Di kantor pusat UOB Singapura, satun-satunya bank yang menawarkan emas fiisk untuk konsumen retail, klien dan pelanggan berkerumun di salah satu ruang transaksi.
" Saya datang untuk membeli karena harga turun hari ini." kata Ng Beng Choo, Pensiunan berumur 70-an yang mengaku mendapat antrian jam 09.30 tapi harus menunggu hingga 6 jam lebih untuk panggilan.
Rally panjang kenaikan harga emas, berubah arah ketika Donald Trump melakukan negosiasi ulang serangan ke Iran, yang mengendurkan tensi geopolitik di kawasan Timteng.
Alih-alih menjual, banyak investor retail emas berusaha membeli emas dengan memanfaatkan celah turunnya harga emas, yang turun hingga $4.400 pada Senin. Hari ini $4.845 per oz.
Singapura sebagai hub finansial global, adalah tempat populer pembelian emas karena negara tsb tidak mengenakan pajak terhadap investasi emas.
Di pusat kota Sydney antrian mengular hingga jalan di toko emas ABC Bullion dekat Martin Place.
" Saya kehilangan banyak uang pada Jumat, tapi besok adalah hari yang baru" kata Alex 20 tahun yang ikut antrian untuk membeli emas.
Pemicu kenaikan harga emas kemarin adalah ancaman serangan Trump ke Iran dan turunannya perdagangan Valas dimana investor menghindari Dollar dan surat utang. Optimisme ini dipicu oleh Deutsche Bank yang memprediksi emas akan tembus angka $6.000 per oz, dan Senin kemarin (01/02) Deutsche Bank tetap pada prediksinya.
Di Thailand dimana emas dan perhiasan adalah populer, konsumen tetap menahan emas dibanding menjualnya, kata Thanapisal Koohapremkit, CEO Thai Brokerage Globlex Securities .
" Saat ini masih trend beli di Thailand,” tambah Koohapremkit. “Mereka tetap pada posisi semula dan wait and see .”
Di UOB Singapura, sejumlah pembeli yang tidak dapat nomor antrian kecewa. Seluruh produk dari MKS PAMP, salah satu merek emas terkenal di sana habis, dan begitu juga sejumlah orang yang datang terlambat.
Sumber BLOOMBERG
No comments:
Post a Comment