www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, April 7, 2020

Akibat Corona PM Inggris Boris Johnson masuk ICU

Virus Corona telah menyerang pejabat-pejabat penting di berbagai negara mulai dari Iran,  Kanada,  Monaco,  Indonesia hingga Inggris. PM Inggris Boris Johnson secara mengejutkan menyatakan dirinya positif Corona 11 hari yang lalu.



Alih-alih membaik,  kondisinya semakin buruk. Semalam Johnson masuk  ke ruang intensive care di St Thomas'  Hospital yang jaraknya hanya hitungan menit dari downing street kantor Perdana Menteri Inggris. 


" Johnson (55) mendapat bantuan oksigen, namun belum sampai mengenakan ventilator (alat yang mengambil alih proses pernafasan tubuh)" kata Michael Gove salah satu menteri kabinet. 

Sementara ini  Dominic Raab (sekretaris urusan luar negeri) menggantikan posisi Johnson sebagai Perdana Menteri. Sebagai first secretary Raab memegang mandat apabila Perdana Menteri terhalang menjalankan tugas. 

Mantan ketua partai Konservatif Sir Iain Duncan Smith mengatakan pemerintahan tetap berjalan dimana keputusan diambil secara kolektif oleh kabinet. 

"Ratu Inggris  pun terus menerima update perkembangan kesehatan Johnson" kata pihak Istana Buckingham. Sebelumnya Pangeran Charles pun terkena virus Corona dan telah sembuh setelah 7 hari melakukan social distancing dan isolasi umum. 

Sumber : bbc.com






Monday, April 6, 2020

United States : Between Value & Depression

Dalam dunia medis depresi mengacu pada gangguan mental yang ditandai dengan perasaan tertekan atau hilangnya minat (mood) untuk beraktivitas secara berkelanjutan. 

Namun dalam ekonomi depresi berarti aktvitas bisnis atau ekonomi  yang memburuk dalam jangka panjang (berkelanjutan)  dalam satu sektor atau lebih. Depresi adalah next level dari resesi. 

Depresi ini yang sedang membayang-bayagi Amerika (termasuk pula Indonesia).Triliunan dollar yang diguyur oleh Donald Trump untuk memberi stimulus ekonomi Amerika ibarat obat dengan efek samping di masa depan.

Mengguyur mata uang (fiat money)  tanpa diimbangi dengan produksi barang dan jasa yang memadai,  akan menggerus value (nilai)  dari mata uang itu sendiri dalam jangka panjang. 

Kita tahu bahwa Amerika dengan privilege (hak istimewa ) Dollar sebagai mata uang utama dunia, membuat nilainya (secara umum)  relatif lebih tinggi dibanding mata uang negara lain. Sehingga dengan Dollar barang dan jasa di dunia ini menjadi "murah".

Tentu dengan kondisi ini, menggoda warga bahkan pemerintah Amerika untuk memilih membeli produk luar dibanding menghasilkan sendiri (produksi) di dalam negeri. 

Akibatnya Amerika terjebak defisit perdagangan dengan negara lain. Artinya impornya jauh lebih besar daripada ekspor. Dan mudah ditebak, defisit perdagangan tertinggi, justru dengan "musuh"nya yaitu Cina. 

Maka dengan adanya wabah,  potensi depresi Amerika jauh lebih besar. Dalam situasi saat ini, ketika pergerakan orang dan barang dari suatu negara ke negara lain mengalami hambatan, maka impor tentu melambat. Karena sudah terbiasa impor, kemampuan produksi dalam negeri Amerika tidak optimal walaupun sudah diguyur triliunan Dollar. 

Maka hikmah dari pandemi ini adalah perlunya mengkaji ulang penegertian value (nilai) yang utama bukanlah uang tetapi kemampuan sumber daya manusia untuk melakukan produksi. 



Saturday, April 4, 2020

Persepsi orang Jerman terhadap Emas

Ada dua istilah dalam keuangan yaitu monetary gold dan non-monetary gold. Monetary gold adalah emas yang disimpan atau dimiliki oleh bank sentral suatu negara sedangkan non-monetary gold adalah emas yang dimiliki oleh pribadi atau swasta. 

World Gold Council (WGC) mengklaim bahwa total cadangan emas dunia (yang sudah ditambang, diperjualbelikan,  atau disimpan) berjumlah 198.000 ton. Bank sentral di dunia memegang sekitar 35.000 ton. Cina diperkirakan menyimpan 20.000 ton, tulisan ini akan fokus pada  profil cadangan emas Jerman, sedangkan data   Perancis, dan Italia hanya sebagai pembanding.

Dalam sebuah penelitian  (Goldbesitz der Privatpersonen in Deutschland) yang dilakukan oleh Research Center for Financial Services atau C-Fin di Jerman pada 2010. Penelitian ini menekankan pada motif orang memiliki emas dan seberapa banyak emas yang mereka punya.




Goldschmuckbesitz” berarti  “kepemilikan emas perhiasan,” “physische goldanlagen” berarti  “investasi emas secara fisik,” “anlage in wertpapieren” berarti  “investasi surat berharga ,” “gesamter goldbesitz pivater haushalte” berarti  “total emas yang dimiliki individu atau rumah tangga,” serta “zentralbank goldbestand” artinya “persediaan emas di bank sentral .” 

Pasca 2010 the Reseach Center for Financial Services atau C-Fin melanjutkan penelitiannya untuk mengukur seberapa besar emas yang dimiliki warga Jerman. Tahun lalu hasil penelitian ini di rilis oleh ReiseBank.

Di awal 2019 penduduk Jerman diprediksi mempunyai emas sejumlah 8.918 ton emas dalam bentuk lantakan, koin,  dan perhiasan, sementara  pada 2010 jumlahnya sekitar 7.558 ton. Dengan kata lain ada peningkatan 1.360 ton dalam 9 tahun. 

“Deutsche privatehaushalte” berarti “rumah tangga penduduk Jerman .” The “Bundesbank” adalah bank sentral Jerman. Kubus artinya , “Jerman memiliki 6,5% cadangan emas dunia” gabungan dari emaa privat dan bank sentral .


Estimasi kepemilikan emas oleh swasta di Jerman berdasarkan data C-Fin dan tambahan data dari World Gold Council tahun 2019, maka perkiraan jumlah emas yang dimiliki oleh swasta adalah 8.992 ton pada tahun 2020, atau naik 19% sejak 
Berdasarkan gambar di atas,  warga Jerman amat berjaga-jaga terhadap inflasi, dimana mereka menyimpan emas sebagai jaring pengaman saat krisis. Dalam survey tahun 2011, lebih dari 80% responden mengatakan bahwa " membeli emas sebagai proteksi nilai melawan inflasi” .

Sedangkan estimasi kepemilikan emas privat di Perancis sekitar 4.605 ton atau turun 2% sejak 2010.

Sedangkan estimasi kepemilikan emas privat di Italia  sekitar 5.707 ton atau turun 11% sejak 2010

Dalam gambar berikut adalah "proporsi konsumen membeli emas dengan tujuan investasi", hasilnya adalah Jerman (23%), Perancis (3,3%), dan Italia (6,7%). Orang Jerman melihat emas sebagai kepemilikan yang aman. Sedangkan bagi orang Perancis dan Italia, memandang emas lebih sebagai perhiasan.   

Pada tahun 2011 lebih dari setengah warga Jerman menghendaki reformasi moneter karena mereka berpendapat "emas dapat membantu dalam menghadapi tantangan reformasi moneter dengan lebih baik", ini berdasarkan survey C-Fin. Terkait dengan krisis Corona ketegangan di Uni Eropa kembali muncul. Italia (bahkan sebelum wabah Corona)  menderita akibat rasio utang publik terhadap GDP (penghasilan bruto suatu negara)  mencapai 135% (utangnya jauh di atas pendapatan warga atau negaranya), dan Italia juga bergantung pada "pandemic emergency purchase programme. Sedangkan rasio utang publik terhadap GDP Jerman adalah 62%. Gambaran statistik ini menunjukkan kebijakan ekonomi Jerman lebih tepat dan memiliki kewaspadaan dalam menghadapi krisis moneter.

sumber : Jan Nieuwenhuijs dalam voimagold.com



Thursday, April 2, 2020

Rupiah Tembus Rp20.000/ USD?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Rabu kemarin (1/4) menyatakan bahwa Rupiah masih mengalami tekanan akibat pandemi Corona. 

Dua skenario terburuknya adalah berat dan sangat berat.  Kurs valas bisa mencapai Rp17.500/USD sebagai skenario berat,  dan Rp20.000/USD sebagai skenario sangat berat. Nilai ini jauh di bawah asumsi APBN di angka Rp14.400/USD.



Begitu pula proyeksi tingkat inflasi, dengan skenario buruknya adalah 3,9%,dan skenario sangat buruk adalah 5,1%. Tingkat inflasi adalah persentase  kenaikan atau penurunan harga seluruh barang dan jasa pada periode tertentu (biasanya dalam bulan atau tahun). 

Sedangkan skenario buruk harga minyak mentah Indonesia berada pada level US$38/barel, dan skenario sangat buruk adalah US$31/barel. Saat ini harga minyak dunia adalah US$24,89/barel terendah dalam 17 tahun terakhir. Hal ini selain dipicu karena perselisihan antara Arab Saudi dan Rusia tentang level pengurangan produksi atau supply minyak terkait melemahnya permintaan atau demand akibat Corona di seluruh dunia. 

sumber : kontan.co.id







Monday, March 30, 2020

Menteri Keuangan Jerman Mati Bunuh Diri

Di tengah wabah Corona ada kabar mengejutkan dari negara bagian Hesse di Jerman. Menteri Keuangan wilayah itu Thomas Schaefer ditemukan tewas di sebuah jalur kereta Sabtu (28/3) kemarin. Aparat keamanan menyatakan Schaefer bunuh diri. 



Thomas Schaefer (54) diduga mengalami  "deeply worried" (kekhawatiran berlebihan) dalam mengatasi  krisis ekonomi akibat virus corona, kata Perdana Menteri negara bagian Hesse, Volker Bouffier.

"Kami terkejut,  tidak percaya, dan amat berduka", kata Bouffier dalam rekaman pernyataannya.

Polisi telah mewawancarai saksi-saksi dan observasi lapangan,  yang membawa pada kesimpulan Schaefer bunuh diri. 

Negara bagian Hesse mencakup kota Frankurt, dimana di kota tsb bermarkas Bank Sentral Jerman, bank-bank komersial, bahkan Bank Sentral Eropa.

Perdana Menteri Bouffier menyatakan bahwa Schaefer sudah 10 tahun menjabat posisinya dan bekerja "siang dan malam" untuk membantu perusahaan dan pekerja agar bisa bertahan dari efek  pandemi Corona ini.

"Kami berasumsi mendiang "deeply worried" kata Bouffier sekutu dekat Kanselir Jerman Angela Merkel. Sebagimana Bouffier,  Schaefer adalah anggota partai yang sama dengan Merkel, CDU. Mendiang meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih belia.

sumber : aljazeera.com