
Kerusuhan hasil ciptaan IMF itu sudah bisa diprediksikan dan sangat menyakitkan hati. Tatkala suatu negara sudah jatuh pingsan, (IMF) akan mengambil keuntungan dan memeras sampai tetes darah terakhir yang masih ada pada negara debitor. Suhu akan terus meningkat, dan pada saatnya ketel itu meledak", seperti halnya ketika IMF, menurut Stiglitz, mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia pada tahun 1998.Indonesia meledak dengan kerusuhan, contoh lain kerusuhan di Bolivia sehubungan dengan kenaikan tarif air bersih pada tahun 2001, dan pada bulan Februari 2002 kerusuhan di Ekuador karena kenaikan harga gas dapur yang diperintahkan oleh Bank Dunia. Kesan yang ada ialah kerusuhan itu memang direncanakan.
Dan memang begitu apa yang tidak diketahui oleh Stiglitz, bahwa BBC dan koran The Observer, London, berhasil memperoleh beberapa dokumen dari kalangan dalam Bank Dunia, yang diberi cap 'Confidential', 'Restricted' , dan 'not to be Disclosed'. Salah satu di antara dokumen-dokumen itu adalah apa yang disebut 'Interim Country Assistance Strategy' (Strategi Bantuan Sementara) untuk Ekuador. Di dalam dokumen itu Bank Dunia beberapa kali menjelaskan-dengan ketepatan yang mendirikan bulu roma- bahwa mereka mengharapkan bahwa rencana mereka akan menyalakan "kerusuhan sosial", begitu istilah birokrasi terhadap negara yang terbakar. (Bagaimana dengan tragedi Mei 1998 di Jakarta yang juga mendirikan bulu roma????)
dan langkah keempat yang oleh IMF dan Bank Dunia diberi nama "Strategi Pengentasan Kemiskinan" yaitu Pasar Bebas, maksudnya pasar bebas berdasarkan aturan dari WTO (World Trade Organization-Organisasi Perdagangan Dunia) dan Bank Dunia. Stiglitz, orang dalam Bank Dunia itu menyamakan 'pasar bebas' dengan 'perang candu'. "Konsep itu bertujuan membuka pasar", katanya."Persis seperti halnya pada abad ke 19, negara-negara Barat dan Amerika Serikat menghancurkan rintangan yang ada bagi perdagangan di Cina. Sekarang hal yang sama dilakukan untuk membuka pasar agar mereka dapat berdagang di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, sementara negara-negara barat itu memasang tembok yang tinggi terhadap impor hasil pertanian dan produk manufaktur dari Dunia Ketiga."
Demikianlah langkah IMF dan Bank Dunia di hampir seluruh dunia termasuk negeri ini, yang masih berlangsung hingga kini .
sumber : Zionisme : Gerakan Menaklukkan Dunia, ZA.Maulani (2003)







