www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Friday, October 5, 2012

Kenaikan Harga Emas di 75 Negara


Saat ini harga emas sedang mencetak rekor tertingginya di berbagai negara. Di Eropa, Swiss, dan Brazil harga emas menorehkan kenaikan yang signifikan terhadap mata uangnya.  Dan sepanjang kwartal ke 3 tahun ini (2012 Q3), harga emas di 75 negara menunjukkan kenaikan terhadap uang kertas mereka sbb :

Thursday, October 4, 2012

Deflasi di Jerman 1929-1932

Great Depression tahun 1930 berasal dari AS, namun juga merambah Jerman dengan efek yang luar biasa. Beberapa tahun setelah terkena dampak Inflasi, Jerman tergantung dengan utang dari AS dengan riba yang tinggi.

Aliran masuk Dollar AS ke Jerman ini memudahkan pemerintah Jerman membayar reparasi perang (semacam kompensasi kepada negara korban perang) kepada negara Eropa lainnya yang mana negara-negara Eropa inipiun memakai uang ini untuk membayar utang kepada Amerika untuk membiayai PD I. Amerika kemudian meminjamlan uang ini kembali kepada Jerman. Sistem ini hanya bisa bekerja apabila Amerika dalam keadaan makmur. Setelah krisis besar tahun 1929, aliran masuk Dollar berhenti. Tingkat pengangguran mulai naik dan publik merasa resah dengan situasi ekonomi.

Investor asing mulai menagih investasi mereka dan banyak orang Jerman melarikan dananya ke luar negeri. The Reichsbank (bank sentral Jerman kala itu) dipaksa melakukan kebijakan mengurangi jumlah uang beredar, karena jumlahnya melebihi standar emas dan mata uang asing sebagai jaminannya. Akibatnya menurunnya kredit usaha menyebabkan banyak perusahaan yang kuat menjadi bangkrut.
Pemerintah melakukan kebijakan penurunan harga, gaji dan tingkat riba. Pada saat yang sama, negara lain menaikkan tarif impor/ekspor mereka dan melakukan devaluasi mata uang Jerman. Antara tahun 1931 dan 1932 angka pengangguran Jerman naik menjadi lebih dari 6 juta orang. Tingginya angka pengangguran dan deflasi (penurunan harga barang secara umum) membuka jalan bagi Hitler naik ke panggung kekuasaan yang membawa Jerman masuk PD II.

Wednesday, October 3, 2012

Biaya Cetak Uang Kita Tinggi

Ternyata  biaya mencetak uang kertas kita masih amat mahal. Walau berbahan baku kertas, biaya produksi dan distribusi Rupiah  masih besar dan cenderung naik. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Wass mengungkapkan bahwa biaya percetakan uang rata-rata naik sebesar 10 persen setiap tahun.
"Tahun ini kira-kira Rp150 triliun, tahun lalu juga tidak terlalu jauh dari jumlah itu," kata Ronald di Gedung Bank Indonesia Jakarta, senin 23 Juli 2012

Selain tingginya biaya percetakan, Ronald menambahkan bahwa biaya pengadaaan uang, seperti untuk beli kertas bisa  mencapai Rp2,5 hingga Rp3 triliun. "Biaya kertas itu memang cukup tinggi, karena kertasnya saja itu impor dari Eropa dan Rusia," ujarnya

Sementara itu, untuk biaya transportasi ke berbagai daerah di Indonesia, total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp10 miliar.
"Kami berupaya keras mengangkut uang ke seluruh daerah. Ada 41 kantor perwakilan, kita drop di sana, baik jawa dan luar jawa," katanya.

Kendati sudah mengeluarkan biaya yang besar untuk transportasi, menurut Ronald, masih banyak kendala saat melakukan pendistribusian uang. Salah satunya adalah masalah inftrastruktur yang tidak merata di pelosok daerah dan kondisi cuaca.

"kalau di Jawa masih cukup mudah karena masih bisa diangkut mengunakan kereta api, tapi  kalau sudah menyebrang pulau, maka cost akan menjadi luar biasa, apa lagi kalau uang logam yang dibutuhkan, itu beratnya luar biasa," ungkap Ronald.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/338107-biaya-cetak-uang-naik-10-persen-per-tahun

Sunday, September 30, 2012

Qatar Khawatir dengan Turunnya Nilai Dollar dan Euro


Negara kaya Qatar, sebuah negara yang memiliki investasi besar di AS dan Eropa khawatir terhadap kebijakan yang dijalankan negara-negara di dua kawasan tersebut untuk merangsang ekonomi yang justru dapat menurunkan daya beli Dollar dan Euro " kata PM Qatar.

"Yang kami butuhkan saat ini adalah sebuah paket kebijakan strategis untuk memecahkan masalah ini." ujar Sheikh Hamad bin Jassim al-Thani, yang juga menjabat sebagai kepala Qatar Investment Authority (QIA), kepada  jurnalis finansial  CNBC dalam siaran pada hari Jumat lalu (28/09).

Bulan ini The Fed (Bank Sentral AS) mengumumkan kebijakan pembelian massif mortgage-backed securities sebagai upaya mendorong lapangan kerja, tetapi pemerintah AS sejauh ini gagal dalam meyakinkan pasar finansial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bank Sentral Eropa (ECB) juga akan melakukan pembelian surat utang untuk melindungi ekonomi mereka dari krisis utang di zona Eropa, namun negara seperti Yunani dan Spanyol telah gagal dalam menjadwal ulang utang mereka kepada investor.

Sheikh Hamad mengatakan bahwa bank sentral punya wewenang untuk mencegah krisis memburuk, tetapi dia menambahkan  "With more printing money, without having a strategy, I believe the value of the money will go down very soon."(Dengan mencetak uang lebih banyak tanpa sebuah strategi yang tepat; saya pikir daya belinya akan segera turun.")

Dia memang tidak menjelaskan secara detail kebijakan apa yang semestisnya diambil negara-negara barat, tetapi risiko volatility pasar yang saat ini sedang terjadi membuat investor Qatar lebih berhati-hati.

Jumlah investasi Qatar di AS dan Eropa memang lumayan besar, sekitar US$100 miliar. Negara kaya Timur Tengah sejauh ini telah membeli US$ 5 Miliar atau US$6 Miliar Dollar real estate dalam 4 hingga 5 bulan terakhir.

Apa yang disampaikan PM Qatar di awal adalah sebuah sinyal bahwa mereka akan memindahkan asetnya di AS dan Eropa ke kawasan lain seperti Asia, dan negara muslim seperti Indonesia bisa jadi salah satunya.

http://www.reuters.com/article/2012/09/29/us-qatar-investment-idUSBRE88S0ED20120929

Friday, September 28, 2012

Deutsche Bank Analysts : Gold Is Money

Dalam ekonomi terkenal dua istilah klasifikasi mata uang yaitu Good Money dan Bad Money. Good Money diwakili oleh emas sedangkan Bad Money adalah uang kertas. Dalam prilaku ekonomi sebuah negara, kedua mata uang ini akan saling mengalahkan satu sama lain. Apabila Bad Money menjadi alat tukar resmi yang bersirkulasi (beredar di tengah masyarakat)  maka dia akan mendorong keluar Good Money sehingga hanya tersimpan dalam bentuk cadangan aset baik individu maupun negara. Itulah yang terjadi di zona Eropa ketika aset emas dan setara emas menumpuk di bank sentral, berbeda dengan uang kertas yang banyak beredar di pasar sebagaimana terlihat pada poin satu pada gambar di atas.

Sekarang bagaimana komposisi cadangan emas dan uang kertas dalam bank sentral negara-negara Eropa. Dalam periode 1999-2011 ternyata komposisi cadangan devisa bank-bank sentral Eropa dalam bentuk emas (garis biru) tumbuh mengungguli Euro (garis merah). Bahkan pada 2011 komposisinya menjadi 62% cadangan emas dan 38% cadangan Euro. Artinya ini sebuah sinyal bahwa mereka lebih menghargai emas sebagai cadangan devisa dibanding mata uang resminya sendiri.

 Maka tidak heran ketika Analis dari Deutsche Bank Daniel Brebner dan Xiao Fu dalam laporannya (18/9) menyatakan bahwa ketika harga emas dunia menembus US$ 2.000/oz maka "emas bukan lagi semata-semata komoditas". Dengan kata lain emas sudah beralih fungsi menjadi mata uang.

sumber :
http://fofoa.blogspot.com/2012/09/deutsche-bank-explains-why-we-hoard-gold.html