www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, March 30, 2021

Inflasi Membayangi Perusahaan Raksasa AS

Perusahaan-perusahaan di AS mulai resah karena dampak inflasi. Rantai suplay mengalami kemacetan, biaya transportasi membengkak, dan upah buruh yang semakin tinggi mulai menggigit.

Raksasa industri 3M mulai mengeluh karena biaya kargo udara semakin tinggi. Retail terbesar AS Walmart pun, mengalami penumpukan barang di pelabuhan. Hal ini terjadi akibat terbatasnya kontainer. Fenomena ini sudah berlangsung sebelum tersangkutnya kapal Ever Given di terusan Suez.

Ancaman inflasi ini tentu dapat  memicu kenaikan harga barang dan jasa termasuk aset seperi logam mulia, energi, property dan investasi lainnya.





Monday, March 29, 2021

Koin Emas Langka 1822 terjual 8,4 juta Dollar

Koin half eagle $5 cetakan 1822

Kancah perdagangan koin emas dunia, mengukir rekor terbaru, setelah koin langka half eagle  dengan nominal 5 Dollar (pada saat itu) cetakan 1822 terjual US $ 8,4 juta pada lelang Las Vegas Jumat (26/3) lalu.

Douglass Mudd, kurator dan direktur museum uang  the Edward C. Rochette di Colorado Springs mengkonfirmasi bahwa koin tersebut adalah satu di antara 3 koin sejenis di dunia. Koin yang dilelang tsb adalah koleksi pribadi D. Brent Pogue, sedangkan 2 koin sejenis tersimpan di museum National Numimastic di Smithsonian Institute Belanda. Pembeli koin dalam lelang tsb meminta namanya dirahasiakan kata Jarod Holland Jubir Stack's Bowes Galleries Las Vegas tempat lelang digelar.

Brett Charville Presiden Jasa Pemeringkat Koin Profesional yang berbasis di Santa Ana California, menyematkan peringkat AU50 pada koin tsb yang artinya tidak lagi beredar.

Koin tsb pertama kali diperoleh tahun 1899, kemudian dijual pada tahun 1945, dan dibeli oleh Pogue sebagai koleksi pribadi pada 1982. Nilai koin tsb melampaui lelang koin emas double eagle cetakan 1933 dengan nilai US$7,6 juta pada 2002.  Namun rekor tertinggi lelang koin kuno masih dipegang oleh koin perak cetakan 1794 US "Flowing Hair" Silver Dollar dengan nilai US$ 10 juta, sebagai koin yang pertama kali dicetak sejak berdirinya Amerika Serikat.


Sumbet : theday.com




 

Saturday, March 27, 2021

Faktor Turunnya Harga Emas Jatuh (2)

Ada sejumlah faktor yang menekan harga emas dan perak relatif rendah saat ini, diantaranya pasar modal mencatat rekor tertinggi dalam 6 bulan terakhir, dan kenaikan nilai mata uang Crypto saat ini.

Menurut  Reuters " Harga emas jatuh Kamis (25/3) seiring kenaikan Obligasi pemerintah AS (US Treasury Bond) mencatat rekor tertinggi dalam 4 bulan terakhir. Sedangkan index mata uang Dollar naik 0,355 poin menjadi 92,885, angka ini terakhir kali pekan terakhir 2020.

Bank Sentral Amerika sendiri the Fed, juga menghadapi dilema, terkait tingkat suku bunga. Apabila the Fed menaikkan suku bunga, akan menyebabkan kebangkrutan keuangan negara, sedangkan apabila the Fed menurunkan tingkat suku bunga, maka inflasi akan naik, dan memicu kebangkrutan rakyat AS, menurut ekonom Peter Sciff dalam wawancara dengan kitco.com, Indeks harga konsumen naik 1,7% yang tertinggi dalam setahun terakhir. Hal ini dipicu kurangnya supply barang-barang (durable) , ditambah naiknya permintaan kebutuhah makanan karena bantuan stimulus warga AS dari pemerintah.






Friday, March 26, 2021

The Power of Habbit (2)

Ketika An Evolutionary Theory of Economic Change diterbitkan pertama kali pada 1982, sangat sedikit orang di luar kalangan akademis yang memperhatikannya.Sampul halaman buku itu, juga kalimat pertamanya yang bombastis-"Dalam buku ini kami mengembangkan suatu teori evolusi mengenai kemampuan dan prilaku firma bisnis yang bekerja dalam lingkungan pasar, dan mengkonstruksi serta menganalisis sejumlah model yang sesuai dengan teori itu"-seolah - seolah dirancang untuk mengusir pembaca. Para pengarang buku itu dua orang profesor dari Yale University Richard Nelson dan Sidney Winter, paling terkenal karena serangkaian makalah analisis mendalam terhadap teori Schumpeter yang tidak bisa dipahami sebagian besar kandidat Ph.D.

Tapi di dunia strategi bisnis dan teori organisasional, buku itu sungguh membuat gempar. Para profesor ekonomi mulai membicarakan tentang buku itu dengan kolega-kolega mereka di sekolah bisnis, yang mulai membicarakannya dengan para CEO di berbagai konferensi, dan dengan segera eksekutif-eksekutif mengutip Nelson dan Winter di berbagai perusahaan , mulai dari General Electric, Pfizer, sampai Starwood Hotels.

Nelson dan Winter telah menghabiskan satu dasawarsa lebih mengkaji bagaimana perusahaan-perusahaan bekerja, perlahan menelusuri lautan data sebelum tiba pada kesimpulan inti mereka : "Banyak perilaku perusahaan, paling baik dipahami sebagai cerminan kebiasaan-kebiasaan umum dan orientasi-orientasi strategis yang berasal dari masa lalu perusahaan, bukan hasil survei terpencil di pohon keputusan."

Kebiasaan-kebiasaan organisasional atau rutinitas seperti sebutan Nelson dan Winter-sangatlah penting, sebab tanpa kebiasaan, sebagian besar perusahaan tak akan bisa menyelesaikan apa-apa . Rutinitas menyediakan ratusan aturan tak tertulis yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi. Rutinitas memberikan semacan "ingatan organisasional", sehingga para manajer tidak harus memperbaharui proses penjualan setiap enam bulan atau panik setiap kali ada wakil presiden yang berhenti. Rutinitas mengurangi ketidakpastian-satu penelitian mengenai upaya pemulihan setelah gempa bumi di Meksiko dan Los Angeles, misalnya, mendapati bahwa kebiasaan para pekerja penanganan bencana mutkak penting, " karena tanpa mereka, perumusan dan penerapan kebijakan akan tersesat dalam rimba raya."

Namun salah satu manfaat rutinitas adalah bahwa rutinitas menciptakan "gencatan senjata" antara kelompok-kelompok atau individu-individu  yang berpotensi berperang dalam satu organisasi.

Kebanyakan ahli ekonomi terbiasa memperlakukan perusahaan sebagai tempat yang damai dimana setiap orang berkhidmat untuk tujuan bersama : mendapat uang dari perusahaan. Nelson dan Winter menyatakan bukan itu yang terjadi dalam dunia nyata. Perusahaan bukanlah keluarga besar yang bahagia dimana setiap orang bercengkrama dengan ramah. Sebagian besar tempat kerja justru terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dimana para eksekutif bersaing demi kekuasaan dan pengakuan, seringkali dalam perselisihan-perselisihan terselubung yang menjadikan kinerja mereka sendiri tampak unggul, sementara para pesaing mereka tampak lebih buruk. Divisi-divisi bersaing demi sumber daya dan saling sabotase demi mencuri kejayaan. Para bos mengadu-domba para bawahan agar tidak ada yang merebut kekuasaan.

Perusahaan bukan keluarga. Perusahaan adalah medan pertempuran dalam perang saudara.

Terlepas dari kapasitas perang internal itu, sebagian besar perusahaan berjalan secara relatif damai, tahun demi tahun, karena memiliki rutinitas-kebiasaan-yang menghasilkan gencatan senjata yang memungkinkan setiap orang menyisihkan persaingan mereka  untuk waktu cukup lama agar pekerjaan bisa selesai.

Rutinitas dan gencatan senjata menawarkan sejenis keadilan organisasional kasar, sehingga konflik di dalam perusahaan "mengikuti jalur yang sebagian besar tetap berada dalan batas-batas yang konsisten dengan rutinitas yang sedang berlangsung. Nyaris sepanjang waktu, rutinitas dan gencatan senjata bekerja secara sempurna. Tentu saja ada persaingan, namun berkat kebiasaan-kebiasaan institusional, persaingan dijaga agar tak melebihi batas dan bisnis pun berkembang.

Sumber : The Power of Habbit, Charles Duhigg

Thursday, March 25, 2021

Di Tengah Ketegangan Politik dengan AS, Rusia & Cina Sepakat Menjauhi Dollar


Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Senin (22/3) lalu memulai kunjungan ke Cina sebagai mitra utama mereka, dengan agenda seruan bersama  Moskow dan Beijing untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dollar dan sistem keuangan barat yang mereka sebut agenda9 ideologis barat.

Lavrov melakukan kunjungan 2 hari ke Cina untuk melakukan pembicaraan  dengan Menlu Cina Wang Yi di kota Guilin.

Agenda ini terjadi di tengah  ketegangan politik kedua negara dengan Presiden AS Joe Biden.

Cina dan AS bersitegang dalam pertemuan tingkat tinggi Jumat (19/3) di Anchorage, Alaska. Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional dan Anthony Blinken, sekretariat negara AS berhadapan tatap muka dengan Diplomat China Yang Jiechi dan menlu Wang Yi.

Dalam pertemuan yang tidak hangat itu, AS menuduh Cina mengancam dan mengganggu kestabilan dunia dengan sejumlah isu seperti Xinjiang, Hongkong, Taiwan, serangan cyber dan perang dagang terhadap AS. Cina tidak menerima tuduhan itu dan mempertanyakan status AS sebagai polisi dunia yang berhak menghakimi negara lain dan balik menuduh AS telah menginvansi sejumlah negara dengan pembunuhan masif termasuk diskriminasi rasial terhadap warga kulit hitam, hingga muncul kalimat dalam pertemuan itu Black people are being "slaughtered" in United States (warga kulit hitam "disembelih" di AS) yang menggambarkan panasnya pertemuan tsb.

Sedangkan duta besar Rusia untuk AS pulang kembali ke Moskow untuk berkonsultasi, setelah Presiden AS Joe Biden memberi pernyataan bahwa " Saya yakin Presiden Rusia Vladimir Putin adalah seorang pembunuh".

Rusia juga sedang bersiap menerima sanksi baru dari AS setelah mereka menuduh Rusia campur tangan dalam pilpres AS 2020 kemarin.

Lavrov mengatakan kepada media bahwa Rusia dan Cina sedang berjuang untuk membangun kekuatan agar terlepas dari upaya AS menggangu pengembangan teknologi mereka. Yaitu mengubah sistem pembayaran global (Dollar AS) dengan mata uang alternatif. "Kita mesti menjauh dari sistem pembayaran internasional  yang dikontrol oleh barat" tambahnya.

Sumber : Reuter