www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Monday, March 5, 2012

Ibrahim Al Harbi dan buku-bukunya


Khathib Al-Baghdadi berkata dalam Tarikh Baghdad, VI: 31, Ibnu Abu Ya’la dalam Thabaqatul Hanabilah I: 86-88, dan Syamsuddin An-Nablusi dalam Mukhtasar-nya hal. 51 dan 294, tentang biografi Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi (lahir tahun 198 H, dan wafat tahun 285 H di Baghdad). Ia seorang imam dan simbol dalam hal ilmu, kezuhudan, fiqih, hadis, sastra, dan bahasa,

Khathib Al-Baghdadi berkata, bahwa Ibrahim Al-Harbi pernah menuturkan, “Aku telah menghabiskan umurku selama 30 tahun hanya dengan memakan dua potong roti. Jika ibuku atau saudaraku perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam yang kedua.

Aku juga telah menghabiskan 30 tahun dari umurku hanya dengan memakan satu potong roti setiap harinya. Jika istriku atau salah seorang anak perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam berikutnya.

Sekarang aku makan hanya dengan setengah potong roti dan empat butir kurma jika itu kurma bagus, atau dua puluh lebih jika itu kurma jelek. Tatkala anak perempuanku sakit, maka istriku mengunjunginya dan selalu merawatnya selama satu bulan penuh. Jatah berbukaku dalam sebulan ini hanya dengan satu dirham dan dua setengah daniq! Aku masuk pemandian, lalu membeli sabun untuk keluargaku dengan harga 2 daniq. Jadi, jatah belanjaku selama bulan Ramadhan ini adalah satu dirham dan empat setengah daniq.”

Abul Qasim bin Bukair berkata, “Aku pernah mendengar Ibrahim Al-Harbi menuturkan, ‘Kami tak pernah mengenal masakan-masakan ini sedikit pun. Dari sore berikutnya, ibuku hanya menyediakan maknanan untukku, berupa terong bakar atau sepotong lemak, atau sepirik lobak.”

Abu Ali Al-Khayyath (si penjahit), yang lebih dikenal dengan julukan Al-Mayyit (si mayit) bercerita, “Pada suatu hari, aku duduk bersama Ibrahim Al-Harbi di pintu rumahnya. Tatkala memasuki pagi hari, ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Ali, pergilah menunaikan kesibukanmu. Aku mempunyai sebuah lobak. Tadi maalm aku telah memakan daunnya. Sekarang aku akan memakan batangnya’.”

Kemudian Khathib Al-Baghdadi merwiyatkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Ahmad bin Salman An-Najjad, salah seorang ahli hadis dari kalangan ulama madzhab Hanbali angkatan pertama, juga salah seorang ahli fiqih yang miskin, namun tetap bersyukur, semoga Allah merahmatinya. Ahmad bin Salman An-Najjad Al-Qathi’i berkata, “Aku mengalami kesulitan hidup yang sangat. Maka, aku pergi menemui Ibrahim Al-Harbi untuk mengatakan kepadanya apa yang aku alami. Ia mengatakan kepadaku, ‘Janganlah dadamu merasa sempit, karena Allah pasti akan menolongmu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Bahkan, sampai pada tingkat keluargaku tidak memiliki apa-apa untuk mereka makan. Kemudian istriku berkata kepadaku, ‘Anggap saja aku dan kamu bisa bersabar, lalu bagaimana dengan dua anak perempuan yang masih kecil ini? Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau gadaikan saja!’ Aku tak setuju dengan usulan istriku itu. Kukatakan kepadanya, ‘Berutanglah sesuatu untuk kedua anak perempuan kita. Beri aku kesempatan sampai besok pagi.’

Aku mempunyai sebuah kamar di salah satu sudut rumah untuk menyimpan buku-bukuku. Di dalamnya aku biasa duduk untuk menyalin buku dan mengkajinya. Pada malam itu ada seseorang mengetuk pintuku. Aku bertanya, ‘Siapa itu?’ Ia menjawab, ‘Seorang tetangga.’ Kukatakan, ‘Silakan masuk.’ Ia berkata, ‘Matikan dulu lampumu, baru aku masuk.’

Aku pun meredupkan sedikit lampuku, lalu kukatakan, Masuklah.’ Maka, ia masuk ke kamar di salah satu sudut rumah itu dan meletakkan sebuah kantong besar. Ia mengatakan kepadaku, ‘Kami membuat makanan yang cukup enak buat anak-anak kami, maka kami ingin kamu dan anak-anakmu mendapatkan bagian darinya. Adapun ini sesuatu yang lain.’ Ia meletakkannya di samping kantong besar itu seraya berkata, ‘Gunakan ia untuk keperluanmu.’ Aku tidak mengenal laki-laki itu. Lalu, ia meninggalkanku dan berlalu.

Aku memanggil istriku. Kukatakan kepadanya, “Nyalakan lampu.” Ia pun menyalakan lampu dan segera datang. Ternyata kantong tersebut berupa bungkusan makanan yang besar. Isinya lima puluh wadah makanan. Masing-masing wadah makanan itu berisi aneka jenis makanan. Dan, di samping bungkusan besar itu terdapat kantong berisi uang 1.000 dinar. Maka, aku berkata kepada istriku, “Bangunkan anak-anak agar mereka bisa makan.” Esok harinya kami melunasi utang dari uang tersebut.

Kala itu waktu kedatangan jamaah haji dari Khurasan. Aku duduk di pintu rumahku pada esok hari setelah kejadian malam itu. Tiba-tiba datanglah seorang pemelihara unta yang menuntun dua ekor unta dengan mengangkut dua karung rezeki di punggungnya. Ia menanyakan tentang rumah Ibrahim Al-Harbi. Tatkala ia tiba di depanku, kukatakan, ‘Aku Ibrahim Al-Harbi.” Kemudian ia menurunakn dua karung rezeki itu seraya berkata, ‘Dua karung ini adalah kiriman seseorang dari penduduk Khurasan.’ Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Ia menjawab, ‘Ia telah memintaku bersumpah agar tidak mengatakan siapa dia.’

Ahmad bin Salman An-Najjad berkata, ‘Aku pun beranjak dari samping Ibrahim Al-Harbi. Aku pergi ke kuburan Ahmad. Aku menziarahinya, lalu pulang. Tatkala aku sedang berjalan di pinggir parit, tiba-tiba ada seorang wantia tua tetangga kami berpapasan denganku. Ia bertanya kepadaku, ‘Mengapa kamu bersedih?’ Maka, aku menceritakan kepadanya apa yang kualami. Ia berkata, ‘Sebelum wafat, ibumu telah memberiku 300 dirham. Ibumu berpesan, ‘Simpanlah uang ini di rumahmu. Jika kamu melihat anakku mengalami kesulitan dan bersedih, maka berikanlah uang itu kepadanya.’ Oleh karena itu, ikutilah aku. Aku akan berikan uang tersebut kepadamu.’ Aku pun pergi mengikutinya, lalu ia memberikan uang tersebut kepadaku.”

Ahmad bin Salman An-Najjad ini, sebagaimana dikatakan oleh Khathib Al-Baghdadi saat menjelaskan tentang biografinya dalam Tarikh Baghdad, IV: 191, ia selalu berpuasa setahun penuh. Setiap malam, ia berbuka dengan satu potong roti dan menyisakan satu suapan. Jika malam Jumat tiba, maka jatah berbukanya ia sedekahkan, sementara ia sendiri berbuka dengan suapan-suapan yang sebelumnya telah ia sisihkan.

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Abul Qasim bin Al-Jabali, ia berkata, “Ibrahim Al-Harbi menderita suatu penyakit, hingga hampir wafat. Suatu hari, aku menjenguknya. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Qasim, aku menghadapi masalah besar dengan anak perempuanku.’ Kemudian ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Berdirilah, temuilah pamanmu.’ Anak perempuan itu pun keluar dan membuka cadarnya. Ibrahim berkata kepada anak perempuannya, ‘Ini adalah pamanmu, berbicaralah dengannya.’

Anak perempuan itu berkata, ‘Wahai paman, kami menghadapi masalah besar! Tapi tak terkait masalah dunia maupun akhirat! Selama satu bulan, satu tahun, kami tidak mempunyai makanan selain potongan-potongan roti kering dan garam. Terkadang tanpa garam. Kemarin Al-Mu’tadhid mengirimkan uang 1.000 dinar kepada bapak melalui Badar, tetapi bapak menolaknya. Fulan dan fulan juga mengirim uang kepada bapak, tetapi bapak juga tidak mengambil sedikit pun. Padahal bapak sedang sakit.’

Ibrahim menoleh ke arah anak perempuannya sambil tersenyum. Ia bertanya kepada anak perempuannya, ‘Wahai anakku, kamu takut miskin?’ Anak perempuannya menjawab, ‘Benar.’ Maka, ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Lihatlah ke sudut itu.’ Anak perempuan itu melihat ke arah yang ditunjukkan bapaknya. Ternyata ada banyak buku. Kemudian Ibrahim berkata, ‘Di sana ada 12.000 juz buku bahasa dan kata-kata sulit. Aku telah menulisnya dengan tulisan tanganku. Jika aku mati, ambillah setiap hari satu juz. Kamu bisa menjualnya dengan harga satu dirham. Orang yang mempunyai 12.000 dirham, maka ia bukanlah orang miskin.”

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya, dan Ibnul Jauzi dalam Manaqibul Imam Ahmad, Hal. 508, dengan sanadnya pula yang disandarkan kepada Abu Imran Al-Asyyab, ia berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibrahim Al-Harbi, ‘Bagaimana Anda mampu mengumpulkan buku-buku ini?’ Mendengar pertanyaan itu, Ibrahim Al-Harbi marah seraya berkata, ‘Aku mampu mengumpulkan buku-buku ini dengan daging dan darahku! Dengan daging dan darahku!”

Penulis berkomentar, bahwa jika kita mengetahui begitu cintanya Ibrahim Al-Harbi dengan buku-bukunya, dan bagaimana cara ia mengumpulkan buku-buku itu, yaitu dengan daging dan darahnya, maka mana mungkin ia mau menuruti saran istrinya saat berkata kepadanya, “Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau kita gadaikan saja.”

Buku-buku bagi para istri laksana istri kedua suami yang merugikannya. Begitu para istri itu tertimpa kesulitan untuk pertama kalinya, maka pikiran mereka langsung tertuju kepada buku-buku itu untuk dijual dan dikeluarkan dari rumah. Adapun buku-buku bagi para ulama laksana para saudara sekaligus penolongnya. Manakala mereka ditimpa kesempitan, mereka akan mampu bersabar bila harus kelaparan, tidak memiliki pakaian, dan miskin. Akan tetapi, mereka takkan ammpu bersabar bila harus berpisah dengan buku-buku tersebut dan menjualnya.

Khathib Al-Baghdadi berkata dalam Tarikh Baghdad, VI: 31, Ibnu Abu Ya’la dalam Thabaqatul Hanabilah I: 86-88, dan Syamsuddin An-Nablusi dalam Mukhtasar-nya hal. 51 dan 294, tentang biografi Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi (lahir tahun 198 H, dan wafat tahun 285 H di Baghdad). Ia seorang imam dan simbol dalam hal ilmu, kezuhudan, fiqih, hadis, sastra, dan bahasa,

Khathib Al-Baghdadi berkata, bahwa Ibrahim Al-Harbi pernah menuturkan, “Aku telah menghabiskan umurku selama 30 tahun hanya dengan memakan dua potong roti. Jika ibuku atau saudaraku perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam yang kedua.

Aku juga telah menghabiskan 30 tahun dari umurku hanya dengan memakan satu potong roti setiap harinya. Jika istriku atau salah seorang anak perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam berikutnya.

Sekarang aku makan hanya dengan setengah potong roti dan empat butir kurma jika itu kurma bagus, atau dua puluh lebih jika itu kurma jelek. Tatkala anak perempuanku sakit, maka istriku mengunjunginya dan selalu merawatnya selama satu bulan penuh. Jatah berbukaku dalam sebulan ini hanya dengan satu dirham dan dua setengah daniq! Aku masuk pemandian, lalu membeli sabun untuk keluargaku dengan harga 2 daniq. Jadi, jatah belanjaku selama bulan Ramadhan ini adalah satu dirham dan empat setengah daniq.”

Abul Qasim bin Bukair berkata, “Aku pernah mendengar Ibrahim Al-Harbi menuturkan, ‘Kami tak pernah mengenal masakan-masakan ini sedikit pun. Dari sore berikutnya, ibuku hanya menyediakan maknanan untukku, berupa terong bakar atau sepotong lemak, atau sepirik lobak.”

Abu Ali Al-Khayyath (si penjahit), yang lebih dikenal dengan julukan Al-Mayyit (si mayit) bercerita, “Pada suatu hari, aku duduk bersama Ibrahim Al-Harbi di pintu rumahnya. Tatkala memasuki pagi hari, ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Ali, pergilah menunaikan kesibukanmu. Aku mempunyai sebuah lobak. Tadi maalm aku telah memakan daunnya. Sekarang aku akan memakan batangnya’.”

Kemudian Khathib Al-Baghdadi merwiyatkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Ahmad bin Salman An-Najjad, salah seorang ahli hadis dari kalangan ulama madzhab Hanbali angkatan pertama, juga salah seorang ahli fiqih yang miskin, namun tetap bersyukur, semoga Allah merahmatinya. Ahmad bin Salman An-Najjad Al-Qathi’i berkata, “Aku mengalami kesulitan hidup yang sangat. Maka, aku pergi menemui Ibrahim Al-Harbi untuk mengatakan kepadanya apa yang aku alami. Ia mengatakan kepadaku, ‘Janganlah dadamu merasa sempit, karena Allah pasti akan menolongmu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Bahkan, sampai pada tingkat keluargaku tidak memiliki apa-apa untuk mereka makan. Kemudian istriku berkata kepadaku, ‘Anggap saja aku dan kamu bisa bersabar, lalu bagaimana dengan dua anak perempuan yang masih kecil ini? Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau gadaikan saja!’ Aku tak setuju dengan usulan istriku itu. Kukatakan kepadanya, ‘Berutanglah sesuatu untuk kedua anak perempuan kita. Beri aku kesempatan sampai besok pagi.’

Aku mempunyai sebuah kamar di salah satu sudut rumah untuk menyimpan buku-bukuku. Di dalamnya aku biasa duduk untuk menyalin buku dan mengkajinya. Pada malam itu ada seseorang mengetuk pintuku. Aku bertanya, ‘Siapa itu?’ Ia menjawab, ‘Seorang tetangga.’ Kukatakan, ‘Silakan masuk.’ Ia berkata, ‘Matikan dulu lampumu, baru aku masuk.’

Aku pun meredupkan sedikit lampuku, lalu kukatakan, Masuklah.’ Maka, ia masuk ke kamar di salah satu sudut rumah itu dan meletakkan sebuah kantong besar. Ia mengatakan kepadaku, ‘Kami membuat makanan yang cukup enak buat anak-anak kami, maka kami ingin kamu dan anak-anakmu mendapatkan bagian darinya. Adapun ini sesuatu yang lain.’ Ia meletakkannya di samping kantong besar itu seraya berkata, ‘Gunakan ia untuk keperluanmu.’ Aku tidak mengenal laki-laki itu. Lalu, ia meninggalkanku dan berlalu.

Aku memanggil istriku. Kukatakan kepadanya, “Nyalakan lampu.” Ia pun menyalakan lampu dan segera datang. Ternyata kantong tersebut berupa bungkusan makanan yang besar. Isinya lima puluh wadah makanan. Masing-masing wadah makanan itu berisi aneka jenis makanan. Dan, di samping bungkusan besar itu terdapat kantong berisi uang 1.000 dinar. Maka, aku berkata kepada istriku, “Bangunkan anak-anak agar mereka bisa makan.” Esok harinya kami melunasi utang dari uang tersebut.

Kala itu waktu kedatangan jamaah haji dari Khurasan. Aku duduk di pintu rumahku pada esok hari setelah kejadian malam itu. Tiba-tiba datanglah seorang pemelihara unta yang menuntun dua ekor unta dengan mengangkut dua karung rezeki di punggungnya. Ia menanyakan tentang rumah Ibrahim Al-Harbi. Tatkala ia tiba di depanku, kukatakan, ‘Aku Ibrahim Al-Harbi.” Kemudian ia menurunakn dua karung rezeki itu seraya berkata, ‘Dua karung ini adalah kiriman seseorang dari penduduk Khurasan.’ Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Ia menjawab, ‘Ia telah memintaku bersumpah agar tidak mengatakan siapa dia.’

Ahmad bin Salman An-Najjad berkata, ‘Aku pun beranjak dari samping Ibrahim Al-Harbi. Aku pergi ke kuburan Ahmad. Aku menziarahinya, lalu pulang. Tatkala aku sedang berjalan di pinggir parit, tiba-tiba ada seorang wantia tua tetangga kami berpapasan denganku. Ia bertanya kepadaku, ‘Mengapa kamu bersedih?’ Maka, aku menceritakan kepadanya apa yang kualami. Ia berkata, ‘Sebelum wafat, ibumu telah memberiku 300 dirham. Ibumu berpesan, ‘Simpanlah uang ini di rumahmu. Jika kamu melihat anakku mengalami kesulitan dan bersedih, maka berikanlah uang itu kepadanya.’ Oleh karena itu, ikutilah aku. Aku akan berikan uang tersebut kepadamu.’ Aku pun pergi mengikutinya, lalu ia memberikan uang tersebut kepadaku.”

Ahmad bin Salman An-Najjad ini, sebagaimana dikatakan oleh Khathib Al-Baghdadi saat menjelaskan tentang biografinya dalam Tarikh Baghdad, IV: 191, ia selalu berpuasa setahun penuh. Setiap malam, ia berbuka dengan satu potong roti dan menyisakan satu suapan. Jika malam Jumat tiba, maka jatah berbukanya ia sedekahkan, sementara ia sendiri berbuka dengan suapan-suapan yang sebelumnya telah ia sisihkan.

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Abul Qasim bin Al-Jabali, ia berkata, “Ibrahim Al-Harbi menderita suatu penyakit, hingga hampir wafat. Suatu hari, aku menjenguknya. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Qasim, aku menghadapi masalah besar dengan anak perempuanku.’ Kemudian ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Berdirilah, temuilah pamanmu.’ Anak perempuan itu pun keluar dan membuka cadarnya. Ibrahim berkata kepada anak perempuannya, ‘Ini adalah pamanmu, berbicaralah dengannya.’

Anak perempuan itu berkata, ‘Wahai paman, kami menghadapi masalah besar! Tapi tak terkait masalah dunia maupun akhirat! Selama satu bulan, satu tahun, kami tidak mempunyai makanan selain potongan-potongan roti kering dan garam. Terkadang tanpa garam. Kemarin Al-Mu’tadhid mengirimkan uang 1.000 dinar kepada bapak melalui Badar, tetapi bapak menolaknya. Fulan dan fulan juga mengirim uang kepada bapak, tetapi bapak juga tidak mengambil sedikit pun. Padahal bapak sedang sakit.’

Ibrahim menoleh ke arah anak perempuannya sambil tersenyum. Ia bertanya kepada anak perempuannya, ‘Wahai anakku, kamu takut miskin?’ Anak perempuannya menjawab, ‘Benar.’ Maka, ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Lihatlah ke sudut itu.’ Anak perempuan itu melihat ke arah yang ditunjukkan bapaknya. Ternyata ada banyak buku. Kemudian Ibrahim berkata, ‘Di sana ada 12.000 juz buku bahasa dan kata-kata sulit. Aku telah menulisnya dengan tulisan tanganku. Jika aku mati, ambillah setiap hari satu juz. Kamu bisa menjualnya dengan harga satu dirham. Orang yang mempunyai 12.000 dirham, maka ia bukanlah orang miskin.”

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya, dan Ibnul Jauzi dalam Manaqibul Imam Ahmad, Hal. 508, dengan sanadnya pula yang disandarkan kepada Abu Imran Al-Asyyab, ia berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibrahim Al-Harbi, ‘Bagaimana Anda mampu mengumpulkan buku-buku ini?’ Mendengar pertanyaan itu, Ibrahim Al-Harbi marah seraya berkata, ‘Aku mampu mengumpulkan buku-buku ini dengan daging dan darahku! Dengan daging dan darahku!”

Penulis berkomentar, bahwa jika kita mengetahui begitu cintanya Ibrahim Al-Harbi dengan buku-bukunya, dan bagaimana cara ia mengumpulkan buku-buku itu, yaitu dengan daging dan darahnya, maka mana mungkin ia mau menuruti saran istrinya saat berkata kepadanya, “Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau kita gadaikan saja.”

Buku-buku bagi para istri laksana istri kedua suami yang merugikannya. Begitu para istri itu tertimpa kesulitan untuk pertama kalinya, maka pikiran mereka langsung tertuju kepada buku-buku itu untuk dijual dan dikeluarkan dari rumah. Adapun buku-buku bagi para ulama laksana para saudara sekaligus penolongnya. Manakala mereka ditimpa kesempitan, mereka akan mampu bersabar bila harus kelaparan, tidak memiliki pakaian, daTautann miskin. Akan tetapi, mereka takkan ammpu bersabar bila harus berpisah dengan buku-buku tersebut dan menjualnya.

(Pz/Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Zam Zam, Cetakan:1: 2008)

Wednesday, February 8, 2012

Pidato De Gaulle tahun 1965 : Krisis Dollar

Pada pertengahan tahun 1944 ketika AS merasa telah memenangi sebagian besar Perang Dunia II,mereka memprakarsai konferensi Bretton Woods. Hasil kesepakatan Bretton Woods tentu menguntungkan AS sebagai penggagas. Inti kesepakatan Bretton Woods adalah janji AS untuk mendukung uang Dollarnya secara penuh dengan emas yang nilainya setara. Kesetaraan ini mengikuti konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh Presiden Roosevelt yaitu US$35 untuk 1 troy ounce emas (setara dengan 31 gr emas). Negara-negara lain yang mengikuti kesepakatan tersebut awalnya diijinkan untuk menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap Dollar. Dengan kesepakatan ini seharusnya siapapun yang memegang Dollar dengan mudah menukarnya dengan emas yang setara.

Namun kesepakatan Bretton Woods yang digagas AS ternyata diingkari sendiri olehnya. Secara perlahan tapi pasti mereka ternyata mengeluarkan uang yang melebihi kemampuan cadangan emasnya, bahkan secara sepihak mereka tidak lagi mengijinkan mata uang lain disetarakan terhadap emas atau harus dengan Dollar. Pemegang Dollar juga tidak bisa serta merta menukarnya dengan emas yang setara, tentu hal ini karena AS memang tidak memiliki jumlah cadangan emas yang seharusnya dimiliki setara dengan jumlah uang yang mereka keluarkan--saat itu AS hanya memiliki 22% dari jumlah cadangan emas yang harusnya mereka miliki!. Ketidakadilan ini mulai mendapat protes dari sekutu AS sendiri yaitu Generale De Gaulle Presiden Perancis (1959-1969) yang menyebut kesewenangan AS sebagai mengambil hak istimewa yang berlebihan (exorbitant privilege) pada tahun 1968.

Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1965, De Gaulle dalam pidatonya memperingatkan bahwa Dollar akan mengalami krisis. Dan memang pada tahun 1971 Dollar mengalami puncak krisis setelah Presiden AS saat itu Richard Nixon memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan Dollarnya dengan cadangan emas yang mereka miliki--karena memang mereka tidak mampu lagi!

Berikut pidato De Gaulle yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sbb :

Many countries accept as principle dollar as good as gold for the payment, of the difference existing to their advantage in the american balance of trade, this fact, lead americans into the debt, and to get to the debt for free, at the expenxe of other countries, because what the US owes them, it is paid, at least in part, with dollars they are the only allowed to emit considering the serious consequences a crisis would have, in such a domain we think that measures must be taken on time to avoid it we consider necessary international trade be established, as it was the case before the great misfortunes of the world on an indisputeable monetary base,and one that does not bear the mark of any paticular country.Which base? in truth, no one see,how one could really have..any standard criterion other than gold... (Banyak negara yang menerima secara prinsip bahwa Dollar memiliki nilai sebaik emas sebagai alat pembayaran, yang mana selisih nilai antara keduanya (Dollar dan Emas) menjadi keuntungan AS dalam nercara perdangannya. Fakta ini, sesungguhnya membawa orang Amerika dalam perangkap utang, dan bebas dari utang tersebut karena melemparkan tanggung jawab utang tersebut ke negara lain (yang memegang dollar). Karena ketika AS semestinya berutang kepada mereka, dianggap lunas dengan berlakunya dollar sebagai mata uang resmi internasional. Maka pada akhirnya ketika hanya dollar menjadi satu-satunya mata uang internasional , maka berdampak pada krisis serius yang kita hadapi, maka pada saatnya timbangan dollar sebagai mata uang utama dunia mesti dihindari, agar perdagangan internasional tetap berjalan, sebelum kerugian besar dunia dalam standar moneter yang meragukan (dollar AS) benar-benar terjadi, dan tidak merasa menjadi mata uang paling sempurna terhadap negara lain. Jadi apa standar moneternya? sejujurnya , tidak ada standar moneter yang seharusnya (layak) sebagai standar moneter selain emas....

sumber :
1. Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham (M.Iqbal, 2007)
2. Pidato De Gaulle (Dollar Crisis, 1965)http://www.youtube.com/watch?v=i-g2iGskFPE

Monday, January 30, 2012

Tamu Tak Diundang

Berikut kami sajikan salah satu tulisan dari Murray Polliit seorang pakar keuangan dalam investasi logam mulia asal Kanada yang juga pendiri Polliit & Co.Inc. Polliit meninggal tanggal 5 Februari 2012 lalu dalam usia 71 tahun.

Ketika kami menulis artikel sebulan lalu, kami tidak pernah membayangkan harga emas akan jatuh sedemekian rupa pada pekan terakhir 2011. Sekali lagi fase penurunan harga emas sedang terjadi, dan yang lebih penting lagi, pasar sedang di "bersihkan". Pada pekan-pekan terakhir ini harga sedang terguncang, menyiapkan panggung, dan akhirnya, bersiap-siap untuk undakan kenaikan harga yang sesungguhnya (seperti mulai terjadi pada akhir pekan kemarin). Kami juga menduga bahwa suplay emas dunia akan memasuki periode penurunan jangka panjang, sebuah pendapat yang bisa saja ditentang oleh sebagian pembaca yang keberatan. Kami melihatnya demikian karena ini memang bisnis yang pasti akan habis (karena emas adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak, batu bara dll). Di hampir seluruh area cadangan dan tingkat bijih emas mengalami penurunan selama hampri 50 tahun terakhir ini. Berapapun harganya bila tidak ada bijih emas, maka tidak ada produksi. Ada 3 alasan utama suplay barang tambang (khususnya emas) akan mulai mengalami penurunan, tetapi kondisi suplay bijih emas adalah salah satu alasan utama sbb :
1) Ironisnya kebijakan moneter terhadap emas yang tidak konsisten yang membuat pesimis para pengusaha tambang. Dalam rangka menjaga mitos bahwa Dollar dan Euro (don't laugh) lebih baik dari emas, bank sentral negara-negara telah menjual emas baik terang-terangan atau diam-diam untuk menekan harga (sehingga harga emas undervalued) . Mereka menjual emas dalam jumlah besar lebih dari 500 juta ounces (1 ounce sekitar 31 gr) selama 50 tahun terakhir. The Gold Pool,yang beroperasi sejak tahun 1960 oleh bank-bank sentral barat untuk menjaga harga emas tetap US$35, telah amat merusak industri tambang emas karena kebijakan bank sentral tersebut mematok harga pada tingkat sub-ekonomis selama 10 tahun lebih dalam pasar bebas. Mereka dapat bertahan dalam masa itu dengan menurunkan kadar nilai emasnya. Ketika Gold Pool menyerah karena tidak mampu lagi menjaga harga emas tetap di angka US$35 /ounce dan harga emas melejit (mengalami kenaikan signifikan lebih 15 kali) hampir tidak pernah lagi berdiri tambang baru karena :
a). Industri telah gulung tikar (suplay emas jatuh pada 1970) dan
b).Industri tidak dapat diselamatkan lagi akibat ancaman dari IMF untuk menghentikan tambang, pelelangan emas oleh IMF, pelelangan emas oleh Depkeu AS, propaganda yang konstan tentang demonetisasi (menghentikan standar moneter berbasis emas), dan tentu saja dekade ini diakhiri dengan guyuran hujan kredit dari Paul Volker( Ketua Dewan Penasihat Perbaikan Ekonomi AS Februari 2009-Januari 2011).
Produksi Underground Gold (UG) (penambangan emas metode ekstraktif dengan cara membuat terowongan ke dalam bumi), berdasarkan catatan sekitar 80% dari suplay emas pada saat itu, dan mencapai puncaknya pada dekade tersebut dan tidak pernah kembali bangkit.
Era 1980-an dan 1990-an kita melihat perubahan besar dalam indstri emas. Rekor baru harga emas pada harag US$300/ounce, tidak cukup untuk menghidupkan kembali industri Underground Gold, namun cukup untuk merangsang pembangunan open pit mines (metode penambangan dimana barang tambang yang bernilai berada dekat dibawah permukaan bumi), sehingga tidak perlu penggalian dalam sebagaimana UG, terutama karena kehadiran alat penambangan baru yang dapat meningkatkan efisiensi dengan tajam. Open pit mines teknologinya lebih dekat kepada proyek teknik sipil dibanding proyek penambangan. Bagaimanapun juga, banyak open pit mines yang dibangun tepat di atas atau dekat lahan bekas penambangan UG yang telah lama, operasi di atas endapan sungai atau bekas laham garimpero mining atau penambangan rakyat sporadis akibat demam emas.

Apakah Anda ingat Bulolo Gold Dredging (penambangan emas di dasar sungai Bulolo Papua New Guinea) atau Cripple Creek (penambangan emas di dasar sungai yang terletak di Virginia AS)? Dalam 20 tahun terakhir mulai 1980 hingga 2000 produksi industri emas dari open pit mines (dan cadangannya) mulai naik (kurang lebih 2 kali lipatnya) sementara produksi UG mulai merosot. Produksi emas secara keseluruhan mencapai puncaknya pada tahun 2000, yaitu hampir 2 kali lipat dari produksi tahun 1980. Tetapi produksi emas mulai mendatar pada dekade ini dan menampakkan tren menurun, meskipun harga sudah lebih tinggi. Industri tentu saja mengamati terus menerus cadangan ini. Hari ini produksi UG hanya mencatat 15% saja suplay emas dengan sisanya berasal dari open pits mine. Tetapi semakin dalam penggalian tambang dan rasio limbah-bijih emas semakin besar tiap pekan. Sepuluh banding satu rasio limbah terhadap bijih emas adalah hal yang tidak biasa. Kebanyakan pits telah melewati masa terbaiknya dan akan bermasalah pada beberapa tahun dibanding beberapa dekade belakangan. Karena kita belum menemukan banyak lahan tambang baru dalam rentang jauh ke depan yang membawa kita pada titik inflection point (kondisi yang berubah akibat perubahan kebijakan, pasar, atau produksi dalam industri). Kebanyakan pendatang baru di Toronto Exchange (Bursa saham di Kanada yang memuat perusahaan tambang, minyak, dan gas unggulan) adalah wajah lama dengan "busana" baru. The Prospectors and Developers Convention di Toronto yang menseleksi ratusan prospectors (upaya pencarian logam mulia dan barang tambang lainnya) dan lusinan operasi penambangan dari perusahaan seperti Noranda, Kerr, Falconbridge, Phelps Dodge, Dome and Treck kini hanya segelintir dari (hanya sedikit saja yang tersisa) dan ribuan slick promoters.Ribuan perusahaan bermimpi menjadi besar dengan melakukan akuisisi daripada melakukan eksplorasi di luar negeri (pendekatan seorang MBA daripada Insinyur). Setelah 50 tahun status Bank Sentral sebagai net selling adalah hal yang sudah berlalu, bank sentral kini murni menjadi net buying . Emas saat ini mengalami tren kenaikan harga namun tidak cukup suplay.

2)Biaya produksi adalah faktor ke dua yang menghalangi masa depan produksi. Untuk meningkatkan cadangan emas maka industri harus, sekali lagi mencari di kedalaman permukaan bumi. Ini bukan hal yang mudah. Adalah benar beberapa open pit mines memiliki lahan tambang yang masih dapat dieksplor lebih dalam lagi, dan beberapa sedang dibangun sebagai tambang bawah tanah.Tetapi produksi emas akan menjadi lebih rendah dan biaya menjadi terlalu tinggi. Bahkan apabila sejumlah besar cadangan emas segar yang baru ditemukan suplay emas tampaknya tetap akan menurun karena faktor biaya (yang mahal). Di atas persyaratan normal dari sebuah pembukaan tambang seperti insinyur, geoglog,dan surveyor, tambang UG membutuhkan seperangkat jenis keahlian : raise miners (pekerja yang melakukan penggalian tambang) , drift miners (transportasi tambang yang bersifat horisontal), longhole miners (tenaga pengeboran permukaan bumi sedalam 3 meter), shrinkage miners (tenaga tambang yang membangun ruang besar dalam penambangan di dalam permukaan bumi), shaft sinkers (tenaga tambang yang membangun sistem transportasi pendukung di dalam tambang), pakar ventilasi tambang, peralatan mekanik (mesin bor senilai US$1 juta bermesin diesel plus mekanis, elektris, hidrolik, dan sisten tekanan udara), pakar mekanika batu, pakar peledakan (kesalahan peledakan musim semi lalu berujung pada kemungkinan penutupan tambang di Val-d’Or-sebuah kota di Quebec Kanada, yang artinya bukit emas), pengetahuan proses penyemenan, pemompaan, pemampatan material, dan bila tambang itu dalam, membutuhkan pengetahuan tentang aktivitas gempa. Penambangan juga membutuhkan pengacara, akuntan dan pekerja sektor publik, dan pebisnis tambang. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun bisnis tambang UG (UnderGround).Dan mesti butuh banyak biaya. Siapa saja yang percaya bahwa biaya produksi yang ditanggung banyak perusahaan tambang masa kini mungkin akan percaya dengan hasil yang seimbang dengan biaya produksinya, tetapi biaya masa depan akan semakin kecil dibanding hari ini. Dan ada pula biaya modal, pengeboran dan pembangunan tambang pasca eksplorasi, dan hal-hal yang sejenis itu.Di masa awal, kebanyakan tambang UG dibangun dengan mendirikan perusahaan tambang, tetapi saat ini pemain besar tidak memperdulikan hal ini dan ini pelajaran bagi pemain kecil. Ketika mereka mudah mendapatkan uang, biaya produksi tidak lagi menjadi kendala besar bagi para pengusaha, tetapi kenyataannya ketika return invetasi lebih kecil dibanding modal, maka akan muncul masalah keuangan. Biaya modal untuk meningkatkan produksi emas, atau bahkan untuk menjaganya pada tingkat yang sama, bermakna disinsentive bagi industri.

3)Faktor negatif ke tiga bagi masa depan produksi emas adalah geopolitik, pajak, dan regulasi. Amerika Selatan dan Afrika Barat saat ini sedang dan tetap menjadi area yang paling menjanjikan untuk mencari dan memproduksi emas. Bagaimanapun pajak terus merambat naik di beberapa negara dan menyebar di negara lain. Revolusi di Afrika Barat juga menimbulkan kekhawatiran bagi investor. Rumania telah menaikkan pajak, bahkan sebelum tambang didirikan. Kanada tidak terlalu banyak "bermain" dengan pajak pendapatan, tetapi pajak penghasilan pegawai kini hampir 30%. Itu adalah saham perusahaan, yang tentunya pegawai terkena imbas pula. Industri tambang di Afrika Selatan, salah satu tambang terbesar di dunia, mempunyai masalah yang sudah bertahun-tahun mengenai pendirian tambang ilegal di wilayah legal (perusahaan tambang yang telah berizin). Jadi kami tetap pada pendapat bahwa tahun 2012 kita akan melihat awal dari penurunan jangka panjang suplay emas. Kami juga memprediksi, pada akhirnya krisis Euro akan mencapai puncaknya. Meskipun kita akan mendengar hal klise dari para "ahli pidato" yang sama di (World Economic Forum) Davos , ayam akan kembali pulang ke sarangnya. Dan emas (kembali) menjadi tamu yang tak diundang.

Murray H. Pollitt, P. Eng. Toronto, Ontario
murrayp@pollitt.com January 18, 2012
http://www.gata.org/files/MurrayPollitt-01-18-2012.pdf

Thursday, January 26, 2012

Uni Emirat Arab lunasi Utang Rakyatnya

Salah satu hal yang menghambat seorang syahid (seorang yang mati dalam berperang atau berjuang di jalan Allah) untuk masuk ke dalam surga adalah bila masih ada utang yang dimilikinya selama di dunia. Sehingga secara umum bagi seorang muslim, utang adalah kendala baik di dunia maupun di akhirat. Maka ada keutamaan yang amat besar bagi orang yang melunasi utang saudaranya. Apalagi bila seorang kepala negara melunasi utang rakyatnya.

Inilah yang terjadi di Uni Emirat Arab (UEA) negeri kaya raya yang juga menjadi tempat berlabuhnya banyak perusahaan skala internasional untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Adalah kepala negara UEA As Syeikh Khalifah bin Zais Ali Nahyan belum lama ini mengeluarkan perintah untuk melunasi utang penduduknya yang memiliki nilai kurang dari 1 juta Dinar (mata uang UEA ini bukan mata uang Dinar berbahan baku emas) atau senilai Rp 2,4 milyar, sebagaimana dilansir kantor berita Uni Emirat Arab kemarin 25 Januari 2012.

Penduduk yang menjadi sasaran program ini jumlahnya 6.830 orang dengan menelan dana Rp 2 milyar Dirham Emirat atau setara dengan Rp 4,8Triliun.

Keputusan ini datang setelah adanya masukan dari Panitia Tinggi untuk Pengentasan Utang Rakyat yang memiliki penghasilan terbatas. Badan khusus ini sendiri memiliki modal sebesar 10 Milyar dirham Emirat atau setara dengan Rp 24 Triliun lebih.

Bisa jadi UEA adalah satu-satunya negara yang melunasi utang rakyatnya di zaman ini. Sementara negara-negara lain kesulitan membayar utang negaranya sendiri, seperti AS yang mempunyai utang terbesar di dunia. Langkah pemerintah UEA ini patut diapresiasi.


http://www.hidayatullah.com/read/20831/26/01/2012/emirat-lunasi-hutang-6-ribu-warganya.html

Wednesday, January 11, 2012

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Fasilitas Negara

Sering sekali kita menilai ukuran kesuksesan dan kegagalan seseorang karena faktor fasilitas yang dia punya . Para pejabat di negeri ini berlomba-lomba menggunakan fasilitas yang serba "wah" dengan dalih guna memperlancar kerjanya dalam melayani rakyat dan dalam mengemban amanah pembangunan. Sehingga rumusannya adalah semakin baik fasilitas pejabat itu berkorelasi positif dengan kinerjanya dalam pembangunan negara. Benarkah demikian? Mari kita simak kisah salah satu khalifah Islam terbaik dalam sejarah yaitu Umar bin Abdul Aziz yang juga cicit dari sahabat Nabi saw Umar bin Khatab ra dalam buku Biografi Umar bin Abdul Aziz karya Abdullah bin Abdul Hakam (GIP, 2002) sbb :

Umar bin Abdul Aziz menulis pada Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (gubernur Madinah), "Amma ba'du". Aku membaca suratmu pada Sulaiman ( Sulaiman bin Abdul Malik khalifah sebelum Umar yang juga saudaranya). Kamu menyebutkan bahwa para amir kota Madinah sebelum kamu telah diberikan jatah berupa lilin jenis begini dan begini. Mereka menjadikannya penerang saat mereka keluar. Aku merasa tersiksa atas jawabanmu dalam surat itu. Sungguh, aku telah menjanji padamu, hai Ibnu Ummu Hazm, agar kamu keluar dari rumahmu dalam keadaan gelap gulita, tidak memakai penerang. Sungguh, kamu dulu lebih baik daripada kamu sekarang dan lentera yang rusak sudah bisa membuatmu cukup.Wassalam.

Mungkin kita zaman sekarang terheran-heran dengan kebijakan Umar bin Abdul Aziz masalah lilin ini. Begitu sederhana dan wara'nya beliau tidak hanya terhadap dirinya tetapi juga terhadap para pegawainya. Seakan-akan beliau ingin menegaskan bahwa kesederhanaan dan qanaah adalah hal mutlak yang perlu diikuti oleh seluruh pejabat negara dalam kepemimpinannya. Dengan kebijakannya itu apakah kinerja kekhalifahan masa Umar bin Abdul Aziz juga sederhana? Mari kita simak kisah berikut : Yahya bin Said berkata," Umar bin Abdul Aziz mengutusku menarik zakat di Afrika maka aku jalankan. Aku mencari-cari sekiranya ada kaum fakir yang dapat kami beri bagian zakat itu, ternyata tidak kami temui orang fakir sama sekali dan tidak aku temui orang yang mau mengambil zakat dariku. Akhirnya, uang zakat itu aku belikan budak dan budak itu aku merdekakan, dan mereka setia pada kaum muslimin."

Ternyata dengan fasilitas yang amat bersahaja, Umar bin Abdul Azis dapat membuat rakyatnya sejahtera dalam periode kepemimpinannya yang hanya 2 tahun 5 bulan 5 hari.

Sedangkan bagi anak-anaknya dia hanya meninggalkan warisan 1/2 Dinar atau 1/4 Dinar untuk setiap anaknya yang berjumlah 11 anak. Bandingkan dengan khalifah sebelumnya yang juga saudara sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik yang mewariskan 1 juta Dinar bagi masing-masing anak yang juga berjumlah 11 anak. Di akhir hayatnya Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada anak-anaknya, "jika kalian saleh, maka Allah yang akan mengurusmu"

Semoga negeri ini di anugerahkan pemimpin layaknya Umar sehingga keadaan kita menjadi baik, sebagaimana orang-orang terbiasa mengucapkan ungkapan," Seperi apa keadaan kalian, seperti itu kalian diperintah penguasa."

wallahu 'alam