www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Wednesday, January 18, 2017

Hoax : Ternyata Trump pun Melakukannya

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal akhir pekan ini, Trump mengatakan "the US dollar was, “too strong.”  “Our companies can’t compete with them [Chinese companies] now because our currency is too strong. And it’s killing us.” ( Dollar Amerika terlalu kuat, perusahaan kita tidak dapat bersaing dengan Cina karena mata uang kita terlalu kuat, dan itu membunuh kita)
Media-media mainstream Amerika pun dengan serempak menurunkan berita serupa :
Financial Times menurunkan headline  "Trump Team Shifts Further from Strong-Dollar Policy"
CNBC :  "Trump Just Signaled the Death of Clinton-Era Strong-Dollar Policy"
Marketwatch : "Trump Is Waving Adios to the Longstanding 'Strong-Dollar Policy'"

Pernyataan ini memicu Dollar jatuh ke level terendahnya dalam sebulan ini, dan sebaliknya memicu kenaikan emas internasional untuk sementara dari level $1.143 ke angka $ 1.215.

Pertanyaannya adalah? Kenapa Trump mesti menegaskan "Dollar is too strong" di awal kepemimpinannya, menegaskan sesuatu yang sudah ada sejak jaman Clinton.

Kamuflase

Yang dilakukan Trump saat ini adalah kamuflase. Benarkah alasan Trump nilai Dollar yang terlalu kuat akan menyebabkan lemahnya daya saing dagang Amerika dengan Cina, sehingga Dollar perlu dilemahkan? Tidak. Alasanya sebenarnya adalah sebagai penganut pro - utang (jangka panjang) dan dengan kondisi utang AS yang menggunung (tertinggi di dunia) saat ini, maka perlu kebijakan monetisasi utang atau dengan kata lain memperlemah nilai mata uang utama dunia dan AS yaitu Dollar untuk memenuhi nafsu berutang presiden Trump dan menguntungkan AS dengan tumpukan utangnya. Dengan nilai Dollar yang lemah proses kebijakan utang dan pembayaran utang akan lebih menguntungkan. Inilah yang sedang dimainkan oleh Trump.

Jadi alasan Trump untuk melemahkan nilai Dollar agar dapat bersaing dengan Cina adalah tidak benar, ini hanya kamuflasi dari alasan sebenarnya yang tidak populer.

No comments: