www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Thursday, February 24, 2011

Sejarah Standard Emas di Inggris III

Keputusan Bank of England pada tahun 1919 untuk meninggalkan konvertibilitas ke dalam sovereign (koin emas di Inggris senilai 1 poundsterling) emas untuk semua uang kecuali pecahan 5£ (poundsterling) menunjukkan situasi moneter yang sebenarnya. Penerbitan uang kertas oleh pemerintah memang jauh melampaui jumlah yang bisa didukung oleh cadangan emas bank sentral. Untungnya bagi pihak otoritas moneter, pada saat tersebut, uang kertas dalam pecahan 5£ yang masih tersisa dalam peredaran berjumlah tinggal sedikit saja.

Akibat buruk yang timbul setelah keputusan tersebut di ambil pada tahun 1919, nilai tukar bergerak ke tingkat $/£ 3,50 dan pemerintah Inggris tidak lagi melakukan intervensi guna mendukung nilai (pound) Sterling di pasar mata uang New York. Meskipun demikian, tekanan domestik untuk mendukung nilai Sterling yang kuat segera memicu tindakan Bank of England untuk meningkatkan suku bunga. Tekanan tersebut muncul terutama di kota London yang statusnya sebagai pusat keuangan internasional yang identik dengan kekuatan nilai tukar Sterling. Para investor asing, yang tertarik oleh suku bunga yang tinggi, pada akhirnya lebih memilih untuk memegang Sterling dan tidak mengalihkan hartanya ke dalam bentuk mata uang lain. Dana yang mereka miliki kemudian didepositokan dalam rekening Sterling untuk memperoleh bunga yang tinggi sebagaimana yang ditawarkan.

Contoh di atas merupakan jenis kebijakan yang mengorbankan kegiatan bisnis dalam negeri guna perhatian terhadap mata uang internasional. Suku bunga yang digerakkan mata uang seringkali mengabaikan realitas iklim perekonomian dalam negeri meskipun investor mungkin memperoleh sesuatu dari kenaikan aliran pembayaran bunga atas pinjaman Sterling mereka. Namun demikian, peminjam dana harus menanggung beban bunga yang lebih tinggi. Bagi sektor usaha, keuntungan mungkin tidak cukup untuk menutup beban bunga yang lebih tinggi, walaupun tingkat suku bunga Sterling bisa mempengaruhi individu untuk mempertahankan deposito Sterling sehingga menghindarkan tekanan terhadap nilai tukar Sterling. Akan tetapi, melalui pembayaran bunga yang besar hanya akan menggelembungkan jumlah Deposito Sterling dalam jumlah yang lebih besar. Pemegang Sterling kemudian dihadapkan pada pilihan akhir yang sama-mengkonversi ke mata uang asing, mengkonversi ke dalam emas (jika mungkin), untuk membeli barang-barang Inggris, atau mendapatkan investasi Sterling lagi.

Sebagaimana yang terjadi, produsen Inggris menemukan diri mereka semakin sulit menjual produk mereka di luar negeri. Perang telah menghancurkan banyak hubungan bisnis dan memungkinkan pesaing asing untuk masuk ke beberapa pasar Inggris yang paling prospektif. Di samping itu, kurangnya investasi pada produk-produk yang tidak terkait dengan perang selama tahun-tahun perang telah mengakibatkan produsen-produsen Inggris mempunyai produk-produk yang sering ketinggalan zaman atau tidak relevan dengan pasar-pasar baru di abad 20. Ekspor barang-barang manufaktur turun dari £1.664 juta pada tahun 1920 menjadi £943 juta pada tahun 1925 dan £670 juta pada tahun 1930. Current account (neraca perdagangan) anjlok dari kondisi surplus sebesar sebesar 5,8% dari GDP pada tahun 1920 menjadi hanya surplus sebesar 0,8% dari GDP menjelang tahun 1930. Lalu apakah ini yang diharapkan-menyediakan barang-barang yang memadai kepada orang-orang asing sebagai tukaran Sterling mereka?

Menaikkan tingkat suku bunga seringkali tidak lebih dari suatu taktik menunda, suatu repons ; suatu upaya untuk menunda momen ketika nilai mata uang anjlok atau cadangan emas ditarik. Usaha seperti ini dapat saja berjalan untuk sementara waktu, bahkan selama beberapa tahun. Tetapi jika sistem perekonomian dalam negeri tidak dapat menghasilkan output yang mencukupi, pada akhirnya masalah fundamental yang akan muncul.

Pada tahun 1919, Inggris telah meninggalkan standard emas dan ketidakstabilan ekonomi pada waktu itu terindikasi dalam harga-harga barang grosir. Kenaikan sebesar kira-kira 50% terjadi antara tahun 1919 dan 1920 dan selanjutnya sebesar lebih dari 40% antara 1920 dan 1921. Churcill dibujuk untuk memulihkan kinerja sistem lama pada tahun 1925. Pidato anggarannya memproklamasikan kembali kepada emas (yaitu standard sebelum perang) yang menunjukkan nilai tukar sebesar $/£4,86. Akan tetapi, tampaknya pidato tersebut tidak bermaksud untuk mengembalikan pada standar emas. Konvertibilitas hanya diperbolehkan untuk tujuan internasional saja, karena pada nyatanya publik secara domestik tidak diperbolehkan untuk mengumpulkan jumlah notes yang cukup (kira-kira sebesar £1.700) untuk kemudian ditukarkan dengan 400 ons emas batangan di Bank of England. Cadangan yang ada tidak mencukupi untuk memulihkan standard emas sepenuhnya, dan penolakan Churchil untuk membolehkan konvertibilitas bagi masyarakat domestik merupakan suatu bukti terhadap hal tersebut.

Meskipun Winston Churchil (Chancellor of the Exchequer pejabat terpenting setelah PM
Inggris saat itu yang bertanggung jawab terhadap ekonomi dan keuangan negara 1924-1929) telah melakukan upaya-upaya tersebut, kepercayaan terhadap Sterling mulai memudar setelah dihadapkan pada realitas ekonomi. Titik balik sudah dekat. Antara tahun 1929 dan 1931, pudarnya kepercayaan terhadap Sterling telah menyebabkan keambrukan. Kejadian-kejadian yang terjadi di luar negeri tidak membantu mengubah situasi menjadi lebih baik. Bank Creditanstalt dari Austria ambruk pada bulan Mei 1931 dan diikuti oleh serbuan nasabah untuk mendapatkan likuiditas dari kalangan investor internasional. London, yang telah menyatakan dirinya sebagai pusat 'uang panas', merupakan target pertama penarikan oleh investor asing da n bank-bank di London sendiri berada dalam krisis likuiditas. Selama beberapa tahun sebelumnya mereka memberikan pinjaman besar-besaran, terutama kepada peminjam dari Jerman dan Eropa Tengah. Namun, mereka menemukan bahwa pinjaman mereka tidak bisa di bayar kembali secepat yang dituntut oleh investor asing yang ingin menarik deposito mereka dengan segera.

Ini merupakan suatu contoh yang jelas dari permasalahan yang bisa muncul apabila dana yang didepositokan bisa ditarik dengan pemberitahuan mendadak, tetapi pada saat yang sama dipinjamkan dalam jangka waktu 'lama'. Bank of England dengan cepat berusaha untuk menyelamatkan para bankir, dengan menyediakan cadangan emas dan mata uang asingnya untuk dipinjam oleh bank-bank tersebut. Dengan demikian, permintaan investor asing untuk menarik dana-dana mereka dapat terpenuhi dan kepercayaan terhadap integritas kota London dapat dijaga.

Pemerintah nasional yang terbentuk tahun itu dibawah McDonald telah berupaya memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan perekonomian Inggris dengan cara menyeimbangkan anggaran, namun upaya ini hanya bermanfaat untuk sementara waktu saja. Pada bulan Juli 1931, mata uang Jerman ambruk di pasar valuta asing dan spekulator mengarahkan perhatian mereka kepada Sterling. Aliran deposito Sterling sekarang mulai menyerang Bank of England untuk menukar uang tunai dengan emas. Kenaikan suku bunga yang diperlukan untuk membujuk orang asing untuk mempertahankan kepemilikan mereka dalam bentuk Sterling akan menghancurkan perekonomian domestik yang rapuh sehingga dianggap merupakan alternatif kebijakan yang tidak bisa diterima. Pada tanggal 19 September , Bank of England kehabisan emas dan cadangan mata uang asing ketika pelepasan mata uang Sterling terus berlangsung. Pada tanggal 21 September, standard emas ditangguhkan. Sterling sekarang bebas untuk menemukan nilai tukar baru. Dengan cepat mata uang ini anjlok dari $/£ 4,86 menjadi $/£ 3,80.
bersambung

Friday, February 11, 2011

Sejarah Standard Emas di Inggris II

Berdasarkan sifatnya sendiri, debasement mengingkari konsep standard logam berharga yang ada sebelumnya dengan mendukung standard baru dengan kandungan yang lebih rendah . Para pengkritik mungkin menggunakan sejarah debasement dalam upaya untuk mengusulkan bahwa standard emas tidak dapat melindungi kepentingan pemegang uang dari kepentingan-kepentingan sesaat negara. Argumen tersebut tidak dapat dipertahankan apabila dilakukan analisis yang lebih dalam. Meskipun debasement dilakukan, dalam suatu negara modern yang mempunyai mata uang beredar yang hanya terdiri dari emas, orang bisa melebur koin lama mereka menjadi bungkah emas secara pribadi. Penjualan bungkah ini di pasar bebas secara otomatis akan mencapai nilai wajar dilihat dari segi koin baru, bagaimanapun koin tersebut sudah mengalami debasement. Bungkah emas itu sendiri akan menjadi jaminan akhir nilai tersebut bagi pemegangnya terhadap setiap upaya debasement.

Jika standard emas ingin diterapkan dengan tanpa mengedarkan mata uang yang secara eksklusif terbuat dari emas, adalah penting bahwa jumlah uang kertas yang masuk dalam peredaran harus sepenuhnya didukung oleh stok emas. Akan tetapi, jika penerbitan uang negara yang berlebihan dilarang oleh hukum standard emas, tampaknya hal yang sama harus pula berlaku bagi bank-bank komersial dalam hal kegiatan penciptaan uang. Untuk memberlakukan standard emas tanpa melarang fractional reserve banking (cadangan minimum 5% dari simpanan bank) adalah tidak ada gunanya, tetapi begitulah sejarah sebenarnya yang digambarkan oleh Chown dalam tulisannya :

' Penerbitan bank notes wilayah naik dari rata-rata 4 juta poundsterling pada tahun 1821-1823 menjadi 6 juta poundsterling pada tahun 1824 dan 8 juta poundsterling pada tahun 1825; suatu faktor pendorong penting yang berperan untuk meningkatkan periode boom ini. Peredaran uang yang meningkat ini pada dasarnya bisa dilakukan dalam bentuk emas........publik telah terbiasa menerima notes Bank of England dalam penukaran notes bank wilayah ....Bank-bank wilayah secara aktif membujuk agar tidak melakukan penukaran notes mereka dengan emas tetapi melalui petisi yang berhasil diusulkan kepada bank Bristol pada bulan Juni 1852 telah mengembalikan hak publik untuk menuntut penggantian dalam emas.'
Pemberlakuan Bank Charter Act pada tahun 1844 telah memulai proses membatalkan hak perusahaan-perusahaan swasta untuk mengeluarkan uang kertas yang diciptakan oleh mereka sendiri. Pemberlakuan Peel's Act ditujukan untuk memulihkan kegiatan dari para pemberi pinjaman uang yang diciptakan oleh mereka sendiri yang juga mendapatkan kritik dari Jefferson. Akan tetapi kita juga telah melihat bagaimana masyarakat perbankan telah memanfaatkan kelemahan yang ada pada Peel's Act setelah tahun 1844, yaitu kemungkinan untuk menggunakan sistem rekening dan cek sebagai ganti sistem emas dan tanda terima yang sebelumnya telah mendominasi. Chown merangkumkan bagaimana mekanisme fractional reserve banking dulu mengkompromikan tujuan standard emas,
'Standard emas Inggris tidak menjamin stabilitas jangka pendek dan juga tidak mencegah siklus perdagangan dan krisis keuangan. Semua ini berasal dari fluktuasi pada superstruktur kredit yang dibangun di atas dasar emas....'

Sisi lemah dari standard emas Inggris pertama kali terungkap pada kasus pembiayaan perang pada periode 1914-1918. Nilai tukar antara Dollar terhadap Sterling sebesar 4,86 (4,86 Dollar untuk satu Pound Sterling sebelum perang). Karena satu Pound didefinisikan sebagai 113 butir emas halus dan satu Dollar sebagai 23.22 butir, maka satu pound harus bisa ditukarkan menjadi 4.86 Dollar. Adanya perbedaan rasio penukaran di tempat yang lain akan memungkinkan terjadinya arbitrase.
Selama beberapa dekade sebelum perang, pengeluaran pemerintah di Inggris telah berfluktuasi di antara 10% dan 20% dari GDP. Tekanan untuk membiayai pengeluaran ini melalui ekspasni utang pemerintah dan uang negara terbukti tidak dapat dihindarkan oleh pihak otoritas moneter. Sehingga meskipun hanya terdapat 34 juta poundsterling uang kertas pada tahun 1914, menjelang tahun 1918 uang kertas beredar mencapai total 299 juta pound.Pada saat yang sama, sovereign emas menghilang dengan cepat dari peredaran selama periode 1914-1918. Sovereign emas dalam peredaran berjumlah 166 juta pound ketika pecah perang, tetapi menjelang akhir perang jumlah tersebut berkurang sampai hanya sekitar 84 juta pound.

bersambung

Thursday, January 27, 2011

Karena Perang & Utang AS pun Bangkrut

Saat ini Amerika bangkrut. Amerika—lihat saja, ini tidak mampu lagi membiayai dan mengendalikan dunia. Negara terkaya di dunia itu menjadi negara yang paling sarat akan utang di dunia. Kekuatan super yang pernah digunakan untuk memberikan pinjaman kepada bangsa lain hari ini tenggelam dengan utang sekitar $, 14 triliun dan terancam tak terbayar.

Jika kita melihat masa lalu, ketika Bill Clinton meninggalkan Gedung Putih dan diteruskan oleh George Bush pada 2000 ada surplus sebesar $ 300 milyar. Ketika Bush mengalokasikan sejumlah besar pengeluaran di bidang militer terutama setelah kejadian 9 / 11, surplus menjadi defisit. Dalam dua tahun pertama, surplus sebesar $ 300 miliar dibelanjakan. Dalam dua tahun berikutnya meningkat menjadi 600 miliar dolar. Dalam dua tahun berikutnya, utang itu sudah membengkak menjadi $ 900 miliar. Pada tahun 2009, bahkan mencapai $ 1,2 trilyun. Hari ini hampir $ 1,7 triliun, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika.

Semua in memaksa Amerika untuk meminjam uang lebih dan mengubah kebijakan ekonominya. AS secara gelap mata berutang dalam jumlah yang banyak dari Jepang, Cina, Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya. Dalam periode pertama kepresidenan Bush, utang mencapai $ 7,6 trilyun. Namun dalam pemerintahan keduanya, utang naik menjadi $ 10,6 triliun. Hari ini mncapai di $ 14,2 trilyun . Lebih dari setengah utang ini terjadi dalam enam tahun terakhir, ketika perang Irak dan Afghanistan mencapai puncaknya. Jika kita menyebarkan jumlah utang itu terhadap warga Amerika, maka setiap orang Amerika mempunyai tunggakan sekitar $ 45.300.

Analis-analis lokal mengatakan, Amerika harus menghabiskan $ 1,3 trilyun lebih dari pendapatan dalam tahun yang sedang berjalan. Karena defisit anggaran meningkat sebesar $ 400 juta per hari, bisa dibayangkan bagaimana sirkulasi utang berjalan kesehariannya.

Ini berarti Amerika telah meminjam 40 sen dari setiap dolar yang dihabiskan. Pada tanggal 15 Januari, sekretaris keuangan AS mengatakan bahwa belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika. Ironisnya, kedua partai besar di negara itu saling menyalahkan krisis. Kongres terpaksa menghapus batasan hukum atas utang kepada pemerintah untuk meminjam lebih banyak uang, atau memotong pengeluaran dalam jumlah besar.

Tapi apa pun langkah yang diambil, tidak akan ada bedanya. Pada zaman perang, utang biasanya memang meningkat tetapi tidak akan pernah separah yang telah dijalan dalam periode Bush.

Masalahnya adalah bahwa bunga sebesar $ 6 triliun dolar akan ditambahkan ke utang senilai $ 14 triliun. Bunga aktual $ 9 ratus juta tapi untuk beberapa alasan menjadi naik ke angka $ 600 juta, dan ini karena;

A. pemerintah tidak dapat membayar kembali, sehingga bunga berkembang biak.

B. kreditur (negara, perusahaan, bank, individu dll) menaikkan suku bunga.

C. pemerintah telah kehilangan kredibilitasnya terhadap kreditur dan memaksakan peraturan yang dibuat sendiri.

D. pemerintah terus mengeluarkan pengeluaran untuk sector militer dan anggaran dalam tingkat tinggi. Oleh karena itu kedua perang Irak dan Afghanistan disokong oleh pinjaman.

Anggaran Pentagon untuk tahun 2011 mencapai $ 717 juta. Jumlah tambahan sebesar $ 200 miliar dialokasikan untuk perang di Afghanistan dan Irak dengan label "Perang Melawan Teror."

Uni Soviet sudah mati sekarang. Pakta Warsawa dimakamkan. Perang di Afghanistan dan Irak telah meninggalkan tiga pertanyaan utama yang belum terpecahkan:

1. Jika Bush tidak menjadi presiden, apakah Amerika akan menderita kehilangan begitu banyak?

2. Jika Bush tidak menjadi presiden, apakah Amerika tidak akan berada dalam utang separah ini?

3. Apakah Amerika tidak mengalami krisis begitu berat jika negara itu tidak berada dalam lingkaran itu?

Semua jawaban bisa sangat negatif. Perang Afghanistan dan Irak memengaruhi pasar saham. Perusahaan-perusahaan rusak dan bangkrut. Pada tahun 2007-2008, krisis regional yang besar dimulai. Hal ini mengantarkan defisit keuangan dan komersial—yang memengaruhi sektor perumahan. Ekonomi dilebur, dan tumbuh utang. Dolar dicetak tanpa dukungan apapun, menyusutkan nilai dan meningkatkan inflasi dan defisit keuangan.

Perusahaan-perusahaan besar mengalami puncak krisis, memaksa pemerintah untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan dengan memberikan mereka miliaran dolar. Semua ini mengelilingi Amerika seperti rantai dan seperti sulit untuk disingkirkan.

Bekas Uni Soviet tidak akan mengakui bahwa perang Afghanistan sudah menenggelamkan mereka. Dengan cara yang sama, Amerika tidak siap untuk menerima kenyataan pahit bahwa penyebab utama di balik krisis ini adalah perang Afghanistan.

Bagaimana dan kapan Amerika bisa mengentaskan angka $ 14,2 trilyun itu? Jawabannya masih ambigu. Apakah ini sebuah badai seperti ombak yang kuat dari Laut Merah, yang menelan Firaun, menelannya untuk selamanya? (sa/islampolicy)

Monday, January 24, 2011

Dan Ben Ali pun Melarikan Emas Negerinya.....


Tunisia adalah sebuah negara yang saat ini menjadi buah bibir banyak orang di seluruh dunia. Berawal dari seorang tukang sayur yang bergelar Bachelor bernama Bouazizi yang membakar dirinya sebagai aksi protes setelah di tampar oleh polisi, ayahnya dihina, dan gerobaknya di sita. Bouazizi akhirnya meninggal meninggalkan gelombang protes di seluruh negeri dan berakhir dengan tumbangnya Presiden saat itu Ben Ali. Dia dan keluarganya melarikan diri ke Arab Saudi setelah mendapat suaka politik Raja Abdullah.

Namun untuk melakukan pelarian tentu membutuhkan bekal. Dan salah satu bekal tersebut adalah emas. Tak tanggung-tanggung mereka membawa "kabur" 1,5 ton emas. Pada Desember tahun lalu, Tunisia menurut laporan World Gold Council memiliki cadangan emas 6,8 ton dan jumlah ini tidak berubah selama satu Dekade.

Kas negara Tunisia telah kehilangan 1,5 ton emas, menurut sebuah kelompok industri, di tengah laporan bahwa presiden terguling dan istrinya telah mengumpulkan harta kekayaan negara sebelum melarikan diri ke luar negeri. WGC secara teratur menerbitkan statistik global terhadap emas dan memiliki otoritas di sektor ini.

Ternyata Bank sentral Tunisia minggu ini mengatakan mereka cadangan emas mereka sekitar 5,3 ton, sekaligus membantah laporan bahwa keluarga mantan pemimpin Zine El Abidine Ben Ali telah menarik emas dengan mengatakan bahwa brankas bank "di bawah pengawasan keamanan yang ketat."Emas itu bernilai 45 juta euro (sekitar 60 juta dolar).

Menurut intelijen Perancis dikutip oleh harian Perancis Le Monde, istri Ben Ali, Leila Trabelsi telah pergi ke bank untuk menarik emas. Gubernur bank awalnya menolak, namun mundur di bawah tekanan dari Ben Ali sendiri. TV Perancis TF1 juga melaporkan bahwa emas tersebut ditarik pada akhir Desember lalu.

Ternyata emas memang sebuah safe haven bahkan bagi seorang pelarian politik sekaliber Ben Ali. Tetapi tentunya di akhirat asetnya tersebut tidaklah safe haven sebab dia harus bertanggung jawab atas seluruh kepemilikan hartanya selama di dunia.

wallahu 'alam

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/terbukti-tunisia-memang-kehilangan-1-5-ton-emas-mereka.htm

Friday, January 14, 2011

Sejarah Standard Emas di Inggris I

Sistem bimetalik adalah nama yang diberikan pada standard emas dimana biasanya emas maupun perak berfungsi sebagai mata uang negara dalam rasio yang ditentukan secara legal. Pembuatan uang koin perak dari berat tertentu akan dinyatakan mempunyai nilai yang sama dengan emas dari berat yang berbeda. Standard tersebut dikatakan beroperasi guna memungkinkan jumlah koin beredar yang memadai dalam bentuk yang sesuai pada keseluruhan perekonomian.

Keputusan penangguhan pembayaran emas atas klaim pada uang kertas pada tahun 1797 yang dijadikan dasar oleh Bank of England untuk tidak lagi wajib membayar setiap klaim atas setiap penerbitan uang kertasnya secara resmi dibatalkan pada tahun 1821. Pemberlakuan konversi uang kertas menjadi emas diberlakukan secara bertahap berdasarkan pada Liverpool Act yang diberlakukan pada tahun 1816, yang mendefinisikan satu sovereign sebagai 113 butir emas halus. Sovereign dikeluarkan mulai tahun 1817 dan secara bertahap mulai beredar. Bank Notes tetap tidak bisa dikonversi sampai dengan April 1817 ketika Bank of England menawarkan untuk menguangkan notes dibawah nilai 5 poundsterling dengan emas, khusus untuk notes yang dikeluarkan sebelum tahun 1816. Karena jumlah notes yang beredar hanya bernilai 1 juta Poundsterling, suatu jumlah permintaan untuk mengkonversi mata uang yang cukup. Pada bulan Oktober 1817, Bank of England menawarkan konversi untuk semua notes yang diterbitkan sebelum tahun 1817 .Pada tahun 1821, semua notes dinyatakan bisa ditukarkan dengan emas dan standard emas penuh menjadi kenyataan. Setelah itu peredaran uang telah mencakup uang kertas yang bisa dikonversi, sovereign emas dan koin perak subsider.

Pendekatan ekonomi Inggris yang memberikan dasar bagi stabilitas ekonomi ini kemudian ditiru oleh berbagai negara, baik di dalam koloni-koloni Inggris maupun pusat-pusat kekuasaan yang bersaing. Portugal mengadopsi standard emas tahun 1854, Kanada pada tahun 1867, Jerman pada tahun 1873, AS pada tahun 1879, Austria-Hongaria pada tahun 1892, dan Rusia serta Jepang pada tahun 1897. Akan tetapi, sebelum sampai kepada penyatuan standard emas yang baru, telah terdapat berbagai standard internasional yang memiliki dasar operasional berbeda. Sebagai contoh misalnya Jerman telah mengoperasikan standard perak, AS standard bimetalik emas dan perak, sedangkan Rusia mengoperasikan sistem mata uang kertas yang tidak bisa dikonversi .

Upaya-upaya untuk menggunakan standard logam berharga sebagai suatu dasar bagi stabilitas moneter seringkali gagal karena kecurangan yang dilakukan oleh negara di dalam menurunkan nilai mata uangnya. Penurunan dalam kandungan logam berharga dari unit mata uang yang ada. Penurunan dalam kandungan logam ini dicapai melalui pembuatan ulang koin tersebut. Di dalam pembuatan ulang tersebut, koin yang ada akan dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah dan ditarik ke percetakan uang untuk dilebur . Jadi bungkah logam yang ditarik itu selanjutnya akan digunakan untuk membuat koin baru, masing-masing koin mempunyai nilai nominal yang sama sebagaimana peredaran sebelumnya tetapi dengan lebih sedikit logam berharga per koin. Jumlah logam berharga yang tersisa dari pekerjaan tersebut akan menjadi milik negara, dan bisa dijadikan koin dan digunakan untuk mendanai pengeluaran baru. Hak tersebut merupakan contoh pertama dimana negara secara efektif menyita kekayaan dari warga negara guna meningkatkan pendapatan. Dalam konteks saat ini, praktek seperti itu merupakan upaya ekspansi dari penerbitan uang kertas negara melalui proses devaluasi uang beredar melalui mekanisme inflasi, namun perbedaannya bahwa upaya ekspansi tidak membutuhkan proses pencetakan uang.
Di awal abad pertengahan, penny perak merupakan satu-satunya nilai koin dalam peredaran uang yang umum dan berlaku di hampir semua wilayah di benua Eropa. Pada tahun 1257, Henry III berupaya memperkenalkan koin emas ke dalam peredaran tetapi gagal karena rasio bimetal dengan perak ditetapkan kira-kira 10, suatu rasio yang terlalu rendah dibandingkan hubungan dengan hubungan pasar bungkah perak yang ada. Pada tahun 1279 diperkenalkan kembali koin Edward I, setelah penny yang bundar dan fourthings (kemudian dikenal sebagai farthings). Nilai mata uang yang kecil ini sebelumnya pernah dibuat dengan memotong penny yang bundar menjadi separuhnya atau seperempatnya.

Sementara itu di Italia, pembuatan koin emas menjadi mode. Genoa mengeluarkan koin emas pada tahun 1252 yang diikuti oleh Florence dan Lucca. Venice mengandalkan pada koin Byzantium untuk beberapa waktu lamanya, namun selanjutnya mengeluarkan ducat emas yang kemudian diterima secara luas di seluruh mediterania timur. Ini merupakan suatu contoh upaya penggabungan mata uang tanpa mewajibkan bersatunya orientasi politik. Kenaikan permintaan terhadap emas akibat meningkatnya penerbitan koin emas selanjutnya meningkatkan harga emas di seluruh Italia. Rasio bimetalik antara emas dan perak di Venice naik dari kira-kira 1 : 10 menjadi di atas 1 : 14 pada akhir abad ke 13, yang mengakibatkan gagalnya upaya penerapan koin emas Henry III di Inggris. Sementara itu, adanya unit moneter yang diakui secara luas dan bisa diandalkan dan adanya akumulasi stok emas, membantu membangun supremasi masyarakat perbankan Italia.

Di Inggris, 'Great Debasement' yang mengakibatkan turunnya bobot penny hampir sampai sepertiga berat pada tahun 1542 sampai 1551 di Inggris. Namun yang lebih penting bahwa kandungan perak dari koin baru yang lebih ringan itu sendiri berkurang. Lebih parahnya lagi, hanya seperempat dari bobot koin baru yang terbuat dari perak, sisa yang tiga perempat terbuat dari tembaga. Mata uang koin pound emas juga mengalami penurunan dalam kandungan emasnya sebesar sepertiga dari berat semula. Akibat penurunan kadar ini (debasement), rasio tukar bimetalik akhirnya berubah dari satu unit emas untuk sekitar sebelas perak sampai menjadi suatu rasio satu koin emas menjadi lima perak. Henry VIII adalah pemimpin yang mewarisi (dari Henry VII) suatu bentuk mata uang yang kuat dan kemudian mewariskan kepada Edward VI suatu mata uang yang sudah berkurang kekuatannya dengan keputusan untuk meningkatkan seinorage (selisih nilai bahan baku dengan nilai nominal uang-melalui kebijakan enam recoinage). Di bawah Protector Somerset, debasement terus berlanjut melalui beberapa kali proses recoinage lagi. Apabila terjadi debasement, Hukum Gresham akan berlaku. 'Bad money would drive out good money'. koin-koin yang belum mengalami debasement akan hilang dari peredaran.
bersambung