www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, March 24, 2020

Harga Emas dan Dinar kembali Meroket

sumber : kitco.com

Harga  emas malam ini atau Senin siang waktu Amerika kembali naik di angka US$1.553/oz. Kenaikan ini dipicu oleh aksi jual US dollar  dan saham  secara besar-besaran oleh investor internasional . Ini terjadi sebagai reaksi dari kebijakan bank sentral Amerika The Fed untuk memberikan Quantitative Easing  all-in (memberi bantuan likuiditas atau keuangan maksimal) dengan mengguyur pasar finansial jangka pendek (short-term) dengan Dollar AS. Mereka terpaksa melakukan ini untuk meghidupkan pasar finansial mereka yang mati suri akibat virus dari Cina. Harga emas internasional naik hampir US$100 dibanding pekan lalu.

sumber: geraidinar.com

Pada saat yang sama Dinar pun mengalami kenaikan signifikan. Angka real time pada grafik menyentuh Rp3.305.408 atau naik 12% dibanding pekan lalu dan naik 3,3% dalam sehari. Kenaikan ini di samping karena pengaruh kenaikan emas internasional, juga akibat melemahnya Rupiah. 

Friday, March 20, 2020

Aksi Jual di Pasar Modal

Sepanjang kamis kemarin (19/3) pasar modal mendapatkan tekanan luar biasa akibat aksi jual oleh investor luar negeri.

Pada penutupan sesi siang saja, IHSG turun 5,35% ke level 4.099. Pergerakan saham yang terpantau adalah 32 saham naik, 353 saham  turun,  78 saham stagnan.

Aksi jual saham oleh investor asing semakin marak. Hingga jeda siang ini,  saham BCA berada di posisi teratas sebagai saham yang paling banyak dijual yaitu sejumlah Rp213,6 miliar.  Maka sejak Senin (16/3) pekan ini akumulasi aksi jual saham BCA sudah senilai Rp751,62 miliar.

Bahkan kemarin (19/3) PT Bursa Efek Indonesia membekukan sementara transaksi (trading halt) pada pukul 09.37. Hal ini menurut sekretaris PT BEI Yulianto Aji Sadono akibat penurunan IHSG mencapai 5%.

Hari ini Jumat (20/3) IHSG langsung anjlok di level  3.942,5 pukul 09.10 atau 10 menit setelah dibuka. Jatuh 3,96% dari awal pembukaan.

Potensi turunnya harga saham di bursa efek masih akan terjadi akibat pengaruj aksi jual pemain asing. 

Thursday, March 19, 2020

Rupiah Terpuruk dibayangi Krisis 1998

Pagi ini nilai tukar Rupiah menembus angka Rp15.830 terhadap Dollar AS.  nilai ini mendekati rekor terburuk Rupiah Juni 1998 di angka Rp16.950. Kinerja mata uang dalam negeri ini melengkapi krisis multidimensi yang mendera negeri ini. 

Ketahanan Rupiah dipengaruhi faktor kekuatan produksi dalam negeri yang diperankan oleh sektor usaha kecil dan menengah. Ketergantungan terhadap produk luar negeri yang ditandai dengan tingginya angka impor hanya akan membuat Rupiah terus terpuruk. 

Apabila mata uang terus terpuruk, maka kenaikan harga barang dan jasa ada di depan mata,  karena daya beli mata uang turun nilainya. 

Apalagi bila ketergantungan ekonomi suatu bangsa terhadap negara tertentu menyebabkan efek domino dari krisis yang dialami negara tsb. 

Maka ekonomi berdikari yang digaungkan founding fathers negeri selayaknya diikuti secara nyata tidak hanya digunakan sebagai daya jual pencitraan yang jauh panggang dari api. 

Tuesday, March 17, 2020

Kebijakan Bank Sentral dan Emas terkait Corona

Bank Sentral di berbagai dunia saat ini gencar mengumumkan kebijakan terbaru untuk meredam dampak Covid-19 terhadap bisnis dan Ekonomi mereka sbb :

Federal Reserve ( Bank Sentral Amerika Serikat) 

Untuk kedua kalinya dalam 2 pekan terakhir The Fed memotong tingkat suku bunga 100 basis poin  hingga mendekati nol untuk mendongkrak ekonomi hari Ahad kemarin (di Amerika dalam kondisi tertentu tidak ada hari libur). Progam Quantitive-Easing semacam bantuan likuiditas $700 miliar juga diguyur untuk mempertahankan pasar obligasi (surat utang) mereka

Bank of Japan

Bank Sentral Jepang kemarin (Senin 16/3) mengumumkan program bantuan pinjaman kepada para pelaku usaha selama wabah Covid-19 merebak. Pengumuman ini dipercepat dari jadwal semula hari Kamis lusa. 

People Bank of China

Bank Sentral Cina mengguyur likuiditas sejumlah 100 miliar Yuan terhadap pasar finansial mereka dengan fasilitas pinjaman mid-term 1 tahun.

Reserve Bank of New Zealand

Bank Sentral Selandia Baru memotong tingkat suku bunga 75 basis poin menjadi 0,25% dan akan mempertahankan rate ini setidaknya selama setahun. 

Bank of Korea

Memotong suku bunga 50 basis poin menjadi 0,75% Senin kemarin.

Bank of Australia 

Australia tetap mendukung usaha dengan bantuan likuiditas sejumlah 8,8 miliar Dollar Australia (US$5,4 miliar) Senin kemarin. 

Bank of Canada

Kanada juga menurunkan tingkat suku bunga sebesar  50 basis poin menjadi 0,75%. Ini adalah penurunan ke 2 dalam 2 pekan terakhir.

Bank of Srilanka

Mereka menurunkan suku bunga 25 basis poin menjadi 7,25% Senin kemarin. 

Bank of England

Gubernur bank sentral Inggris yang baru Andrew Bailey mengumumkan penurunan tingkat suku bunga 50 basis poin pekan lalu. 

Kaitannya dengan Harga Emas

Penurunan tingkat suku bunga oleh bank sentral dunia biasanya berimbas terhadap kenaikan harga emas Internasional . Namun yang terjadi justru sebaliknya. Senin (16/3) kemarin harga emas,  perak, dan platinum anjlok serentak setelah kenaikan beruntun pekan silam. 
"Virus Corona telah menyebabkan finansial yang tidak menentu dan kegaduhan masyarakat" kata Goldman' US Chief Equity Strategist, David Costin. 
Sedangkan Jim Wyckoff analis senior Kitco (dealer emas terbesar dunia)  menyatakan anjloknya logam mulia Senin kemarin akibat kepanikan pasar "Sell What You Can".

Namun ada juga analisa yang menyatakan hal ini terjadi akibat Bank Sentral dipaksa menjual cadangan emasnya untuk memperbaiki ekonomi seiring trend Covid-19 yang menurun, menurut Phil Flynn analis pasar senior dari Prices Futures Grup. 

Namun apa yang terjadi pekan ini memang sebuah anomali pasar di saat bursa saham dunia jatuh dan pemotongan suku bunga bank sentral, pasa  saat yang sama harga emas internasional ikut anjok. Kaidahnya harga saham dan tingkat suku bunga mempunyai hubungan  negatif dengan harga emas. Artinya apabila yang satu naik,  maka yang lain turun dan sebaliknya. Hal ini sudah menjadi rumusan pasar. 

Apakah kaidah pasar juga terkena virus Corona?  Wallahu 'alam. 











Friday, March 6, 2020

AS : Ketika California Shut Down karena Corona

Bisa jadi luput dari perhatian, negara yang saat ini sedang ketar-ketir karena virus Corona bukan hanya Korsel,  Italia,  atau Iran,  tetapi Amerika Serikat, bahkan bisa jadi lebih panik. 

Saat ini di dunia sudah 90.000 orang yang terpapar Corona,  dengan 3.000 kematian. Di Italia dan Iran bahkan seluruh sekolah dan Universitas telah diperintahkan untuk ditutup. Namun apa yang terjadi di Amerika lebih parah lagi. Salah satu negara bagian Amerika,  California mengumumkan status darurat terkait penyebaran virus corona. 

Di sektor moneter,  sejumlah bank ternama melonggarkan kebijakan moneternya untuk memerangi efek negatif ekonomi akibat corona. Sejumlah bank sentral juga mengambil kebijakan segera (termasuk bank sentral Eropa).

Bursa Wallstreet mengalami penurunan tajam justru saat pembukaan Kamis pagi tadi, seiring pengumuman status emergency terkait corona oleh California. Wallstreet jatuh 14% di angka 36,30 .  Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi setelah kematian akibat corona menembus angka 11 orang di Amerika.