www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, June 11, 2013

Sekilas Sejarah mata Uang di Indoensia : Dari Emas Jadi Kertas

ROHIMIN, 57 tahun, warga Sidoarjo, Jawa Timur, menemukan 10.388 keping uang kuno saat membuat saluran pembuangan air di belakang rumahnya pada 23 November 2008. Uang bertuliskan huruf China itu merupakan peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. Alih-alih menyimpan atau menjualnya, dia memilih menyerahkan temuannya kepada pemerintah –kendati sempat memamerkannya ke warga dengan memasang tarif Rp1.000. Dia mendapat kompensasi sebesar Rp3 juta; jumlah yang kecil dibandingkan nilai uang itu. Tapi apa jadinya jika uang-uang itu jatuh ke tangan kolektor uang kuno?
Hobi mengoleksi uang kuno marak setidaknya dua dekade ini. Penghobinya akan berburu ke berbagai tempat untuk menambah koleksinya. Tak sedikit pula yang menjajakannya, entah asli atau palsu, di pinggiran jalan hingga situs-situs internet. Uang dibeli dengan uang, dengan nilai yang tinggi.
Sejak kelahirannya uang selalu menjadi alat tukar yang penting. Keberadaannya tak bisa dilepaskan dengan lalu-lintas perdagangan di Nusantara. Tak heran jika uang yang digunakan pun beragam, baik bahan pembuatan, bentuk, ukuran, maupun penandanya.

Pada masa Hindu-Budha, mata uang masyarakat Jawa berupa potongan emas dan perak, berbentuk setengah bulat, segiempat, atau segitiga, dan terdapat cap bergambar jambang, tiga kuntum bunga, atau tiga tunas daun. Ada yang berbentuk seperti kancing, dengan cap huruf Nagari berbunyi mā pada sisi cembung dan cap bunga empat kelopak pada sisi cekung. Ada juga uang emas berbentuk butiran jagung. Kedua uang seberat 2,4 gram ini digunakan pada zaman Kerajaan Mataram, Kediri, dan Singasari, hingga awal kemunculan Majapahit sekira abad ke-14, yang juga mengedarkan uang tembaga, kuningan, dan timah.

Saat itu para pedagang China yang bermukim di wilayah Majapahit sendiri bertransaksi memakai kepeng China –masyarakat Jawa menyebutnya uang gobog. Hiasan pada satu atau kedua sisi uang gobog yang terbuat dari kuningan dan tembaga itu berupa relief manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tulisan, maupun kehidupan masyarakat Majapahit. Selain itu, ada gobog bertuliskan syahadat dalam huruf Arab, yang membuktikan masyarakat Majapahit yang mayoritas Hindu-Budha sudah menganut Islam. Selain untuk membeli, gobog digunakan sebagai media penyebaran agama dan peranti upacara agama, sesaji, bekal kubur, ataupun jimat.  

Masa perkembangan Islam ditandai dengan kemunculan kerajaan-kerajaan Islam dari abad ke-13 sampai ke-19. Mata uang kerajaan Islam sebagian besar bertuliskan nama-nama sultan dan tahun hijriyah dengan huruf Arab atau Jawi. Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam membuat uang emas disebut derham, uang timah kasha, dan uang perak.  Kerajaan Palembang mengeluarkan uang berbahan tembaga dan timah: piti teboh (berlubang di tengah) dan piti buntu (tanpa lubang). Kerajaan Banten mengedarkan kasha dari tembaga, yang pada satu sisinya bertuliskan huruf Jawa: Pangeran Ratu ing Bantam. Kerajaan Cirebon merilis uang buatan orang China, picis. Di sekeliling lubang uang timah yang tipis dan mudah pecah ini tertulis: Chirebon. Kerajaan Gowa mengedarkan uang emas, jingara dan uang campuran timah dan tembaga, kupa.

Sedangkan Kerajaan Buton menerbitkan uang katun kampua atau bida, juga dikenal dengan lapjesgeld. Konon, uang ini ditenun oleh putri-putri keraton. Untuk mencegah pemalsuan yang diganjar dengan hukuman mati, setiap tahun uang lama ditarik dan dimusnahkan, lalu diganti corak baru.

Kerajaan-kerajaan Islam di Pontianak, Banjarmasin, dan Kalimantan Selatan mengedarkan uang tembaga yang disebut duit. Sementara Kerajaan Sumenep mengedarkan uang asing yang diberi cap tulisan Arab, Sumanap, yaitu real batu (beredar di Mexico lalu di Filipina), gulden Belanda, dan thaler Austria. Untuk mencegah pemalsuan, uang yang beredar pada 1818-1819 ini diberi cap khusus motif bunga, angka 600, dan tanda pengenal saudagar.

Awal abad ke-16, pedagang Portugis mengenalkan uang pasmat dan real dari perak. Kemudian, masa kolonial Belanda beredar uang dengan berbagai nilai satuan: schelling, dukat, dukatoon, duit, stuiver, rijksdaalder, dan gulden. Lantaran sulit mendapat bahan baku logam, kolonial Belanda menerbitkan uang kertas menyerupai sertifikat. Menjelang dan setelah VOC bubar, dibuat uang darurat, bonk, terbuat dari potongan-potongan batang tembaga segiempat yang dicetak di Batavia; dan uang bertuliskan INDIÆ BATAVORUM. Dan pada 1806-1811 beredar uang logam dan kertas berharga bertuliskan LN: Louis Napoleon.

Pada masa pendudukan Inggris (1811-1816), di Jawa beredar bermacam uang dari emas, perak, tembaga, dan timah. Salah satu yang terkenal adalah rupee Jawa, yang pada kedua sisinya tertera tulisan dengan huruf Jawa dan Arab. Mata uang Inggris dengan monogram UEIC (United East India Company) beredar di Bengkulu sejak 1783 dengan satuan suku dan keeping. Kembalinya kekuasaan Belanda, diperkenalkan uang ringgit Belanda Seri Raja Willem der Nederlanden tahun 1840, Raja Willem II der Nederlanden tahun 1848, Raja Willem III der Nederlanden tahun 1865, dan Ratu Wilhelmina der Nederlanden tahun 1930. 

Bahkan ada uang yang menjadi saksi penderitaan buruh, yakni token perkebunan yang muncul pada era tanam paksa. Uang ini dibuat para pemilik kebun demi mencegah para buruh kabur, dan hanya berlaku di kawasan tertentu. Bentuknya beragam: segitiga, segilima, segienam, dan seperti mata.
Ketika Jepang menduduki Indonesia, uang kertas yang beredar masih menggunakan bahasa Belanda dengan satuan gulden, sehingga disebut gulden Jepang. ketika Jepang menghapus segala hal berbau Belanda, Jepang memberlakukan uang yang dicetak dalam bahasa Indonesia dan Jepang. Uang kertas yang disebut rupiah Jepang ini tidak bernomor seri dan tidak bertanda tangan pejabat berwenang. Uang itu berlaku hingga beberapa saat setelah pendudukan Jepang berakhir.

Pada awal kemerdekaan keadaan ekonomi ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran mata uang yang tak terkendali, sementara pemerintah Indonesia belum memiliki mata uang sendiri. Ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku pada 1 Oktober 1945: mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank. Di antara ketiga mata uang tersebut, yang nilai tukarnya anjlok adalah mata uang Jepang. Peredarannya mencapai empat milyar sehingga terjadi hiperinflasi. Yang paling menderita adalah petani, karena mereka menyimpan banyak mata uang Jepang. Pemerintahan pun demikian. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno menceritakan, dokter pribadinya, Suharto, yang juga menjadi bendahara negara, menimbang setumpuk uang kertas dan membagi-bagikannya kepada para penyelenggara negara secara kiloan.

Kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi diperparah oleh kebijakan Belanda pada 6 Maret 1946, yang mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah yang diduduki pasukan Belanda. Pemerintah Indonesia protes karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Belanda mengabaikan protes itu dan tetap menggunakan uang NICA untuk membiayai operasi-operasi militernya.

Pada 26 Oktober 1946, pemerintah Indonesia memberlakukan mata uang Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah Indonesia. Ditutupnya percetakan uang di Jakarta oleh Sekutu, membuat Mohammad Hatta mencari percetakan lain dan menemukan percetakan Kolff di Malang, Jawa Timur. Kualitas cetaknya lebih buruk dibanding percetakan di Jakarta. Pencetakan ini dikerjakan dengan tangan, sehingga disebut mesin cetak tangan. “Kami tidak mempunyai apa-apa sebagai penjamin uang kertas itu, kecuali sebuah mesin cetak tangan. Karena mutunya tidak bagus, tak satu pun negara di luar negeri mau menerimanya,” kata Sukarno.

Meski ORI resmi beredar pada 31 Oktober 1946, namun tanggal cetak yang tercantum, 17 Oktober 1945. Menyambut peredaran perdana ORI, Hatta mengumumkan melalui siaran radio ke seluruh negeri bahwa Republik Indonesia telah memiliki mata uang sendiri, karena itu mata uang NICA harus ditolak. Kekuatan rupiah setara dengan gulden Belanda sebelum masa perang. Hatta mendesak agar orang Indonesia menganggap rupiah sebagai simbol kemerdekaan dan pembangunan ekonomi.
Sejak itu uang Jepang, uang Hindia Belanda dan uang De Javasche Bank tak berlaku lagi. Hanya dua mata uang yang beredar: ORI dan NICA; masing-masing diakui oleh yang mengeluarkannya.
Pada periode 1947-1949, beberapa daerah mengeluarkan Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA). Hal ini dilakukan buat menahan gempuran uang NICA serta jurus pemalsuan ORI yang dilancarkan Belanda. Peredaran ORIDA berhenti sejak Maret 1950, seiring terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS).

http://historia.co.id/artikel/resensi/670/Majalah-Historia/Bukan_Sembarang_Uang

Grant Williams: "Do The Math!"

Dalam sebuah  masterclass mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di dunia saat ini, Grant Williams mempresentasikan video yang layak ditonton. Memulai dengan premis bahwa logika matematika tidak dapat diganggu gugat, manajer investasi Austalia ini menyusun masalah filosofi bahwa pasar dunia saat ini kelihatan goyah. Dengan grafik-grafik yang menarik, Williams menunjukkan rangkaian masalah mulai dari "Masalah 1: Bila ekonomi global mengalami tarik ulur, Eropa mengalami resesi, ekonomi Cina melemah dan pertumbuhan ekonominya tidak mungkin lebih tinggi lagi, apa yang terjadi dengan pasar modal? hingga"masalah 7 : The Gold Price and The Price of Gold are mutually exclusive"


07:26 Williams' Problem 1:Bila ekonomi global mengalami tarik ulur, Eropa mengalami resesi, ekonomi Cina melemah dan pertumbuhan ekonominya tidak mungkin lebih tinggi lagi, apa yang terjadi dengan pasar modal?


16:24 Williams' Problem 2: Bila industri Cina mengendur, permintaan bahan baku merosot tajam, impor dan ekspor turun, dan konsumsi Cina jatuh, mengapa  pertumbuhan GDP Cina masih bisa mencapai angka 7,7%.



20:40 Williams Problem 3:Perancis?! Berikut adalah pertumbuhan mobil di Perancis yang mengalami penurunan rata-rata signifikan, termasuk made in Perancis sendiri Peugot/Citroen dan Renault




33:35 Williams' Problem 7: The Gold Price and The Price of Gold are mutually exclusive



Khusus mengenai kejatuhan harga emas bulan April tahun ini, Grant Williams -yang mempresentasikan ini pada konferensi institut CFA di Singapura 21 Mei 2013- menekankan  dengan kalimat "mathematically inexplicable pressure"  atau tekanan penurunan harga emas  ini secara matematis tidak dapat dijelaskan. Dan juga menjelaskan ada perbedaan mendasar antara "the gold prie" dan "the price of gold" -- dimana yang menjadi acuan adalah harga emas fisik di pasaran bukan harga emas berdasarkan  futures market.Williams memang tidak dengan gamblang menjelaskan bahwa pasar emas saat ini menjadi sasaran intervensi pemerintahan dan bank sentral dunia dengan tujuan propaganda dan menakut-nakuti investor emas agar menjauh darinya, dengan mengangkat pamor dollar dan euro.

wallahu 'alam

sumber :  http://www.zerohedge.com/news/2013-05-26/grant-williams-do-math

Saturday, May 18, 2013

Warren Buffet Tanam 6 Miliar Dolar Dukung Zionis ‘Israel’

Salah satu orang terkaya di dunia Warren Buffet dikabarkan baru tuntas membelanjakan USD 6 Miliar hartanya untuk mengambil alih total perusahaan ‘israel’ Iscar Metalworking. Buffet sudah mulai memiliki saham mayoritas perusahaan itu sejak 2006. Demikian diungkapkan oleh Electronic Intifada.

Di tengah semakin merosotnya ekonomi penjajah zionis, suntikan dana Buffett merupakan sebuah langkah penting. Presiden Iscar Eitan Wertheimer menggambarkan transaksi ini sebagai “pesan keimanan” terhadap zionis yang “setara dengan Deklarasi Balfour”, surat dukungan Menteri Luar Negeri Inggris James Balfour untuk pendirian negara Yahudi di Palestina (1917).

Majalah Forbes dalam daftar terbarunya orang paling kaya dunia meletakkan Buffett di urutan kedua, adalah sohib pendiri Microsoft Bill Gates memiliki kekayaan bersih sebesar US$120,5 miliar.

Electronic Intifada menulis, selama ini media-media dunia membangun citra Buffet sebagai pengusaha rendah hati yang dermawan. Kini citra itu harus dilengkapi dengan gambaran yang lebih riil, yaitu sebagai pengusaha yang mendukung penjajahan dan kezhaliman apartheid.

Bagi sebagian relawan penggerak BDS (Boycott, Divestment, Sanction) terhadap ‘israel’, investasi yang dilakukan Buffet merupakan penghinaan. Diantara mereka kini bersiap mendesak gerakan boikot atas seluruh produk perusahaan milik Buffet, seperti Coca-Cola dan Heinz. Di Indonesia Heinz kini diantaranya menguasai pabrik saus dan kecap ABC.

Yang menarik untuk dicatat, pernyataan Presiden Iscar Metalworking di atas disarkan oleh Israel Hayom, sebuah koran milik oleh raja judi Sheldon Adelson.

Menurut penulis Electronic Intifada, David Cronin, selain memiliki pandangan rasis terhadap warga Palestina, Adelson juga sering mengeluarkan pernyataan yang memandang rendah kemiskinan.*

Monday, May 6, 2013

Ron Paul: "This Is A House Of Cards"

Minggu lalu dalam pertemuan perumusan kebijakan reguler, the Federal Reserve menegaskan bahwa mereka sedang mempersiapkan untuk meningkatkan pembelian bulanan aset mortgage-backed securities . the Fed telah memompa lebih dari setengah triliun dollar AS ke dalam ekonomi sejak mereka mengumumkan putaran terakhir“quantitative easing” (QE3) di bulan September 2012. 
 Dengan tidak adanya tanda-tanda recovery ekonomi, kemana uang-uang ini akan pergi nantinya? It is creating bubbles. Bubbles di sektor perumahan, pasar modal, dan utang pemerintah. Sementara, rakyat kelas bawah masih terus menderita. AS sedang tidak berada dalam recovery. Kita memang tidak melihat pengangguran dalam jangka panjang dan orang yang mengantri mengular untuk mendapatkan semangkuk sup seperti Great Depression pada tahun 1930-an, karena potensi itu semua ada dalam jaringan elektronik. Kita tahu solusi riilnya adalah : biarkan pasar bergerak. Kembalikan uang berbasis logam mulia (sound money) ke dalam ekonomi dan rakyat Amerika Sound money adalah pondasi untuk kemakmuran dan pengawas terbaik moneter bagi pemerintah dan kroni kapitalisme.

Sunday, May 5, 2013

Yamashita's Gold

Yamashita's gold, atau  harta karun Yamashita adalah nama  harta rampasan perang yang diambil tentara Jepang selama PD II di Asia Tenggara dan disembunyikan di gua-gua, terowongan dan ruang bawah tanah di Philipina. Nama Yamashita sendiri diambil dari nama jendral Jepang Tomoyuki Yamashita, yang mempunyai nama panggilan "The Tiger of Malaya". Karena berdasar catatan harta karun tersebut masih disembunyikan di Philipina, telah memikat para pemburu harta dari seluruh dunia selama 50 tahun, walaupun keberadaannya tidak diyakini para pakar. Rumor yang beredar harta karun tersebut telah menjadi gugatan hukum dan telah diajukan di pengadilan negara bagian Hawai pada 1988 yang melibatkan  Rogelio Roxas, pemburu harta karun Philipina dan presiden Philipina saat itu  Ferdinand Marcos.

Pendapat yang terkemuka mengenai keberadaan Yamashita's gold adalah Sterling Seagrave dan Peggy Seagrave, yang telah menulis dua buku mengenai hal ini : The Yamato Dynasty: the Secret History of Japan's Imperial Family (2000) dan Gold Warriors: America's Secret Recovery of Yamashita's Gold (2003). The Seagraves berpendapat bahwa rampasan emas Jepang itu diorganisir dalam skala yang luas, oleh 2 pihak yaitu mafia yakuza  seperti Yoshio Kodama, dan masyarakat kelas atas Jepang, termasuk  kaisar Hirohito. Pemerintah Jepang bermaksud membiayai perang dengan harta rampasan itu. The Seagraves menyatakan bahwa Hirohito menunjuk saudaranya, pangeran  Yasuhito Chichibu, untuk memimpin organisasi rahasia yang bernama Kin no yuri ("Golden Lily"), untuk memenuhi maksudnya. Menurut sebuah pengakuan banyak dari mereka yang mengetahui lokasi harta rampasan itu dibunuh selama perang,  dan di kemudian hari mereka yang terlibat dituduh sebagai penjahat perang oleh sekutu untuk kemudian dieksekusi dan ditangkap.Yamashita sendiri dieksekusi oleh tentara AS untuk kejahatan perangnya pada 23 Februari 1946.

Properti yang dicuri menurut laporan terdiri dari berbagai macam benda yang diambil dari bank, brankas, candi, gereja, masjid, museum, dan rumah pribadi. Rampasan ini membawa nama Jendral Tomoyuki Yamashita, yang dianggap memerintahkan angkatan perang Jepang melakukannya di  Philipina tahun 1944.

Menurut berbagai catatan, rampasan ini awalnya disimpan di Singapura, dan kemudian di bawa ke   Philippina. Jepang ingin membawa rampasan ini dengan kapal ke negerinya setelah perang berakhir. Pada perang pasifik, angkatan laut AS dan kapal perang sekutu banyak menenggelamkan kapal kargo Jepang dalam jumlah besar. Beberapa kapal tersebut membawa rampasan Jepang dan tenggelam.

The Seagraves dan beberapa orang lainnya telah mengklaim bahwa intelijen militer AS melakukan beberapa operasi di lokasi tenggelamnya kapal ; mereka berkonspirasi dengan  Hirohito  dan tokoh senior Jepang lainnya untuk menyembunyikan keberadaannya, dan mereka menggunakannya untuk membiayai secara rahasia selama perang dingin. Rumor ini telah memberi inspirasi para pemburu harta karun, tetapi sebagaian besar pakar dan sejarahwan Philipina mengatakan tidak ada bukti yang kredibel dibalik klaim tersebut.

Pada tahun 1992, Imelda Marcos mengklaim bahwa Yamashita's gold  termasuk salah satu warisan harta suaminya Ferdinand Marcos.

Banyak individu dan konsorsium baik dari Philipina atau pun luar Philipina terus melanjutkan upaya pencarian rampsan tersebut. Sejumlah insiden kematian, kecelakaan, dan kerugian finansial yang dialami para pemburu terus dilaporkan.

Saat ini, the Mines & Geosciences Bureau of the Department of Natural Resources of the Philippines adalah perwakilan pemerintahan Phillipina yang mengurus perizinan pencarian harta karun tersebut.

Professor Rico Jose dari University of Fhilippines mempertanyakan teori bahwa harta karun dari daratan asia tenggara itu dikirim dengan kapal ke Philipina : "Sejak tahun 1943 Jepang sudah tidak lagi memiliki kontrol di lautan...Adalah tidak mungkin membawa sesuatu yang berharga jika Anda tahu bahwa akan kalah perang dari Amerika. Hal yang lebih rasional adalah membawanya ke Taiwan atau Cina.

Direktur National Historical Institute  Philipina dan sejarahwan  Ambeth Ocampo memberi komentar: “Dua mitos kekayaan yang selalu saya hadapi adalah harta karun Yamashita dan gosip Cojuangco fortune yang ditemukan di dalam tas yang penuh berisi uang…” Ocampo juga mengatakan : "Selama 50 tahun terakhir banyak orang baik dari Philipina dan luar Philipina, telah menghabiskan banyak waktu dan energi dalam mencari harta Yamashita......tetapi mereka tidak menemukan apapun.

Pada bulan Maret 1988, pemburu harta asal Philipina  Rogelio Roxas mengajukan gugatan hukum ke pengadilan negera bagian Hawai melawan mantan  Phipina Ferdinand Marcos dan istrinya Imelda Marcos atas tuduhan pencurian dan pelecehan kemanusiaan. Roxas menyatakan bahwa di kota  Baguio pada tahun 1961 dia bertemu anak lelaki dari mantan tentara Jepang yang memberi dia peta lokasi harta karun Yamashita . Roxas menyatakan bahwa dia adalah orang kedua, yang bertugas sebagai penterjemah Yamashita selama PD II, dia bercerita kepadanya sebuah kunjungan ke ruang bawah tanah yang menyimpan emas dan perak dan juga bercerita kepadanya tentang patung emas yang disimpan di biara dekat ruang bawah tanah tersebut.  Roxas menyatakan bahwa beberapa tahun berikutnya dia membentuk sebuah kelompok untuk melakukan pencarian harta tersebut, dan memperoleh izin pencairan dari kerabat presiden Ferdinand, yaitu hakim Pio Marcos. Pada tahun 1971, Roxas menyatakan , dia dan kelompoknya membongkar sebuah ruang yang tertutup disebuah pulau dekat kota Baguio dimana dia menemukan bayonet, pedang samurai, radio, dan kerangka yang masih mengenakan seragam militer tentara Jepang. Juga ditemukan di ruang itu , patung emas Budha setinggi 0,9 meter dan sejumlah peti yang bertumpuk-tumpuk di sebuah ruang seluas 6 kaki x 6 kaki x 35 kaki. Dia menyatakan, dia mencoba membuka satu peti, dan dia menemukan penuh dengan emas batangan. Dia membawa sebuah patung emas Budha yang dia perkirakan beratnya 1.000 kg, dan sebuah kotak penuh emas batangan 24 karat dan menyembunyikannya di rumahnya. Dia menyatakan mensegel ruangan tersebut untuk, hingga dia mengatur rencana untuk membawa peti-peti yang masih tersisa, yang dia duga penuh pula dengan batangan emas. Roxas  berkata dia menjual 7 batang emas dari salah satu peti yang dia buka dan mencari calon pembeli potensial untuk patung emas Budha. Dua orang calon pembeli mencoba menguji kadar emas di patung tersebut, Roxas berkata ternyata patung tersebut terdiri dari emas 20 karat. Segera setelah peristiwa itu, Roxas berkata, presiden Ferdinand Marcos, mempelajari penemuan Roxas dan memberi perintah penahanan terhadap dirinya, penyiksaan, dan harta temuannya pun disita. Roxas menduga ini akibat penemuan harta karun tersebut, akhirnya Roxas pun ditahan selama setahun.

Menyusul pembebasannya, Roxas menahan tuntutannya terhadap Marcos hingga Marcos lengser dari kursi presiden tahun 1986. Tetapi pada tahun 1988, Roxas dan the Golden Budha Corporation, yang memegang hak kepemilikan terhadap harta karun Roxas menyatakan bahwa Marcos telah mencuri harta Roxas, dan mengajukan tuntutan terhadap Ferdinand Marcos dan istrinya Imelda di pengadilan negeri Hawai. Roxas meninggal pada malam persidangan, tetapi sebelum kematiannya, dia memberi sebuah kesaksian yang direkam, yang nantinya digunakan sebagai bukti di pengadilan. Pada tahun 1996 perwakilan Roxas dan  the Golden Budha Corporation menerima keputusan pengadilan dimana mereka menerima uang kompensasi terbesar dalam sejarah senilai $22 miliar dan naik menjadi $40,5 miliar.  Pada 1998, pengadilan tinggi Hawai menyatakan bahwa ada cukup bukti untuk mendukung keluputusan Hakim yang menyatakan bahwa Roxas yang menemukan harta tersebut dan Marcos telah mengambil alih kepemilikan harta. Namun mengenai uang kompensasi pengadilan tinggi menilai yang bahwa yang diajukan pengadilan sebelumnya terlalu besar karena terlalu spekulatif, akhirnya putusan final pengadilan adalah the Golden Budha Corporation mendapat $13,275,848.37 dan perwakilan Roxas mendapat $6 juta sebagai klaim pelanggaran HAM.

Putusan pengadilan ini pada akhirnya mensimpulkan bahwa Roxas lah yang menemukan harta karun tersebut, walaupun pengadilan negeri Hawai tidak menjelaskan bahwa itu adalah Yamashita’s gold, namun kesaksian yang disimpulkan pengadilan mengarah pada emas Yamashita itu. Roxas diduga  menelusuri peta yang diberikan anak dari tentara Jepang ; Roxas diduga berbekal petunjuk dari penerjemah Yamashita; dan Roxas akhirnya menemukan pedang samurai, dan kerangka tentara Jepang di ruang harta karun tersebut. Semua ini menuntun pengadilan banding AS ke sembilan kalinya mensimpulkan putusan akhir bahwa : harta karun Yamashita ditemukan oleh Roxas dan kemudian dicuri dari Roxas oleh orang-orang Marcos.