www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Sunday, August 18, 2019

Berdiam Diri tidak Menyelesaikan Masalah

Walau hanya tokoh fiksi, Sherlock Holmes adalah seorang detektif yang masyhur. Figur rekaan Sir Arthur Conan Doyle ini mampu memecahkan banyak misteri yang rumit dan pelik,  yang bahkan polisi pun tidak sanggup menguaknya.

Dalam berbagai kasus,  Sherlock Holmes mampu menanganinya dengan baik melalui segudang keahliannya seperti penalaran logis,  penyamaran,  pengamatan, hingga ahli forensik.

Tentu saja banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari profesinya sebagai detektif. Dalam kisah Empat Pemburu Harta,  Sherlock Holmes bercerita sbb "Otakku tidak puas dengan berdiam diri.Beri aku masalah, beri aku pekerjaan, beri aku sandi yang paling rumit, atau analisis yang paling berbelit-belit, dan aku akan menjadi diriku yang semula. Aku membenci rutinitas yang membosankan.Aku sangat menginginkan pengerahan mental. Itu sebabnya aku memilih profesiku ini, atau lebih tepatnya menciptakannya, karena aku satu-satunya di dunia. "

Banyak di antara kita yang tatkala terkena masalah, malah memilih merenung, berdiam diri,  pasrah,  dan tidak melakukan apa-apa. Apakah masalah itu bisa selesai begitu saja tanpa melakukan sesuatu? Apakah pekerjaan akan datang tanpa dicari?  Apakah kita akan menerima keadaan yang terbelit kemiskinan dengan alasan beginilah nasib kita?

Dalam kisah Empat Pemburu Harta, Sherlock dengan jelas mengatakan kalau ia menciptakan pekerjaannya. Dalam hal ini ia menciptakan profesi yang paling diinginkankannya. Intinya ia menjadi ahli di bidang yang dikuasainya.

Dalam kisah Lilitan Bintik-Bintik, Sherlock Holmes dihadapkan pada kasus aneh.  Seorang perempuan bernama Helen Stoner datang meminta bantuannya untuk menyelidiki kematian saudara kembarnya. Dari cerita Helen, sebelum saudara kembarnya meninggal, saudaranya sempat  mendengar suara  siulan di malam hari. Setelah itu,  Helen menemukan saudaranya telah meninggal.

Satu malam sebelum Helen mendatangi Sherlock, ia juga mendengar suara siulan aneh itu. Helen jadi ketakutan.  Ia tidak mau meninggal sama seperti saudara kembarnya. Ia akan  menikah dua minggu lagi.  Itu sebabnya ia mendatangi Sherlock dan meminta bantuan agar Sherlock memecahkan misteri kematian saudaranya, sekaligus menghindarkannya dari bahaya yang bisa jadi datang, sama seperti yang dialami saudaranya.

Bagi Sherlock ini adalah tantangan. Berdiam diri tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus bergerak. Mencari tahu. Mencari lebih banyak data. Dan tentu saja melakukan penyelidikan seteliti dan sedetail mungkin. Dari penyelidikan yang dilakukannya, Sherlock Holmes berhasil memecahkan misteri lilitan bintik-bintik dan penyebab kematian saudara kembar Helen.

Kita juga bisa seperti Sherlock.  Di saat orang-orang di sekitar kita berebut lahan pekerjaan- meski itu bukan bidang keahlian mereka- kita tidak perlu ikut berebut atau hanya menunggu panggilan kerja. Kita bisa menciptakan profesi yang paling kita inginkan. Kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya dan bergerak dalam bidang tersebut. Kita bisa menjadi "Pencipta" bidang itu.

Sumber : Monica Anggen, 99 cara berpikir ala Sherlock Holmes.

Saturday, August 17, 2019

Corralito : Sisi Gelap Krisis Mata Uang di negeri Maradona

Istilah Corralito kembali mengemuka akhir-akhir ini di Argentina seiring dengan krisis mata uang yang melanda negara  Amerika Selatan itu.

Corralito adalah nama yang diberikan terhadap kondisi ekonomi di Argentina pada akhir 2001 silam. Ini dipicu oleh kebijakan mentri Ekonomi Argentina kala itu Domingo Cavallo, untuk menghentikan operasi bank-bank di negeri itu selama setahun penuh guna mencegah penarikan Dollar secara masif yang berujung pada kejatuhan Peso. Corralito membekukan hampir seluruh rekening bank nasabah negara asal Maradona itu. Dan juga melarang penarikan dana nasabah dalam Dollar dari rekening (dengan denominasi dollar).

Pada tahun 2001 Argentina berada pada pertengahan krisis. Mempunyai utang yang sangat besar dengan kondisi ekonomi stagnasi (hampir 3 tahun penuh mengalami resesi). Dan menganut nilai tukar tetap terhadap Dollar,  yaitu 1 peso sama dengan 1 Dollar. Dengan kondisi ini bisa ditebak produk ekspor Argentina sulit bersaing di pasar internasional.

Situasi ini menyebabkan banyak orang Argentina terutama perusahaan memprediksi terjadinya krisis ekonomi yang parah yang mengarah pada devaluasi (penyesuaian kembali nilai mata uang). Ini menyebabkan mereka ramai-ramai menukarkan peso (mata uang Argentina) ke dalam Dollar, kemudian menariknya dan mentransfernya ke rekening bank luar negeri (capital flight).

Pada 1 Desember 2001, pemerintah dalam rangka menghentikan aliran Dollar ke luar negeri (yang dapat memicu kehancuran sistem perbankan) membekukan seluruh rekening nasabah bank-bank umum selama 90 hari. Dan hanya sejumlah kecil uang tunai saja (awalnya 250 peso,  kemudian 300 peso)  yang boleh ditarik dalam satu minggu. Dan terbatas hanya pada rekening dengan denominasi Peso. Sedangkan rekening dengan denominasi Dollar tidak boleh ditarik kecuali pemiliknya setuju untuk menukarnya dengan Peso.

Kondisi ini kembali berulang minggu-minggu ini. Warga Argentina ramai-ramai menarik Dollar dari rekening mereka dan menyimpannya di rumah setelah Presiden incumbent Mauricio Macri tumbang dalam pemilihan, ini memicu kejatuhan nilai Peso.

Nasabah menarik Dollar lebih dari $700 juta hanya pada Senin (12/8) dan Selasa (13/8) saja, mengacu pada data pemerintah baru-baru ini. Jumlah tersebut setara dengan 2,3% dari total deposit Dollar dalam sistem keuangan Argentina. Angka ini adalah penarikan akumulasi 2 hari yang terbesar secara persentase dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun. Trauma Corralito menjadi salah satu penyebab aksi penarikan Dollar secara masif ini.

Cadangan devisa negara itu juga susut secara drastis untuk mempertahankan nilai Peso yang semakin melemah. Pekan ini saja bank sentral  Argentina telah menjual $503 juta ke pasar valuta asing sebagai intervensi mempertahankan nilai mata uangnya. Belum lagi Jumat (16/8) kemarin bank sentral juga menguras cadangan devisa Dollarnya untuk membayar obligasi pemerintah (populer dengan nama Letes) yang jatuh tempo senilai $500 juta.

Kejatuhan nilai Peso tak pelak lagi membuka jalan bagi warga Argentina untuk segera memproteksi uangnya dalam bentuk emas atau dinar agar store of value dari uangnya tetap terjaga.

Thursday, August 15, 2019

Dollar AS tembus Rp14.300, Rupiah terlemah di Asia

 Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lagi-lagi melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Bahkan dolar AS sudah menembus kisaran Rp 14.300. 

Pada Selasa (13/8/2019), US$ 1 dihargai Rp 14.315 kala penutupan pasar spot. Rupiah melemah 0,49% dan menyentuh titik terlemah sejak 18 Juni. 

Kala pembukaan pasar, rupiah sudah melemah tetapi hanya 0,07%. Selepas itu, depresiasi rupiah semakin dalam dolar AS berhasil menembus level Rp 14.300. 

Rupiah tidak pernah merasakan penguatan, selalu melemah sejak pasar dibuka. Berikut pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah sepanjang hari ini: 

Sebenarnya tidak hanya rupiah, berbagai mata uang utama Asia juga melemah di hadapan dolar AS. Cuma yen Jepang, rupee India, dan baht Thailand yang masih mampu menguat. 

Meski banyak 'kawan' di zona merah, tetapi rupiah tetap yang paling menderita. Depresiasi 0,49% menjadikan rupiah mata uang terlemah di Asia, penghuni dasar klasemen. 

Banjir sentimen negatif masih melanda pasar keuangan Asia. Perang dagang AS-China yang bertransformasi menjadi perang mata uang belum juga reda. 

Hari ini, Bank Sentral China (PBoC) menetapkan nilai tengah yuan di CNY 7,0326/US$. Ini adalah posisi terlemah sejak Maret 2008 atau lebih dari 11 tahun lalu. 

Posisi PBoC menyiratkan bahwa mereka 'merelakan' yuan melemah. Oleh karena itu, wajar jika AS meradang karena China dituding menggunakan mata uang sebagai 'senjata' dalam perang dagang. 

Ketika yuan melemah, maka produk made in China menjadi lebih murah di pasar ekspor. Ini membuat produk China tetap bisa leluasa berpenetrasi di berbagai negara

Isu ini hanya bisa diredakan jika sudah ada kabar delegasi AS dan China akan bertemu di Washington awal September, seperti yang sudah dijadwalkan. Jika pertemuan ini sampai batal dan AS-China semakin panas, maka sentimen perang dagang dan perang mata uang akan terus menjadi momok di pasar keuangan global. 

Bahkan kini pelaku pasar mulai bicara soal risiko resesi akibat perang dagang AS-China. Goldman Sach dalam risetnya menyebut AS-China sepertinya akan sulit mencapai kesepakatan dagang sebelum Pemilu AS 2020. Perang dagang kemungkinan masih akan berkecamuk sampai tahun depan, yang bisa berujung kepada resesi. 

Belum lagi ada kabar buruk dari Amerika Latin. Bagai deja vu tepat setahun lalu, mata uang peso Argentina melemah parah. Pada perdagangan kemarin, peso melemah 15,26% terhadap dolar AS dan menyentuh posisi terlemah sepanjang sejarah.  

Kejatuhan peso disebabkan oleh kekalahan calon petahana (incumbent) Pemilu 2019, Presiden Mauricio Macri. Dalam perhitungan suara awal, Macri hanya memperoleh sekitar 32%. Jauh di belakang kandidat oposisi Alberto Fernandez yang meraih 47%. 

Macri adalah pemimpin yang pro pasar. Di bawah kepemimpinannya, Argentina dibawa keluar dari krisis pada tahun lalu meski dibayar dengan harga yang lumayan mahal.  Macri meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF). 

Selain utangan, IMF juga menyarankan Macri untuk melakukan pengetatan anggaran. Pos-pos seperti subsidi dipangkas agar fiskal lebih sehat. 

Namun dengan kemungkinan Macri tidak terpilih lagi, Argentina bisa kembali ke rezim populis yang mengabaikan reformasi fiskal.

Ya, kira-kira setahun lalu (Agustus 2018) Argentina membuat geger dunia. Mata uang peso melemah begitu dalam, yang kemudian menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang lain, termasuk rupiah. 

Apalagi fundamental rupiah bisa dibilang kurang oke. Akhir pekan lalu Bank Indonesia (BI) melaporkan data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2019 yang membukukan defisit US$ 1,98 miliar. Padahal pada kuartal sebelumnya terjadi surplus US$ 2,42 miliar. 

Sementara di pos yang menjadi sorotan utama, yaitu transaksi berjalan (current account), terjadi defisit US$ 8,44 miliar atau 3,04% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya yaitu minus US$ 6,97 miliar (2,6% PDB). 

Defisit NPI menandakan arus devisa di perekonomian nasional seret, lebih banyak yang keluar ketimbang yang masuk. Apalagi kemudian devisa jangka panjang dari ekspor barang dan jasa, yang dicerminkan dari transaksi berjalan, mengalami defisit yang lebih parah. 

Oleh karena itu, pasar semakin menemukan alasan untuk 'menghukum' rupiah. Selama transaksi berjalan masih defisit, rupiah memang rentan  ketika ada sentimen negatif dari luar seperti hari ini.

Sumber : CNBC Indonesia, Hidayat Setiaji

Sunday, August 11, 2019

Jawaban Ulama Syria atas Pertanyaan Ulama dari Nusantara

Pada awal abad 20 seorang ulama dari Kalimantan bernama syaikh Basuni Imran bertanya kepada syaikh Syakib Arsalan seorang ulama Syiria melalui surat.  Pertanyaannya adalah "Limadza ta'akhara  muslimun wa limadza taqaddama ghairuhu". (Mengapa kaum muslimin tertinggal sedangkan kaum yang lain maju). Syaikh Syakib Arsalan pun membalasnya untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Di kemudian hari jawaban beliau dibukukan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Jawaban dari pertanyaan " mengapa kaum muslimin tertinggal sedangkan kaum yang lain maju"? adalah karena kaum atau bangsa lain itu banyak berkorban untuk meraih kejayaannya.  Para pemuda Italia di masa itu (awal abad 20) ketika menginjak usia 20 akan sangat malu bila masih berada di rumah. Mereka mesti mendaftarkan dirinya mengikuti wajib militer  sehingga dapat pergi ke medan perang. Begitu pula bangsa Inggris, mereka telah mengorbankan apa saja yang mereka punya sehingga pada awal abad 20 mencatatkan dirinya sebagai kerajaan dengan armada laut terbesar untuk memulai penjajahan terhadap negara-negara Asia dan Afrika.

Dalam Islam Nabi yang begitu populer karena pengorbanannya, sehingga namanya disandingkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam setiap shalawat adalah Nabi Ibrahim as. Mimpi beliau untuk menyembelih anaknya adalah ujian ketaatan yang amat berat. Mimpi bagi seorang Nabi adalah wahyu, dan wahyu adalah perintah. Anak yang dalam kurun waktu yang amat panjang tidak bersua,  ketika tiba saatnya berjumpa,  alih-alih melepas rindu malah mesti disembelih. Namun karena perintah,  hanya ada satu jawaban yaitu melaksanakan sebelum akhirnya Allah ganti dengan domba yang besar.

Maka umat Islam sebagai umat akhir zaman,  adalah lebih utama menjadi penghulu kaum yang gemar berkurban guna tegaknya dienullah ini.

(Disadur dari khurbah Idul Adha Dr. Adian Husaini di Masjid Al Huda komp. Timah Kelala dua)

Thursday, August 8, 2019

Ketahanan Rupiah dan Kenaikan Emas

Akibat krisis moneter tahun 1998 silam adalah nilai tukar Rupiah yang tergerus nilainya terhadap Dollar AS. Dari kurs Rp2.000-2.500 pada 1997, mencapai puncaknya Rp16.650 pada Juni 1998. Setelah berusaha keras menjaga kurs di angka Rp2.000, cadangan devisapun tergerus dan akhirnya BI membiarkan nilai tukar Rupiah mengembang terhadap Dollar sehingga terus merosot nilainya.  Rupiah tidak berdaya melawan Dollar.

Saat ini situasinya berbeda. Nilai Dollar sendiri yang tergerus nilainya. Apa pembandingnya?  Tentu saja bukan Euro,  Yen,  Poundsterling apalagi Rupiah. Karena bagi mata uang tersebut Dollar adalah timbangannya.  Sebagai world reserve currency (mata uang utama dunia) Dollar memiliki privilege sebagai poros mata uang internasional. Nah apa pembanding Dollar sendiri?  Tentulah emas. Sebagai cermin atau timbangan seluruh barang dan jasa, emas dalam sejarah peradaban manusia memainkan peran penting sebagai alat ukur nilai barang dan jasa. Begitu juga bagi Dollar,  emaslah pembanding bagi nilai riil mata uang yang bernama Dollar. Sejak 1945 nilai Dollar terhadap emas nilainya tergerus hingga tinggal 2,3% (dengan harga emas saat ini $1.500/oz)

Saat ini nilai Emas dalam Dollar mengalami kenaikan tajam akibat perang mata uang yang dipicu oleh negara pencetak mata uang itu sendiri,  yaitu Amerika. Karena hubungan antara Emas dan Dollar adalah terbalik, maka kenaikan yang satu akan menyebabkan penurunan yang lain,  begitu sebaliknya. Mirip dengan permainan anak-anak jungkat jungkit. Saat ini harga emas naik tajam,  maka nilai Dollar dalam emas tentu turun.

Ketika harga emas dalam Dollar naik,  maka dalam mata uang lain yang nilainya lebih rendah dari Dollar tentu juga mengalami kenaikan.  Sebagai contoh harga Dinar dalam Rupiah mengalami kenaikan 9,14% dalam satu bulan terakhir, sedang setahun terakhir naik 21,63%, dan dalam 10 tahun mengalami kenaikan 130,06%. 

Ketika harga dinar atau emas naik nilainya dalam Rupiah maka daya beli Rp terhadap barang dan jasa juga mengalami penurunan. Yang nyata kita alami adalah sembako. Nilai Rupiah untuk mendapatkannya semakin hari semakin rendah.

Maka tantangan yang dihadapi Rupiah saat ini sebenarnya lebih berat dibanding krismon 1998. Pemerintah perlu menjaga ketahanannya agar daya belinya tidak terus tergerus. Salah satu caranya dengan menambah porsi cadangan devisa dalam bentuk emas, seraya mengurangi cadangan devisa Dollar. Sehingga nilai Rupiah memiliki jaminan yang lebih riil nilainya.