdagangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Kanada.

Kedua negara baru-baru ini mengumumkan tarif baru terhadap satu sama lain setelah perundingan dagang gagal mencapai kesepakatan.

Bank Sentral Belanda (DNB) mengatakan pemindahan tersebut, yang berlangsung antara Maret hingga Agustus, melibatkan pengangkutan 27 ton emas batangan dari New York dan Ottawa ke Zeist, Belanda.

Sejumlah emas dengan kuantitas dan kualitas yang sama kemudian dipindahkan ke London tanpa perlu dilebur ulang menjadi batangan baru.

Namun, otoritas tidak mengungkapkan secara rinci bagaimana emas dalam jumlah besar itu diangkut melintasi Samudra Atlantik.

Sisa proses pemindahan dilakukan melalui mekanisme penjualan emas di New York dan pembelian kembali emas di London, kata DNB.

"Dengan menggabungkan proses jual beli dan transportasi fisik, DNB dapat menyebarkan risiko yang terkait dengan pemindahan fisik emas yang kompleks seperti ini," demikian bunyi pernyataan bank tersebut.

DNB tidak menjelaskan secara spesifik apa yang dimaksud dengan "gejolak geopolitik" dalam pernyataannya.

Namun, perekonomian AS masih berada dalam situasi yang tidak menentu akibat perang yang sedang berlangsung dengan Iran, yang berdampak pada perdagangan global.

Sementara itu, Kanada juga terdampak berat oleh tarif AS terhadap sektor-sektor utama seperti baja, aluminium, kayu, dan otomotif.

Selain itu, Washington pada Agustus lalu mengumumkan pungutan tambahan sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai sekitar C$28 miliar (US$20 miliar; £15 miliar).

Menurut DNB, emas yang disimpan di Bank of England "dianggap sebagai emas yang paling mudah diperdagangkan di dunia", sehingga lebih mudah diakses dalam kondisi krisis dibandingkan jika tetap disimpan di AS atau Kanada.

Sebelum pengumuman pada Rabu, DNB menyimpan 31,3% cadangan emasnya di New York dan 19,7% di Ottawa.

Setelah pemindahan tersebut, porsi penyimpanan di masing-masing lokasi turun menjadi 18,5%.

DNB menyebut total cadangan emas Belanda mencapai 612,4 ton pada akhir 2025, dengan nilai sekitar €72,2 miliar.

Setelah relokasi ini, porsi cadangan emas Belanda yang disimpan di London meningkat dari 18,1% menjadi 32,1%, sementara 30,8% cadangan tetap berada di dalam negeri, di Belanda.

Sumber : bbc.com



Tuesday, February 3, 2026

Elon Musk: Utang tak terkendali, AS tinggal tunggu 'Day of Reckoning'

Beban utang Amerika Serikat yang terus membengkak hingga US$38,5 triliun kini kian sulit diabaikan. CEO Tesla Elon Musk, yang sempat mencoba memberantas pemborosan pemerintah awal tahun ini, kembali membunyikan alarm.

Dalam sebuah episode podcast The Joe Rogan Experience, seperti dikutip YahooFinance (1/2). Musk memaparkan pandangannya tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan untuk mengatasi krisis utang nasional Amerika.

“Kita bisa memperbaiki arahnya, tetapi pada akhirnya sistem ini tidak bisa sepenuhnya diperbaiki,” kata Musk.

“Kecuali jika Anda menerapkan langkah yang sangat kejam, sekelas Genghis Khan dalam memangkas pemborosan dan penipuan, yang jelas tidak mungkin dilakukan di negara yang secara ideal ingin tetap demokratis.  Maka tidak ada cara untuk menyelesaikan krisis utang ini.”

Musk menyebut kondisi utang tersebut sebagai sesuatu yang 'gila' dan data mendukung kekhawatirannya. Utang federal AS kini telah melampaui US$38,5 triliun dan terus meningkat.

Namun, yang mengkhawatirkan bukan hanya besarnya utang, melainkan juga cara pemerintah menanganinya.

Menurut Musk, yang benar-benar membunyikan lonceng bahaya bukan sekadar total utang, melainkan biaya untuk membayar bunganya.

“Pembayaran bunga atas utang kini melebihi seluruh anggaran militer Amerika. Itu salah satu momen yang menyadarkan saya, ini benar-benar gila,” ujarnya.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan pemerintah menghabiskan US$1,22 triliun untuk bunga bersih pada tahun fiskal 2025. Sebagai perbandingan, hanya dalam satu bulan pertama tahun fiskal 2026, biaya bunga sudah mencapai US$355 miliar. "Pemangkasan belanja saja tidak akan cukup," ujar Musk.

Dia melanjutkan, “Bahkan jika semua penghematan itu diterapkan, Anda hanya menunda 'the day of reckoning'  (hari penghakiman) ketika Amerika bangkrut,” katanya.

“Saya sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya cara untuk membawa Amerika keluar dari krisis utang dan mencegah kebangkrutan adalah melalui AI dan robotika. Kita harus menumbuhkan ekonomi dengan laju yang memungkinkan kita membayar utang tersebut.” (YS)


sumber: idnfinancials.com

Permintaan Emas Retail Tinggi di Singapura, Sydney, dan Thailand

Antrian panjang masih terjadi di Singapura (Senin 02/02) walaupun harga emas mengalami penurunan, memberi sinyal kuatnya permintaan retail emas logam mulia.

Di kantor pusat UOB Singapura, satun-satunya bank yang menawarkan emas fiisk untuk konsumen retail, klien dan pelanggan berkerumun di salah satu ruang transaksi.

" Saya datang untuk membeli karena harga turun hari ini." kata Ng Beng Choo, Pensiunan  berumur 70-an yang mengaku mendapat antrian jam 09.30 tapi harus menunggu hingga 6 jam lebih untuk panggilan.

Rally panjang kenaikan harga emas, berubah arah ketika Donald Trump melakukan negosiasi ulang serangan ke Iran, yang mengendurkan tensi geopolitik di kawasan Timteng.

Alih-alih menjual, banyak investor retail emas berusaha membeli emas dengan memanfaatkan celah turunnya harga emas, yang turun hingga $4.400 pada Senin. Hari ini $4.845 per oz.

Singapura sebagai hub finansial global, adalah  tempat populer pembelian emas karena negara tsb tidak mengenakan pajak terhadap investasi emas.

Di pusat kota Sydney antrian mengular hingga jalan di toko emas ABC Bullion dekat Martin Place.

" Saya kehilangan banyak uang pada Jumat, tapi besok adalah hari yang baru" kata Alex 20 tahun yang ikut antrian untuk membeli emas.

Pemicu kenaikan harga emas kemarin adalah ancaman serangan Trump ke Iran dan turunannya perdagangan Valas dimana investor menghindari Dollar dan surat utang. Optimisme ini dipicu oleh Deutsche Bank yang memprediksi emas akan tembus angka $6.000 per oz, dan Senin kemarin (01/02) Deutsche Bank tetap pada prediksinya.

Di Thailand dimana emas dan perhiasan adalah populer, konsumen tetap menahan emas dibanding menjualnya, kata Thanapisal Koohapremkit, CEO Thai Brokerage Globlex Securities .

" Saat ini masih trend beli di Thailand,” tambah Koohapremkit. “Mereka tetap pada posisi semula dan wait and see .”

Di UOB Singapura, sejumlah pembeli yang tidak dapat nomor antrian kecewa. Seluruh produk dari MKS PAMP, salah satu merek emas terkenal di sana habis, dan begitu juga sejumlah orang yang datang terlambat.

Sumber BLOOMBERG