www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Thursday, May 9, 2019

Sekilas pasar Emas di Jerman

India dan Cina selama ini dikenal sebagai populasi konsumen emas terbesar di dunia. Namun ada satu pasar negara Eropa yang mempunyai kecenderungan  yang sama walau dengan karakter berbeda yaitu Jerman.

Sebuah survey dari Reisebank di Jerman baru-baru ini menjelaskan prilaku konsumen Jerman dalam investasi emas. CFIN atau Research Center for Financial Services menggelar survey ini atas nama Reisebank. Hasilnya cukup mengejutkan, warga Jerman memiliki simpanan emas sejumlah 8.918 ton atau senilai 330 milyar Euro, tidak termasuk cadangan emas  bank sentral Jerman sejumlah 3.370 ton.

Dari total 8.918 ton tersebut, survey CFIN menjelaskan 4.925 ton (atau 55% dari total) adalah dalam bentuk emas batangan dan koin emas, sedangkan 3.993 ton dalam bentuk emas perhiasan.
Dengan populasi sekitar 82 juta penduduk, dimana  69 juta  berumur di atas 18 tahun , survey mengatakan bahwa  38% orang atau 26 juta  orang Jerman dewasa memiliki  emas dalam bentuk batangan dan koin , 61,5% atau 45 juta  orang Jerman dewasa memiliki emas perhiasan, sementara 14,5% atau 10 juta orang memiliki  gold ETF (semacam surat berharga yang dijamin dengan emas) atau produk sejenis seperti Xetra gold  dan Euwax gold.

CFIN research centre bekerja sama dengan  Steinbeis University di kota Berlin, telah melakukan survey  untuk meneliti pola investasi emas orang Jerman dalam 10 tahun terakhir.

Laporan CFIN tahun 2019 ini berjudul as “Gold Investments 2019: Indicators, Motives and Attitudes of Individuals“, bertujuan untuk “ mencatat dan menganalisa peningkatan kepemilikan emas sebagai alat investasi, dan motif serta perilaku berkaitan dengan emas dalam masyarakat Jerman"

Apabila total 8.918 ton emas yang dimiliki orang Jerman itu dibagi ke seluruh populasi Jerman di atas 18 tahun, maka setiap orang memiliki  71 gram emas dalam bentuk emas batangan dan koin dan 58 gram dalam bentuk emas perhiasan.

Menurut survey pula,  91% responden senang dengan pilihan emas sebagai investasi dan  83% menjawab mereka akan tetap menyimpan emasnya dan lebih dari 78% yang baru saja membelinya, ingin menambahnya di kemudian hari.




Warga Jerman menyimpan emas 2,6 kali lebih banyak dibanding emas yang ada di  bank sentral Jerman (Bundesbank) sumber gambar: ReiseBank AG
Kemudian 1/4 orang Jerman membeli emas via transaksi online,  62% memilih berjalan ke toko emas atau bank (yang khusus menjual emas selain jasa perbankan lainnya) untuk transaksi.


Warga Jerman memiliki emas 2,64 kali lebih banyak dibanding emas yang disimpan oleh bank Sentralnya. Namun simpanan bank sentral tersebut lebih banyak menyita perhatian, karena ukurannya yang besar dan usaha penarikan kembali emas yang disimpan di luar negeri baru-baru

Mayoritas orang Jerman tidak menyimpan emas di rumah.

Survey ini juga menanyakan kepada responden dimana mereka  menyimpan emasnya.Hasilnya  38,3% responden menyimpan emasnya di rumah, 39% menyimpannya di safe-deposit box di bank, 5% menggunakan layanan simpanan emas dan brankas dari pihak ke 3, sementara 17,7% menyimpan emasnya di tempat lain. Tempat lain ini tidak dijelaskan.
Persentase terbesar warga Jerman menyimpan emasnya di safe-deposit box bank, dapat dijelaskan karena di Jerman banyak bank yang menjual emas batangan dan koin emas langsung kepada nasabah. Sehingga bank yang menjual logam mulia dan koin emas tentu  juga menawarkan penyimpanan di safe deposit box, di bank yang sama.


Antara survey terakhir pada 2016 hingga saat ini, warga Jerman  telah membeli tambahan emas senilai 220 ton. Dalam survey 2 tahun terakhir saja  25% responden telah membeli emas sebagai investasi dengan rata-rata senilai  4.730 Euro. Lebih 50% dari mereka yang membeli emas sebagai investasi membeli emas batangan, sementara 1/3 dari mereka membeli dalam bentuk koin emas. Hanya 11% responden yang menyatakan bahwa mereka menjual emas dalam periode yang sama (jangka pendek).

Motivasi kepemilikan Emas

Lebih dari 26 juta orang dewasa di Jerman membeli emas dalam bentuk batangan dan koin. Ini adalah jumlah yang luar biasa. Namun mengapa emas begitu populer di antara warga Jerman? Memori mengenai hiperinflasi pada 1920-an dan bagaimana nilai uang kertas hancur sedemikian rupa dapat menjadi salah satu alasan. Ada begitu banyak memori dalam perang dan pergolakan, pemisahan 2 Jerman (barat dan timur), dan urgensi emas dalam masa krisis. Sehingga logis emas menjadi pilihan dalam pengamanan risiko inflasi, proteksi nilai, dan aset save haven.

Survey CFIN terakhir juga menarik menunjukkan bahwa sejauh ini lebih banyak orang Jerman dewasa berinvestasi dan menyimpan emas fisik dibanding berinvestasi di bursa saham. Hal ini diperkuat dengan data dari  Deutsche Aktieninstitut (DAI), asosiasi industri pasar modal Jerman, yang menemukan bahwa hanya 10,3 juta orang Jerman yang memiliki investasi dalam bentuk saham dan surat berharga, yang tentu jauh lebih kecil dibanding 26 juta warga Jerrman yang berinvestasi emas batangan dan koin emas.


Bagi yang tidak familiar dengan pasar emas di Jerman, perdagangan emas di sana tidak seperti umumnya di negara-negara lain.Pasarnya terdesentralisasi, melibatkan sejumlah bank, pemurnian emas, grosir emas nasional   (seperti Ziemann Valor) dan  myriad precious metals retail, semuanya menjual produk emas fisik ke publik.  Termasuk di dalamnya Commerzbank, the Landesbanks (bank daerah) seperti Bayern LB, LBBW, dan Helaba, the Volsbanken (bank rakyat) dan  Raiffeisenbanken (bank koperasi), the Sparkassen (bank tabungan), dan yang sudah disebut di muka, Reisebank.


Sebagai pasar emas yang menarik, umumnya orang Jerman dapat dengan mudah membeli emas batangan dan koin emas dari sejumlah besar outlet dengan banyak pilihan. Rantai distribusi seperti ini di seluruh Jerman menjadi salah satu faktor mengapa begitu banyak orang Jerman memegang emas dalam bentuk batangan dan koin . 

Dengan jumlah 8.918 ton emas yang dimiliki warganya dan  3.370 ton yang disimpan bank sentral, maka secara keseluruhan total ada 12.228 ton. Ini setara hampir  7% dari seluruh cadangan emas dunia yang ada.


Monday, April 15, 2019

Ketidakstabilan Dollar terhadap Komoditas

Harga komoditas seperti minyak, emas, perak, dan tembaga umumnya mengalami kenaikan dalam jangka panjang seiring dengan jatuhnya mata uang kertas (dalam hal ini Dollar sebagai mata uang utama dunia) 

Sebagai contoh harga minyak. Minyak mengalami kenaikan yang amat signifikan dalam 60 tahun terakhir. Pada tahun 1960-an harga minyak/barel hanyalah beberapa dollar saja, namun kini di atas $60. Dalam dekade terakhir, harga minyak yang mengacu pada West Texas Intermediary oil (WTI) harga tertingginya adalah $140 dan terendahnya $27. Pada saat yang sama fluktuasi demand-nya cukup rendah. Dalam sejarah rekor harga tertingginya adalah tahun 2008 dan harga terendahnya tahun 2016. Dan dalam periode tersebut (2008-2016) demand globalnya meningkat secara konsisten dari 85,8 juta barel/hari hingga  96,2 juta barel, namun   harga minyak justru jatuh secara drastis. Ini berarti volatilitas harga (dinamika kenaikan dan penurunan harag) mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dibanding karakteristik supplay dan demand. Dengan kata lain pengaruh fluktuasi dollar mempunyai korelasi signifikan dengan ketidakstabilan harga minyak, bukan pada sisi demand dan supplaynya.

Pada Juni 2008 harga minyak mencapai rekor tertinggi seiring krisis finansial AS yang dipicu oleh kejatuhan Lehman, pada saat yang sama indeks perdagangan tertimbang (Trade Weighted Index atau TWI) dalam Dollar jatuh pada titik terendah. Setahun kemudian pada 2009 harga minyak jatuh 70% sementara TWI dalam Dollar naik 17%. Dan setelah TWI dalam dollar turun secara bertahap, maka harga minyak naik signifikan dari $42 hingga $114/barel antara Januari 2009 dan April 2011.Kemudian antara Juni 2014 hingga Februari 2016 harga minyak jatuh dari $105 menjadi $27/barel, sementara pada saat yang sama indeks TWI dalam Dollar naik dari 80 menjadi 99. Sehingga jelas korelasi  antara harga minyak dan dollar adalah negatif (hubungan terbalik). Maka  dapat diambil simpulan bahwa harga minyak lebih dipengaruhi dari fluktuasi nilai dollar dibanding sisi supplay dan demand dari minyak itu sendiri.


Pola yang sama juga terlihat pada komoditas penting lainnya seperti tembaga. Ketika harga minyak naik drastis tahun 2008,  harga tembagapun ikut naik. Ketika harga minyak mencapai titik terendah bulan Januari, demikian pula tembaga. Ketika tembaga mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah, harga minyak mengikutinya beberapa bulan kemudian.

Publik umumnya menilai kenaikan harga komoditas dari sisi suplay dan demand saja. Namun grafik supplay dan demand dari minyak dan fluktuasi dollar mencerminkan ketidakstabilan lebih kepada sisi transaksi Dollar itu sendiri. Oleh karenanya apabila Dollar sebagai acuan utama harga internasional tidak lagi digunakan maka volatility harga komoditas akan hilang. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apabila emas  mengantikan posisi Dollar sebagai mata uang utama, apakah fluktuasi harga tetap terjadi?

Pricing commodities in gold

Ketika emas berfungsi sebagai uang, peran kredit bank (berbasis riba) akan jauh berkurang. Artinya transaksi barang dan jasa antar negara tidak dapat dibiayai dengan kredit tanpa jaminan emas yang setara. Kegiatan impor komoditas seperti minyak dan lain-lain mesti dibayar dengan komoditas riil ekspor. Ini adalah alasan mengapa ketidakseimbangan neraca perdagangan antar negara yang menggunakan mata uang emas tidak terjadi.
Implikasinya adalah sebagian besar spekulasi dari komoditas dalam ekonomi berbasis uang kertas akan ditekan dengan peran mata uang emas, karena spekulasi berbasis kredit atau utang baik jangka pendek atau jangka panjang akan terbatas ruang geraknya. Tentu saja spekulasi tidak bisa hilang sepenuhnya, karena tidak ada yang dapat menghalangi dua pihak untuk  berjudi tanpa ada mediator seperti bankir yang menawar kan kredit.

Maka kebutuhan akan manajemen resiko melalui produk derivatif (surat berharga atau produk finansial beserta turunannya) akan berkurang dengan sendirinya, sebagai akibat dari ketiadaan volatilitas dari sisi nilai mata uang. Proteksi dari fluktuasi harga komoditas pada dasarnya berperan sebagai penjamin.

Karenanya harga komoditas dalam emas akan jauh lebih stabil. Kecendrungan akan ketidakstabilan yang timbul akibat aliran kredit perlahan menghilang.

Terkahir, hilangnya peran intervensi bank, akibat penggunaan mata uang emas, memutus ketidakstabilan siklus kredit dibawah sistem fractional reserve banking. Sebab hal inilah yang memunculkan fluktuasi dari daya beli mata uang (kertas) baik melalui menambah jumlah uang beredar dan kredit dan juga ketidakstabilan preferensi atau (kebijakan) moneter yang semuanya berbasis kredit (berbunga). Volatilitas harga yang kita alami saat ini hampir 100% terjadi karena berlebihnya jumlah uang yang beredar yang membelit sistem ekonomi kita. Mengurangi faktor ini berarti mengurangi faktor utama volatilitas harga.
 sumber : GoldMoney.com/Prices When Gold is Money, Alasdair McLeod

Saturday, April 6, 2019

Bank Sentral Gagal Menjaga Nilai Mata Uang

Bank sentral tertua di dunia ternyata bukan bank sentral Inggris atau Amerika,  dia adalah Rijsbank,  bank sentral Swedia. Berdiri 351 tahun yang lalu pada tahun 1668. Sebagaimana bank sentral lainnya di dunia, salah satu fungsinya adalah menjaga agar nilai mata uangnya stabil dan terjaga,  demikian pula Rijsbank yg dalam websitenya mempunyai moto " We ensure that money retain it's value... " ("kami memastikan nilai mata uang tetap terjaga"). Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih stabil, mata uang Krone Swedia tergerus nilainya dari waktu ke waktu.  Selama abad 21 ini saja Krone Swedia turun nilainya hingga 80%, bahkan sejak 1971 nilainya tergerus hingga 99%. Tentu saja apabila patokan nilainya disandingkan dengan emas sebagai acuan nilai yg adil sepanjang sejarah.

Pada tahun 1600-an Swedia sudah menggunakan mata uang emas dan perak sebagai alat transaksi, namun karena mesti mengongkosi perang yg berkepanjangan, emas dan perak inipun hilang dari peredaran.  Sebagai gantinya Swedia memperkenalkan mata uang tembaga. Kebijakan ini bertujuan ganda,  selain sebagai mata uang juga untuk mempertahankan nilai tembaga di pasar Eropa. Karena Swedia adalah eksportir tembaga terbesar di dunia.

Falun mine adalah perusahaan tambang yg ditunjuk untuk mencetak koin tembaga ini. Tambang ini berdiri tahun 1288, sebelum akhirnya berubah nama menjadi Stora Kopparberg Mining tahun 1347. Stora memenuhi kebutuhan 2/3 konsumsi tembaga di Eropa dan tentu saja membiayai perang Swedia.

Tahun 1644 Stora mulai memproduksi koin tembaga ukuran besar untuk menjaga agar nilai pasar tembaga tetap tinggi. Pecahan koin terbesarnya adalah sepanjang 62cm dengan berat 20kg. Tentu bukan ukuran yang praktis untuk dibawa dalam kantong.

Bank pertama di Swedia,  Stockholm Banco berdiri tahun 1656. Bank ini memperkenalkan bank notes (secarik kertas sebagai bukti kepemlikan emas atau perak yg disimpan di bank-dalam kasus ini adalah tembaga) untuk menggantikan sejumlah koin tembaga yang disimpan bank.  Oleh karenanya Swedia adalah negara pertama di Eropa yang menerbitkan bank notes. Yang terjadi kemudian persis sama dengan eksperimen yang dilakukan John Law di Perancis awal tahun 1700-an dan kolapsnya Mississippi Company di AS yang terjadi akibat penerbitan bank notes yang jauh melampaui aset yang dijaminkan di bank.

Ditengah kekacauan inilah Bank sentral Swedia berdiri tahun 1668 sebagai  ganti dari Stockholm Banco. Sejak awal berdiri undang-undang Swedia menegaskan tujuan berdirinya adalah "maintain the domestic coinage at it's right and fair value" (menjaga mata uang domestik dengan nilai yg stabil dan adil). Namun setelah 331 tahun kemudian, nilai krone Swedia tergerus hingga 99%, dengan kata lain tujuan berdirinya bank sentral di atas sudah tidak lagi relevan.

Norges Bank

Bergeser ke Norwegia, Bank sentral mereka Norges Bank juga mempunyai tujuan yang tidak berbeda dengan Swedia "Price stability by means of monetary policy" dan "to keep inflation low and stable" . Namun faktanya Norwegia adalah negara dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Cadangan devisa emas mereka juga nyaris tak ada-karena hanya tersisa 7 batang emas,  setelah mereka menjual cadangan emas mereka sejumlah 37 ton tahun 2004. Sehingga harga emas dalam mata uang mereka Norwegia Krone saat ini mencapai rekor tertinggi.

sumber : Egon von Greyerz,  kingworldnews. com

Monday, March 18, 2019

Invasi AS di Venezuela : Dollar ambil alih Mata Uang

Invasi suatu negara terhadap negara lain (biasanya yang kuat terhadap yg lemah) tidak selalu dalam bentuk invasi militer, seperti yang biasa dipamerkan Amerika Serikat. Namun dapat pula dalam bentuk ekonomi, lebih khusus lagi moneter atau mata uang.

Inilah yang terjadi pada Venezuela akhir-akhir ini.  Alih alih presiden Nicolas Maduro yg biasa mengambil sikap oposan terhadap paman Sam, justru negrinya saat ini yg mengalami invasi mata uang Amerika Dollar!

Dollar menjadi dominan, walau mata uang resmi Venezuela Bolivares yg nilainya sudah jauh tergerus masih berlaku.

Proses adopsi mata uang Dollar telah berlangsung dalam hitungan bulan, seiring Hyperinflasi yg dialami Venezuela-menurut IMF  telah menyentuh angka fantastis 10 juta persen-yang menyebabkan nilai Bolivares secara massif tidak dapat digunakan untuk transaksi via kartu debit dan transfer bank shg pilihan yg tersisa adalah Dollar.

Cash is King

Di sebuah pasar di distrik bagian timur Altamira, antrian memanjang di depan toko grosir kecil yg dijaga petugas keamanan. "Saudara-saudara kami hanya menerima Dollar atau Bolivares"! teriak manajer toko.

Seorang nenek mulai menangis "Tidak ada orang mengirimkan saya Dollar. Apa yg bisa saya lakukan,  seraya berkata bahwa dia ingin membeli susu untuk cucunya,  sedangkan Bolivaresnya tidak cukup.

Pada Rabu kemarin $1 setara dengan 3.000 bolivares (mata uang Venezuela), dimana denominasi terbesar adalah 500-bolivar  yg setara dengan 17 US$ sen.

Rata-rata gaji penduduk Venezuela telah jatuh hingga US$ 6 per bulan. Namun sebagian besar makanan dan bahan pokok diperoleh melalui impor, dimana harga ayam seharga $3 atau $4 di supermarket.

Masalah utama warga Venezuela adalah tidak mempunyai akses terhadap dollar,  yang akhirnya menciptakan "extreme inequality" kata Asdrubal Oliveros, kepala analis ekonomi Econanalitica.

Henke Garcia kepala analis Econometrica mengatakan "Dollarisasi berkaitan erat dengan inflasi, ini sebab fundamental...."

"Semuanya dijual dengan Dollar : keju,  pisang,  roti,  charge handphone, es", kata Roxana Pena 26 tahun,  penduduk kota sebelah barat yg kaya minyak Maracaibo.

"Banyak orang yang tidak mampu membeli apapun", kata penduduk lokal Margara Bermudez.

PBB mengestimasi sekitar 3,4 juta warga Venezuela beremigrasi ke luar negeri sejak krisis mulai melanda negri.

"Presiden Maduro tidak mampu menjamin ketersediaan air,  energi,  dan obat-obatan" ,seru Juan Guaido oposan Maduro yg telah memproklamirkan dirinya sendiri sbg Presiden di hadapan pendukungnya Selasa lalu.

Krisis ini awalnya dipicu oleh krisis energi yg menurut pengamat akibat mismanagement,  korupsi, dan minimnya investasi di bawah pemerintahan Maduro

sumber : www.france24.com

Wednesday, November 28, 2018

Orba : Zamanku Lebih Enak?

Satu dekade pasca Reformasi 1998 muncul nostalgia akan orde baru.  Sebagian kita rindu akan masa itu. Ekonomi pada masa itu dipandang lebih baik dari masa kini. Stiker yang  biasa dipasang di kaca belakang mobil, menampakkan gambar penguasa Orba bersanding dengan tulisan "Penak zamanku tho?" menggambarkan hal itu. Tentu saja tulisan ini lepas dari kontestasi politik saat ini.

Pertanyaannya adalah apakah ekonomi zaman Orba seindah yang dibayangkan kini? Tentu di setiap orde ada kebaikan dan keburukan,  tidak bisa kita hakimi secara hitam putih.
Untuk menyegarkan ingatan kita pada masa orba khususnya seputar ekonomi,  menarik untuk membaca tulisan wartawan legendaris Rosihan Anwar dalam tulisannya yg berjudul "A Strong and Healthy Indonesia in the Eighties" yang dimuat di majalah Asia Pacific  bulan Februari 1981 yang terjemahannya dimuat dalam buku beliau yg berjudul "Indonesia 1966-1983 dari koreponden kami di Jakarta. "

Beberapa petikan dari tulisan itu adalah sbb :
"Kendati terdapat beberapa masalah,  dasawarsa 1980-an akan menyaksikan suatu Indonesia yang kuat dan sehat.  Demikian kata Prof. Dr Emil Salim,  Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup di depan pemirsa televisi Singapura bulan Desember yang lalu (tahun 1980). Pada saat pernyataan tersebut, Menteri pasti tahu beberapa waktu sebelumnya meletus huru-hara etnik di Jawa Tengah yang meminta korban delapan nyawa."

"Huru-hara mulai sebagai letupan spontan dan amarah mahasiswa di Solo, setelah terjadi kecelakaan lalu lintas tanggal 19 November (1980) menyangkut seorang pemuda keturunan Cina. Insiden itu digunakan untuk memulai huru-hara dan pembakaran. Pangkopkamtib Laksamana Sudomo menerangkan, huru-hara dilakukan oleh sekelompok orang yang hendak memulai revolusi dan mencapai tujuan politiknya dengan mengorbankan semangat anti-Cina dari rakyat.

"Cepatnya ketertiban dipulihkan memang tidak mengherankan.Golongan militer dengan kekuatan dan organisasinya mempunyai daya yang luar biasa. Tiada seorangpun di luar ABRI, apakah partai politik,  organisasi mahasiswa,  serikat buruh,  atau kelompok-kelompok sipil dapat mengerahkan cukup kekuatan untuk menantang kekuasaan pemerintah. Ini menerangkan mengapa pemerintah Indonesia mampu memelihara stabilitas selama 15 tahun ini dan selama itu ia melaksanakan program pembangunan ekonomi.

"Kendati mengalami kemajuan besar dalam pembangunan sosial-ekonomi,  tetap kentara kesenjangan antara kaya dan miskin. Huru-hara etnik di Jawa Tengah memberi peringatan akan kesenjangan itu. Kesenjangan itu harus diperkecil dengan lebih banyak tekad serta visi. Jika tidak huru-hara oleh warga yang tidak puas dapat saja terjadi.

"Pemerintah dapat merasa diri mantap dengan cadangan devisa pada akhir 1980 melampaui US$ 7 milyar. Gejala meningkatnya cadangan devisa ini menimbulkan suatu debat di kalangan politisi di Jakarta baru-baru ini. Anehnya seorang anggota DPR dari Golkar, yakni Gregorius Sugiharto menyatakan  pendapat bahwa Indonesia tidak lagi membutuhkan bantuan luar negeri.Cadangan devisa yang bulan maret mendatang menjadi US$ 9 milyar menunjukkan kita dapat berdiri di atas kaki sendiri. Kita dapat bilang 'go to hell with your aid' kepada pihak bersangkutan, ujar Sugiharto.

"Mengenai IGGI, negeri-negeri donor pemberi bantuan kepada Indonesia, Sugiharto mengatakan IGGI bersedia memberikan pinjaman kepada Indonesia,bukan karena ingin Indonesia menjadi kuat,  melainkan cuma agar dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan membeli produk-produk dari negeri-negeri industri. Kita tidak perlu berterima kasih kepada mereka, karena mereka telah banyak menarik keuntungan dari politik perdagangan mereka yang menyamar sebagai bantuan,  ujar tokoh Golkar itu.

"Dapat dipahami ini tidak cocok dengan kebijaksanaan pintu terbuka mengenai ekonomi dari Presiden Soeharto.Sugiharto segera ditegur oleh Ketua Umum Golkar Mayjen Amir Murtono yang mengatakan kepada pers bahwa  mempunyai cadangan devisa US$ 7,2 milyar  tidak berarti kita tidak membutuhkan bantuan luar negeri. Juru bicara fraksi ABRI di DPR menambahkan, persyaratan bantuan luar negeri yang kita terima hingga sekarang adalah lunak dan tidak ada ikatan politik yang menyertainya. Ekonom Dr. Soemitro mengatakan kepada wartawan bahwa pandangan seolah-olah kita tiada lagi memerlukan modal asing adalah bodoh.

"Betapapun caranya orang memandang situasi ekonomi di Indonesia yang kini menguntungkan itu, toh faktanya menurut Bank Dunia, Indonesia adalah negeri yang sangat miskin, jauh tercecer di belakang negeri ASEAN lainnya. Diakui pendapatan per kapita telah meningkat selama tahun-tahun ini, akan tetapi manfaatnya tidak merata dan jumlah golongan sangat miskin meningkat.

"Prof. Sayogyo dari IPB, peneliti ekonomi pedesaan, menentukan garis kemiskinan pada 240 kg beras per orang setahun. Ia menemukan pada tahun 1976 terdapat 68 juta orang miskin dan 40 juta darinya berada di pedesaan Jawa.  Angka-angka ini memberikan pemandangan tentang masalah yang dihadapi oleh Indonesia.

" Masalah lain ialah impor sejumlah besar beras. Walaupun produksi beras meningkat dan diperkirakan mencapai 20 juta ton pada tahun 1980, toh Indonesia adalah pengimpor beras terbesar di dunia. Orang dapat membayangkan tanpa bonanza minyak akan sangat sulit bagi Indonesia memberi makan kepada penduduknya.

"Ekspor minyak berjumlah satu juta barel sehari. Pentingnya minyak menjadi jelas, jika orang memperhitungkan bahwa 60% dari pendapatan negara berasal dari ekspor minyak. Laporan belum lama berselang dari Direktur Utama Pertamina bahwa perusahaam negara itu seluruhnya pulih menjelang akhir tahun 1980 dari malapetaka keuangan yang dialaminya lima tahun yang lalu disambut dengan perasaan lega. Sebagaimana diketahui Pertamina meminjam dari bank-bank Internasional atas dasar kredit jangka pendek sebesar US$10.500 juta pada awal 1975.Tatkala datang tekanan dari kreditor luar negeri, Pertamina tidak mampu memenuhi kewajibannya dan pemerintah harus menyelamatkan Pertamina.

Suatu kinerja mangkus dari Pertamina mempunyai dampak langsung terhadap APBN.Menurut Business News Jakarta, pemerintah kini tampaknya bertekad membiayai sendiri proyek-proyek besarnya, termasuk proyek hydrocracker di Dumai. Tiada lagi akan dibangun secara usaha patungan.Pemerintah juga menyatakan niatnya untuk memulai pembangunan pabrik-pabrik seperti pusay aromatik, olefin dan sebagainya. "

Itulah sekilas kutipan dari tulisan Rosihan Anwar, walaupun ringkas setidaknya dapat memberi sekelumit gambaran ekonomi Orba pada era 1980-an.