www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, February 3, 2026

Elon Musk: Utang tak terkendali, AS tinggal tunggu 'Day of Reckoning'

Beban utang Amerika Serikat yang terus membengkak hingga US$38,5 triliun kini kian sulit diabaikan. CEO Tesla Elon Musk, yang sempat mencoba memberantas pemborosan pemerintah awal tahun ini, kembali membunyikan alarm.

Dalam sebuah episode podcast The Joe Rogan Experience, seperti dikutip YahooFinance (1/2). Musk memaparkan pandangannya tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan untuk mengatasi krisis utang nasional Amerika.

“Kita bisa memperbaiki arahnya, tetapi pada akhirnya sistem ini tidak bisa sepenuhnya diperbaiki,” kata Musk.

“Kecuali jika Anda menerapkan langkah yang sangat kejam, sekelas Genghis Khan dalam memangkas pemborosan dan penipuan, yang jelas tidak mungkin dilakukan di negara yang secara ideal ingin tetap demokratis.  Maka tidak ada cara untuk menyelesaikan krisis utang ini.”

Musk menyebut kondisi utang tersebut sebagai sesuatu yang 'gila' dan data mendukung kekhawatirannya. Utang federal AS kini telah melampaui US$38,5 triliun dan terus meningkat.

Namun, yang mengkhawatirkan bukan hanya besarnya utang, melainkan juga cara pemerintah menanganinya.

Menurut Musk, yang benar-benar membunyikan lonceng bahaya bukan sekadar total utang, melainkan biaya untuk membayar bunganya.

“Pembayaran bunga atas utang kini melebihi seluruh anggaran militer Amerika. Itu salah satu momen yang menyadarkan saya, ini benar-benar gila,” ujarnya.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan pemerintah menghabiskan US$1,22 triliun untuk bunga bersih pada tahun fiskal 2025. Sebagai perbandingan, hanya dalam satu bulan pertama tahun fiskal 2026, biaya bunga sudah mencapai US$355 miliar. "Pemangkasan belanja saja tidak akan cukup," ujar Musk.

Dia melanjutkan, “Bahkan jika semua penghematan itu diterapkan, Anda hanya menunda 'the day of reckoning'  (hari penghakiman) ketika Amerika bangkrut,” katanya.

“Saya sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya cara untuk membawa Amerika keluar dari krisis utang dan mencegah kebangkrutan adalah melalui AI dan robotika. Kita harus menumbuhkan ekonomi dengan laju yang memungkinkan kita membayar utang tersebut.” (YS)


sumber: idnfinancials.com

Permintaan Emas Retail Tinggi di Singapura, Sydney, dan Thailand

Antrian panjang masih terjadi di Singapura (Senin 02/02) walaupun harga emas mengalami penurunan, memberi sinyal kuatnya permintaan retail emas logam mulia.

Di kantor pusat UOB Singapura, satun-satunya bank yang menawarkan emas fiisk untuk konsumen retail, klien dan pelanggan berkerumun di salah satu ruang transaksi.

" Saya datang untuk membeli karena harga turun hari ini." kata Ng Beng Choo, Pensiunan  berumur 70-an yang mengaku mendapat antrian jam 09.30 tapi harus menunggu hingga 6 jam lebih untuk panggilan.

Rally panjang kenaikan harga emas, berubah arah ketika Donald Trump melakukan negosiasi ulang serangan ke Iran, yang mengendurkan tensi geopolitik di kawasan Timteng.

Alih-alih menjual, banyak investor retail emas berusaha membeli emas dengan memanfaatkan celah turunnya harga emas, yang turun hingga $4.400 pada Senin. Hari ini $4.845 per oz.

Singapura sebagai hub finansial global, adalah  tempat populer pembelian emas karena negara tsb tidak mengenakan pajak terhadap investasi emas.

Di pusat kota Sydney antrian mengular hingga jalan di toko emas ABC Bullion dekat Martin Place.

" Saya kehilangan banyak uang pada Jumat, tapi besok adalah hari yang baru" kata Alex 20 tahun yang ikut antrian untuk membeli emas.

Pemicu kenaikan harga emas kemarin adalah ancaman serangan Trump ke Iran dan turunannya perdagangan Valas dimana investor menghindari Dollar dan surat utang. Optimisme ini dipicu oleh Deutsche Bank yang memprediksi emas akan tembus angka $6.000 per oz, dan Senin kemarin (01/02) Deutsche Bank tetap pada prediksinya.

Di Thailand dimana emas dan perhiasan adalah populer, konsumen tetap menahan emas dibanding menjualnya, kata Thanapisal Koohapremkit, CEO Thai Brokerage Globlex Securities .

" Saat ini masih trend beli di Thailand,” tambah Koohapremkit. “Mereka tetap pada posisi semula dan wait and see .”

Di UOB Singapura, sejumlah pembeli yang tidak dapat nomor antrian kecewa. Seluruh produk dari MKS PAMP, salah satu merek emas terkenal di sana habis, dan begitu juga sejumlah orang yang datang terlambat.

Sumber BLOOMBERG














Tuesday, January 27, 2026

Robert Kiyosaki Prediksi Harga Emas Tembus US$27.000

Influencer keuangan sekaligus penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menyuarakan pandangan bullish terhadap logam mulia. Terbaru, ia menyampaikan proyeksi harga emas yang sangat agresif di tengah reli harga yang terus berlanjut.

Dalam unggahan media sosial pada 26 Januari, Kiyosaki menyambut kenaikan harga emas yang telah menembus rekor baru di atas US$5.000 per ons. Ia bahkan menyebut logam mulia tersebut berada di jalur menuju target harga jangka panjang di level US$27.000 per ons.

Dalam unggahan lain di platform X, Kiyosaki menyoroti kinerja harga perak dalam jangka panjang. Ia mencatat bahwa harga perak saat ini berada di kisaran US$92 per ons, jauh meningkat dibandingkan tahun 1990 yang hanya sekitar US$5 per ons.

Menurut Kiyosaki, reli panjang tersebut menegaskan meningkatnya peran perak bukan hanya sebagai bahan industri penting, tetapi juga sebagai penyimpan nilai (store of value) dan alternatif alat tukar.

Ia bahkan memprediksi harga perak berpotensi mencapai US$200 per ons pada 2026.

"I am still calling for silver to hit $200 an ounce in 2026," ujarnya.

Kritik Kiyosaki terhadap Uang Fiat

Target harga emas dan perak yang disampaikan Kiyosaki tidak terlepas dari pandangannya yang konsisten mengkritik sistem mata uang fiat.

Ia berulang kali memperingatkan bahwa pemerintah mencetak apa yang ia sebut sebagai "uang palsu" (fake money), sementara inflasi terus menggerus nilai riil uang tunai yang disimpan di bank.

Dalam pandangannya, para penabung tradisional terjebak dalam situasi yang merugikan. Secara nominal, saldo tabungan memang terlihat meningkat, tetapi daya beli terus menurun dari tahun ke tahun.

Karena itu, Kiyosaki mendorong masyarakat untuk beralih dari dolar dan mata uang fiat ke aset seperti emas, perak yang menurutnya tidak dapat terdepresiasi nilainya dengan cara yang sama seperti uang kertas.

Pesan yang ingin ditegaskan Kiyosaki jelas: logam mulia bukan sekadar instrumen lindung nilai (hedging) dalam portofolio, melainkan solusi menghadapi masa depan sistem keuangan berbasis fiat yang dinilainya rentan terhadap kehancuran.

Sumber : kontan.co.id




Monday, October 27, 2025

Kekurangan Stok, Antam Klaim Serap Emas dari Penambang Lokal


Logo Bloomberg TechnozBloomberg Technoz, Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam mengklaim berupaya memenuhi stok emas perusahaan dengan mendiversifikasi sumber pasokan bahan baku dari produksi tambang emas perseroan hingga melakukan kerja sama jual-beli emas dari penambang dalam negeri.

Corporate Secretary Division Head Antam Wisnu Danandi Haryanto menjelaskan emas yang dibeli dari penambang domestik tersebut akan dimurnikan di fasilitas unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia Antam.

Langkah antisipatif tersebut juga dilakukan perusahaan sembari menunggu finalisasi rencana pemerintah menerapkan domestic market obligation (DMO) komoditas emas. Kebijakan itu, diwacanakan pemerintah demi menutup kekurangan pasokan emas Antam sebesar 30 ton per tahun.

Adapun, Antam sebenarnya telah memiliki perjanjian pembelian 30 ton emas per tahun dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Akan tetapi, tambang dan smelter Freeport sedang tidak beroperasi pascalongsor di Grasberg Block Cave (GBC) beberapa waktu lalu.

“Antam telah menyiapkan langkah antisipatif melalui diversifikasi sumber pasokan bahan baku, baik dari produksi tambang emas Antam sendiri maupun melalui kerja sama dengan sejumlah mitra penambang domestik,” kata Wisnu kepada Bloomberg Technoz, Kamis (23/10/2025).

Karyawan merapihkan Logam Mulia di Butik Emas Antam, Pulogadung, Jakarta, Selasa (15/4/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto

Optimalkan Buyback

Wisnu menyatakan perseroan akan terus mengoptimalkan program pembelian kembali atau buyback emas Antam dari masyarakat. Dia menyebut program tersebut turut membantu menjaga keseimbangan pasokan bahan baku di tengah dinamika yang terjadi.

Di sisi lain, Wisnu menegaskan perseroan terus mencermati perkembangan rencana penerapan DMO emas. Dia menyatakan, Antam mendukung program tersebut demi menjaga pasokan emas dari sumber domestik.

“Antam pada prinsipnya mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperkuat pasokan emas dari sumber domestik agar ketersediaan produk emas di dalam negeri tetap terjaga,” ungkap dia.

Rencana penerapan DMO emas tengah dikaji oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Tri Winarno menyebutkan kebijakan ini dapat bersifat sementara, terutama selama produksi Freeport belum pulih pasca insiden longsor di area tambang GBC. 

Dia menjelaskan Antam sebenarnya telah memiliki perjanjian pembelian 30 ton emas per tahun dari Freeport untuk memenuhi kebutuhan normal. 

Namun, dengan terganggunya pasokan dari tambang tersebut, Antam masih harus menutup kekurangannya dengan impor dari Singapura dan Australia.

Impor emas Antam tercatat mencapai sekitar 30 ton per tahun, sedangkan kapasitas produksinya hanya sekitar 1 ton dari tambang Pongkor. Menurut catatan Antam, kebutuhan emas masyarakat mencapai 37 ton pada 2024 dan terus naik ke level 43 ton tahun ini.

Kondisi ini menjadi dasar pemerintah mempertimbangkan kebijakan DMO untuk menekan impor dan memperkuat pasokan emas domestik.

Tri mengatakan, kebijakan DMO harus dirancang agar tidak menimbulkan penumpukan stok di dalam negeri, sekaligus menjaga stabilitas industri.

Pemerintah juga tengah menyiapkan evaluasi terhadap kebijakan ekspor Antam, termasuk mekanisme pajak ekspor-impor untuk mengurangi ketergantungan pada emas impor.


Sumber : bloombergtechnoz.com


Friday, October 10, 2025

Rekor harga Emas tembus US$ 4.000: Harga Emas Diramal Makin Liar, Apakah akan mencapai US$5.000?

 Tak ada hentinya, harga emas terus menyentuh level-level baru dengan puncak tertinggi sepanjang masa. Harga emas berhasil menembus level di atas US$4.000 per troy ons, didorong oleh investor yang terus mencari aset yang aman seperti emas.
Pada perdagangan Rabu (8/10/2025), harga emas dunia naik 1,36% di level US$4.037,9 per troy ons. Posisi ini menjadi tertinggi sepanjang masa dan berhasil membuat emas mencapai level psikologis baru.
Harga emas menyentuh level psikologis baru di US$ 4.000 pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Harga emas pun makin tidak terbendung.

Harga emas sudah mencetak rekor selama empat hari beruntun dan menguat 4,7% pada periode tersebut.

Pada perdagangan hari ini Kamis (9/10/2025) hingga pukul 06.28 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,57% di posisi US$4.014,99 per troy ons.

Harga emas melonjak melewati level US$4.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada perdagangan Rabu seiring ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meluas, serta ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai di masa ketidakstabilan, telah naik 54% sepanjang tahun ini, setelah naik 27% pada tahun 2024. Emas merupakan salah satu aset dengan kinerja terbaik di tahun 2025, melampaui kenaikan di pasar ekuitas global dan bitcoin serta kerugian dolar AS dan minyak mentah.

Tak ada hentinya, harga emas terus menyentuh level-level baru dengan puncak tertinggi sepanjang masa. Harga emas berhasil menembus level di atas US$4.000 per troy ons, didorong oleh investor yang terus mencari aset yang aman seperti emas.
Pada perdagangan Rabu (8/10/2025), harga emas dunia naik 1,36% di level US$4.037,9 per troy ons. Posisi ini menjadi tertinggi sepanjang masa dan berhasil membuat emas mencapai level psikologis baru.
Harga emas menyentuh level psikologis baru di US$ 4.000 pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Harga emas pun makin tidak terbendung.

Harga emas sudah mencetak rekor selama empat hari beruntun dan menguat 4,7% pada periode tersebut.

Pada perdagangan hari ini Kamis (9/10/2025) hingga pukul 06.28 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,57% di posisi US$4.014,99 per troy ons.

Harga emas melonjak melewati level US$4.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada perdagangan Rabu seiring ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meluas, serta ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai di masa ketidakstabilan, telah naik 54% sepanjang tahun ini, setelah naik 27% pada tahun 2024. Emas merupakan salah satu aset dengan kinerja terbaik di tahun 2025, melampaui kenaikan di pasar ekuitas global dan bitcoin serta kerugian dolar AS dan minyak mentah.

Reli emas didorong oleh berbagai faktor, termasuk ekspektasi penurunan suku bunga AS, meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi, pembelian yang kuat oleh bank sentral, arus masuk yang besar ke ETF yang didukung emas, dan melemahnya dolar. 

Matthew Piggott, direktur emas dan perak di Metals Focus, menjelaskan harga emas memang sangat diuntungkan oleh banyak faktor.

"Kekuatan emas mencerminkan latar belakang makroekonomi dan geopolitik yang sangat positif bagi aset-aset safe haven, ditambah kekhawatiran terhadap aset-aset safe haven tradisional lainnya," ujar  Piggott, direktur emas dan perak di Metals Focus, kepada Reuters.

"Dengan faktor-faktor ini yang berlanjut hingga 026, kami gagal melihat katalis apa pun bagi emas untuk kembali menguat secara signifikan saat ini. Namun, kami memperkirakan emas akan terus menguat sepanjang tahun dan mencoba menantang level US$5.000 per troy ons." imbuhnya.

Penutupan pemerintah AS memasuki hari kedelapan pada hari Rabu, menunda rilis data ekonomi utama dan memaksa investor untuk mengandalkan sumber non-pemerintah untuk menilai waktu dan ruang lingkup pemotongan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Pasar memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed mendatang, dengan penurunan serupa diperkirakan terjadi pada bulan Desember.

Krisis global, seperti konflik Timur Tengah dan perang di Ukraina, telah memicu permintaan emas batangan, sementara gejolak politik di Prancis dan Jepang mendorong pelarian ke emas.

Secara global, arus masuk ke ETF emas mencapai US$64 miliar tahun ini, menurut data dari World Gold Council, dengan rekor US$17,3 miliar pada bulan September saja.

Secara teknis, Relative Strength Index (RSI) emas berada di angka 88, menunjukkan logam tersebut sedang jenuh beli.

"Saya memperkirakan harga emas akan mencapai US$4.300 per ons dalam enam bulan ke depan, seiring dengan pelemahan dolar AS yang diperkirakan berlanjut. Secara keseluruhan, kondisi makroekonomi dan geopolitik saat ini mendukung kenaikan harga emas."," ujar Michael Langford, Chief Investment Officer Scorpion Minerals. 

Dari sisi lain, harga perak (XAG) di pasar spot pada penutupan perdagangan Rabu (8/10/2025), melesat 2,22% ke posisi US$ 48,88 per troy ons. Posisi penutupan ini adalah yang tetringgi sepanjang masa.
Pda perdagangan hari ini Kamis (9/10/2025) hingga pukul 06.36WIB, harga perak di pasar spot melemah 0,51% ke US$ 48,63 per troy ons.

Perak naik lebih dari 70% sepanjang tahun ini, diuntungkan oleh faktor-faktor yang sama yang mendorong reli emas serta ketatnya pasar spot.

"Pasar perak terus menguat, dengan kenaikan suku bunga sewa, seiring saham Comex mencapai rekor tertinggi dan di tengah menguatnya permintaan musiman di India. Reli baru-baru ini didukung oleh arus masuk ETP yang besar," ujar Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered Bank.

HSBC pada hari Rabu menaikkan proyeksi harga perak rata-rata untuk 2025 menjadi US$38,56 per troy ons dan untuk 2026 menjadi US$44,50 per troy ons, dengan alasan ekspektasi harga emas yang tinggi, permintaan investor yang kembali meningkat, dan antisipasi volatilitas perdagangan.

Sumber: CNBC.com







Fenomena 30 Tahun: Cadangan Emas Global Lampaui Surat Utang AS

Bank-bank sentral dunia kini lebih memilih untuk menumpuk emas dan meninggalkan surat utang Amerika Serikat (AS), instrument yang dulu dianggap "sakti".
Untuk pertama kalinya sejak 1996 atau 30 tahun, cadangan emas bank sentral asing melampaui kepemilikan mereka atas surat utang pemerintah AS (U.S. Treasury).
Pembelian emas yang terus berlanjut dan meningkatnya risiko utang AS mendorong perubahan komposisi cadangan devisa ke arah aset-aset keras (hard assets).

Runtuhnya sistem Bretton Woods pada dekade 1970-an tidak serta merta menjatuhkan posisi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang dominan di dunia.

Lonjakan suku bunga dan kebangkitan petrodolar setelah peristiwa tersebut, mendorong para pengelola cadangan devisa untuk mengalihkan investasi mereka ke obligasi AS. Selain itu, kedalaman pasar dan likuiditas dolar AS semakin memperkuat posisi surat utang AS sebagai aset pilihan pada periode 2000-an.


Baca:
Rekor Bersejarah! Harga Emas Antam Logam Mulia Resmi Tembus Rp2,3 Juta
Namun, kondisi ini mulai goyah di tahun 2022, dimana bank-bank sentral di penjuru dunia mulai meningkatkan pembelian emas mereka. Pada saat itu, pembelian emas bahkan mencetak rekor tertinggi di angka 1.136 ton, dan terus menunjukkan tren positif di tahun-tahun berikutnya.

Eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven, khususnya emas.

Untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir, cadangan emas bank-bank sentral dunia kini telah melampaui kepemilikan mereka atas obligasi Amerika Serikat.

Hampir seperlima dari seluruh emas dunia saat ini dipegang oleh bank sentral. Fenomena ini menunjukkan transformasi dari ketergantungan pada aset berdenominasi dolar AS menuju kepemilikan aset riil seperti emas.

Rentetan peristiwa ini yang kemudian berkontribusi atas melonjaknya harga emas dunia, yang sudah menyentuh US$4.000 per troy ons pada Rabu kemarin (8/10/2025).

Dominasi emas terhadap obligasi AS menandakan bahwa pengelola cadangan devisa saat ini lebih memprioritaskan daya tahan dan netralitas dibandingkan imbal hasil.

Selain itu, peningkatan porsi emas dalam cadangan devisa paling mencolok terjadi di negara-negara emerging market. Hal ini terjadi karena logam mulia tersebut dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan mata uang yang memiliki beban utang tinggi seperti dolar AS.

Sumber: CNBC.com




Warren Buffett Ubah Haluan ke Emas, Robert Kiyosaki Ingatkan Krisis Pasar

Pengamat keuangan Robert Kiyosaki mengungkapkan kekhawatiran atas perubahan sikap Warren Buffett yang kini mendukung investasi pada emas dan perak. Ia menilai langkah tersebut bisa menjadi pertanda akan terjadinya crash di pasar keuangan. Melalui unggahan di media sosial X, Rabu (1/10/2025).

Kiyosaki mengaku terkejut dengan minat baru Warren Buffett terhadap logam mulia.
CEO Berkshire Hathaway yang akan segera pensiun itu dikenal lama sebagai kritikus investasi emas dan perak sejak memimpin perusahaan pada 1970. Kiyosaki menafsirkan dukungan Buffett terhadap emas dan perak di tengah kenaikan harga dan meningkatnya risiko geopolitik sebagai tanda akan terjadinya gejolak besar di pasar saham dan obligasi.
Ekonom UI Ungkap Dampak Purbaya Pangkas Transfer ke Daerah Ketika ”September” Belum Tentu Ceria Artikel Kompas.id Baca juga: Robert Kiyosaki Sebut Kebijakan Trump Bikin Emas, Perak, dan Bitcoin Makin Berharga "SAYA INGIN MUNTAH: merasa mual mendengar Buffett memuji keutamaan emas dan perak... setelah ia selama bertahun-tahun meremehkan emas dan perak. Itu artinya pasar saham dan obligasi akan segera ambruk. Depresi ekonomi di depan mata?," tulis Robert Kiyosaki di media sosial X.  Dalam wawancara dengan CNBC pada 2011, Buffett pernah menyebut emas sebagai aset yang tumbuh karena kekhawatiran pasar, bukan karena fundamental.

Ia menjelaskan bahwa nilai emas cenderung dipengaruhi sentimen, dengan permintaan dan harga melonjak saat ketidakpastian meningkat, lalu kembali turun setelah kepercayaan investor pulih. Meski skeptis terhadap logam mulia, Berkshire Hathaway sempat masuk ke sektor emas saat pandemi 2020. Namun, hampir seluruh kepemilikan tersebut dijual kembali di akhir tahun yang sama.


Perubahan ini, ditambah kondisi ekonomi yang tidak stabil, membuat sejumlah pihak waspada terhadap potensi guncangan di pasar saham dan obligasi. Pandangan Kiyosaki sejalan dengan kekhawatiran tersebut. Ia menilai investor perlu bersiap menghadapi kemungkinan turbulensi pasar. Kenaikan harga emas yang didorong berbagai faktor itu juga memperlihatkan pentingnya bagi investor untuk tetap waspada dan melakukan diversifikasi portofolio demi mengurangi risiko.

Sumber: kompas.com

Ray Dalio Sebut Emas Lebih Aman daripada Dolar AS

Miliarder Ray Dalio menilai emas "tentu saja" lebih aman sebagai aset safe haven daripada dolar AS. Menurutnya, reli logam mulia yang memecahkan rekor saat ini mirip dengan periode 1970-an, saat harga emas melonjak di tengah inflasi tinggi dan ketidakstabilan ekonomi.

Pernyataan Dalio—pendiri perusahaan hedge fund Bridgewater Associates—disampaikan dalam konferensi pada Selasa (7/20/2025), saat ia ditanya apakah ia setuju dengan pandangan Ken Griffin dari Citadel bahwa kenaikan harga emas mencerminkan kekhawatiran terhadap mata uang AS.

"Emas adalah diversifikasi portofolio yang sangat baik," kata Dalio dalam diskusi panel dengan Lisa Abramowicz dari Bloomberg dalam Greenwich Economic Forum di Connecticut. "Jadi, jika Anda hanya melihat dari perspektif alokasi aset strategis, Anda mungkin memiliki campuran optimal sekitar 15% dari portofolio Anda dalam bentuk emas."

Penutupan (shutdown) pemerintah federal dan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan terus menurunkan suku bunga meski inflasi masih tinggi telah mendongkrak harga emas lebih dari 20% sejak akhir Juli menjadi sekitar US$4.000 per troy ons.

Sumber : Bloombergtecnoz.com

Thursday, July 10, 2025

Ghana Meluncurkan Gugus Tugas Anti Penyelundupan Emas

Presiden Ghana John Dramani Mahama pada Selasa kemarin (08/07) meluncurkan gugus tugas untuk memberantas perdagangan emas ilegal untuk menghindari kerugian miliaran Dollar akibat penyelundupan.

Ghana tahun ini membentuk Dewan Emas yang baru yaitu GoldBob sebagai sentral perdagangan emas. Lembaga baru r ini menembus rekor ekspor 55,7  metrik ton emas dengan nilai US$ 5 Miliar pada 5 bulan pertama tahun 2025, demikian laporan Presiden Mahama dalam pidato peluncuran gugus tugas baru tsb.

Sumber : Reuters

Tuesday, July 1, 2025

Harga Emas Dunia Naik menyusul Pelemahan Dollar

Harga emas dunia bangkit pada Senin (30/6/2025). Kenaikan itu didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Sementara investor menanti rilis data tenaga kerja AS yang bisa memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Harga emas spot naik 0,8% ke level US$ 3.302 per troy ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 29 Mei. Sedangkan kontrak berjangka emas AS juga ditutup naik 0,6% di level US$ 3.307,7.

Analis Zaner Metals Peter Grant menyebut, pelemahan dolar menjadi penopang utama harga emas. “Tapi secara teknikal, harga emas masih bergerak dalam kisaran yang terbentuk sejak pertengahan Mei,” katanya dikutip dari CNBC internasional.

Dolar AS melemah terhadap euro dan franc Swiss akibat kekhawatiran pasar atas membengkaknya defisit anggaran AS dan perkembangan negosiasi dagang dengan mitra utama. Pekan lalu, AS dan Cina menyelesaikan sengketa terkait ekspor mineral , membuka peluang perundingan lanjutan.

Sementara itu, Kanada membatalkan pajak layanan digital terhadap perusahaan teknologi AS guna memulihkan hubungan dagang.

Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan lingkungan suku bunga rendah, tetap menjadi favorit investor.

Pasar kini menunggu data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis Rabu, serta klaim tunjangan pengangguran awal pada Kamis sebagai petunjuk potensi arah kebijakan The Fed.

Dalam risetnya, analis Citi memprediksi harga emas akan bergerak di kisaran US$ 3.100–3.500 pada kuartal III 2025. Mereka juga menilai bahwa level tertinggi emas pada akhir April lalu di US$ 3.500 kemungkinan menjadi puncaknya, seiring defisit pasar emas yang mulai memuncak.

Sementara itu, harga perak turun tipis 0,1% menjadi US$ 35,93 per ons troi. Platinum turun 0,3% ke US$ 1.334,70 dan palladium merosot 3,2% menjadi US$ 1.097,24. Namun, ketiga logam mulia ini masih membukukan kenaikan sepanjang kuartal ini.

Sumber : investor.id






Friday, June 27, 2025

Survey : Bank Sentral Ingin Mengurangi Cadangan Devisa dalam Dollar

Sejumlah Bank Sentral dengan cadangan devisa triliunan Dollar berencana mengalihkan cadangan devisanya dari mata uang Dollar ke emas, Euro, dan Yuan. Hal ini terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik.

Menurut laporan dari Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) yang dirilis 24/6 bahwa satu dari tiga bank sentral dengan total cadangan devisa $ 5 triliun berencana meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisanya dalam satu atau dua tahun ke depan.

Survey dari 75 bank sentral yang digelar sepanjang Maret-Mei menggambarkan dampak dari kebijakan tarif perdagangan Donald Trump yang menimbulkan gejolak ekonomi dunia dan Dollar sebagai mata uang utama.








Sunday, April 13, 2025

Jerman Tarik Emas Besar-Besaran 1.200 Ton dari New York, Ada Apa?

Ilustrasi bendera Jerman (dpa/picture alliance via Getty Images)
Foto: Ilustrasi bendera Jerman (dpa/picture alliance via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jerman kemungkinan akan memulangkan sejumlah besar emas yang saat ini disimpannya di New York. Rencana ini mencuat di tengah kekhawatiran atas kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Isu ini dilaporkan oleh Telegraph pada Jumat (11/4/2025). Surat kabar yang berbasis di Inggris tersebut, mengutip laporan surat kabar Jerman Bild, mengatakan bahwa sejumlah tokoh senior dalam partai Persatuan Demokratik Kristen (CDU) telah membahas kemungkinan untuk menarik cadangan emasnya dari AS.

CDU sendiri dijadwalkan untuk memimpin pemerintahan Jerman berikutnya. Ini setelah kemenangannya dalam pemilihan umum pada Februari lalu.

"Tentu saja, pertanyaan itu muncul lagi," kata mantan menteri CDU Marco Wanderwitz kepada Bild.


Wanderwitz sebelumnya melobi untuk memeriksa sendiri cadangan emas New York pada tahun 2012, tetapi permintaannya ditolak. Ia telah menyerukan kebijakan yang akan memungkinkan pejabat Jerman untuk memeriksa emas secara berkala, atau mengembalikannya ke Jerman.

Markus Ferber, anggota Parlemen Eropa untuk CDU, mengatakan kepada Bild bahwa ia juga bersikeras agar pejabat Jerman diizinkan untuk memeriksa sendiri emas batangan negara itu yang berbasis di AS.

"Saya menuntut pemeriksaan rutin terhadap cadangan emas Jerman," katanya.

"Perwakilan resmi Bundesbank harus menghitung sendiri emas batangan dan mendokumentasikan hasilnya," ujarnya lagi.

Saat ini, Jerman masih memiliki sekitar 1.200 ton, atau sekitar sepertiga dari emasnya, yang disimpan di brankas Federal Reserve New York di Manhattan, ditambah 430 ton lainnya di Bank of England. Pada harga saat ini, emas yang dimiliki AS akan bernilai lebih dari 100 miliar euro.

Selain itu, Jerman juga memiliki cadangan emas terbesar kedua di dunia sekitar 3.350 ton. Ini hanya di belakang AS yang memiliki 8.100 ton.

Keinginan Jerman untuk mendapatkan emas telah terdokumentasi dengan baik karena sejarahnya yang bergejolak. Setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II, brankas emas batangan negara itu pada dasarnya dikosongkan.

Namun, ledakan ekonomi pascaperang memberinya sarana keuangan untuk mulai menimbun logam kuning, yang dipermudah oleh sistem Bretton Woods. Pada tahun 1960-an, Jerman telah menjadi salah satu pemegang emas terbesar di dunia, dengan sebagian besar cadangannya disimpan di luar negeri- di New York, London, dan Paris- untuk memastikan aksesibilitas jika terjadi konflik.

Di balik keputusan untuk menyimpan emas itu di luar negeri adalah besarnya kepercayaan yang telah dibangunnya dengan sekutu-sekutu Baratnya, khususnya AS. Namun, di bawah iklim geopolitik saat ini, kepercayaan itu mungkin telah memudar di antara anggota partai penguasa Jerman berikutnya.

The New York Fed, sebagai kustodian emas terbesar di dunia, menyimpan sekitar 6.300 ton emas atas nama lebih dari 30 bank sentral asing. Selain Jerman, negara-negara Eropa terkemuka lainnya yang menyimpan emas mereka di New York Fed termasuk Italia dan Swiss.



Tuesday, December 17, 2024

OJK: Urgen Pendirian Bank Emas di Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa kebutuhan untuk mendirikan bank emas di Indonesia saat ini amat mendesak. Bank emas adalah bentuk aktivitas bisnis logam mulia yang saat ini sedang dikembangkan oleh OJK dan pemerintah.

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan modal ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya OJK menjelaskan pentingnya mengatur aktivitas bisnis logam mulia.

Agusman menyatakan " hal ini penting mengingat Indonesia sebagai produsen dan salah satu negara dengan cadangan emas terbesar di dunia ( tambang emas grasberg Papua) dan juga sebagai importir untuk memenuhi kebutuhan permintaan domestik."

Dengan esksistensi bank emas, Indonesia akan dapat menilai cadangan emasnya dan menempatkan emas dalam neraca keuangan negara.

Aktivitas bisnis logam mulia saat ini di atur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ( POJK) no 17 tahun 2024 mengenai implementasi aktivitas bisnis logam mulia.

Menurut definisi POJK 17/2024 aktivitas bisnis logam mulia adalah aktivitas bisnis yang terkait dengan emas yang diselenggarakan oleh institusi jasa keuangan. Aktivitas ini meliputi simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, dan aktivitas lainnya terkait emas yang dijalankan oleh Lembaga Jasa Keuangan.

Setelah menerbitkan POJK, otoritas akan mendesain peta jalan untuk memperkuat aktivitas bisnis logam mulia di Indonesia. OJK juga akan mendirikan Dewan Emas Nasional sebagai ekosistem aktivitas bisnis logam mulia di Indonesia.

"Pemerintah menargetkan berdirinya bank emas pada semester pertama 2025" kata Airlangga Hartarto Menko Perekonomian, seraya menambahkan bahwa draf UU tsb akan selesai ratifikasi tahun depan.

Sumber :  en.tempo.co









Thursday, October 31, 2024

Permintaan Emas Catat Rekor 1.300 Ton

Permintaan emas dunia naik 5 persen dari tahun sebelumnya pada kuartal ketiga tahun 2024 ini dengan permintaan mencapai 1.300 ton atau $100 miliar untuk pertama kalinya, menurut laporan World Gold Council pada Rabu (30/10/2024).

Di saat permintaan global pada kuartal ini mengalami rekor kenaikan, permintaan investasi global “naik lebih dari dua kali lipat” menjadi 364 ton karena pergeseran permintaan sebagian besar investor Barat untuk dana yang diperdagangkan untuk Exchange Traded Fund (ETF) emas.

Faktor fear of missing out (atau FOMO) mendorong naik permintaan pada kuartal ketiga karena selera investor meningkat dan investor mencari aset yang dianggap aman seperti emas di tengah gejolak geopolitik dunia dan ketidakstabilan suasana politik AS.

ETF emas di seluruh dunia menyumbang 95 ton pada permintaan investasi, naik untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2022, sementara permintaan emas batangan dan koin turun 9 persen.

World Gold Council mengatakan bahwa pembelian emas oleh bank sentral melambat di kuartal ketiga tetapi masih tetap kuat di 186 ton dan permintaan bank sentral tahun ini sebesar 694 ton.

Harga emas mencapai rekor tertinggi pada kuartal ketiga dengan rata-rata 2.474 dolar AS per Troy ons, yang menghambat permintaan perhiasan emas di seluruh dunia, karena total volume konsumsi perhiasan turun 12 persen dari tahun ke tahun, dan kenaikan sebesar 13% dalam hal nilai mengindikasikan pengeluaran yang nyaman untuk produk emas dalam jumlah yang lebih rendah.

Permintaan emas di bidang teknologi naik 7 persen secara tahunan karena kemajuan dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Sementara itu, total pasokan emas naik 5 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu dengan kenaikan 6 persen pada produksi tambang dan 11 persen pada daur ulang, kata World Gold Council.*

 Sumber : Hidayatullah.com

Thursday, October 17, 2024

Apa Pemicu Kenaikan harga Emas?



Salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan harga emas tahun ini adalah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral sebagai cadangan devisa. Sebagaimana pernyataan 3 pimpinan  Bank Sentral Mongolia, Republik Ceko, dan Meksiko dalam panel diskusi konferensi industri yang digelar oleh London Bullion Market Association.

Joaquin Tapia, direktur devisa internasional Bank Sentral Meksiko, menyatakan " kondisi rendahnya tingkat suku bunga, ketegangan politik di AS, Pilpres Amerika, dan ketidakpastian (politik dan ekonomi), hal menjadi alasan kamu akan menaikkan cadangan emas dalam devisa kami".

Enkhjin Atarbaatar mengiyakan perkataan Tapia tsb dalam diskusi yang digelar di Miami AS itu yang juga menyatakan cadangan emas Mongolia akan terus dinaikkan. Sestak, deputi eksekutif direktur Bank Sentral Ceko memberi komentar " I completely agree as well"

Emas mengalami kenaikan 25% tahun ini dan melampaui kinerja obligasi dan surat berharga AS. Menurut data rata-rata bank sentral seluruh dunia menyimpan 15% emas dalam cadangan devisanya.

Sumber : bnnbloomberg.ca