www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Tuesday, October 4, 2011

Once upon a time


Kisah ini berawal dari kuliah di aula the School of Political Sciences in Paris (L'École des Sciences Politiques) 17 Maret 1932, dari titik nadir the Great Depression. Kuliah ini mungki lebih relevan hari ini dibanding ketika Jacques Rueff menyampaikannya. Rueff memulainya sbb:

"Cerita yang ingin saya sampaikan meliputi waktu yang amat panjang. Ini adalah kisah tentang Gold Standard, yang kini sedang menderita penyakit yang amat serius yang hanya waktu yang dapat mebuktikan apakah ia akan mati atau tetap bertahan, setidaknya dalam kondisi kelumpuhan total."
"The story I am going to relate covers a long period. It is the life story of the gold standard, now afflicted with so grave an ailment that only time will tell if the victim will succumb or be left, at the very least, in a state of virtual paralysis." [1]

Jacques Rueff bercerita tentang 2 konferensi moneter yang berbeda yang dihadiri oleh komite yang terdiri dari pakar moneter pada saat itu, yang keduanya diselenggarakan di Genoa, dan berhasil merubah arah sejarah moneter. Komite pertama bertemu di bulan Oktober 1445, dan yang kedua mulai di bulan April 1922, jadi kuliah Rueff ini berselang 10 tahun dari konferensi kedua.Kedua konferensi ini berada dalam atmosfer yang sama, untuk merespon kekacauan moneter akibat perang yang berlarut-larut, namun mereka sampai dalam kesimpulan yang berbeda.
Komite pertama mendeklarasikan emas sebagai cadangan moneter baru dan satu-satunya, melepaskan tali penguasaan 500 tahun pemerintah yang mengatur penawaran dan permintaan, yang selanjutnya akan berperan sebagai penyeimbang perdagangan internasional untuk setengah milenium ke depan. Komite ke dua, dengan kedok untuk memperbaiki sistem, malah berusaha, menghancurkan sistem itu, meletakkan pondasi bagi berkembangnya ketidakseimbangan global dalam sistem moneter, kebangkrutan yang panjang dan periode krisis moneter yang telah kita alami dalam 90 tahun terakhir.


Konferensi Genoa tahun 1922. PM Inggris Lloyd George di baris terdepan, sebelah kiri.


Hingga tahun 1922, emas adalah sesuatu yang dapat berkembang dengan baik dalam ekosistem ekonomi global. Keberlanjutan ekosistem ekonomi global tidak berdasarkan atas keseimbangan ruang lingkup moneter, tetapi atas keseimbangan yang baik antara produksi riil dan konsumsi riil. Dia adalah aliran emas secara fisik yang setidaknya eksis hingga 1922, dalam sebuah sistem yang moderat dan teratur sehingga membangun keseimbangan sempurna, yang tetap eksis dalam ruang lingkup emas secara fisik, sebagaimana produksi dan konsumsi riil dan karenanya tidak menjadi permainan para politisi yang cenderung mencetak uang dari awang-awang. Tetapi seiring kehancuran ekonomi Eropa selama PD I (1914-1918), Inflasi yang tinggi di AS disertai dengan arus masuk emas secara dramatis. Sehingga pada awal 1920-an, selama periode tingkat suku bunga yang melonjak dan dipotongnya anggaran belanja pemerintah, AS memulai kebijakan "sterilisasi" emas untuk melawan mekanisme harga secara alami-inflasi-dengan kata lain beraksi tidak hanya sebagai rem arus masuk emas sepanjang periode 1920-an, tetapi juga mendorong Eropa ke dalam jurang dalam pergulatan ekonominya.

Sterilisasi Federal Reserve dalam Aliran Emas

Ketika suatu negara mengimpor emas, bank sentralnya akan melakukan sterilisasi efek arus masuk emas dalam sistem moneter mereka dengan menjual surat berharga atau sekuritas ke pasar terbuka...

Sterilisasi arus masuk emas menggeser beban penyesuaian harga internasional ke negara standar emas lainnya. Ketika suatu negara melakukan sterilisasi atas emas impor, hal tersebut menghalangi arus emas dalam memicu kenaikan tingkat harga domestik dan dari mengurangi kecendrungan penurunan harga secara umum di negara-negara lain (deflationary).Di dalam sistem standar emas internasional, tidak ada negara yang memiliki kontrol absolut dalam tingkat harga domestik secara jangka panjang; tetapi sebagian besar negara dapat mempengaruhi tingkat harga baik tingkat harganya menginduk pada tingkat harga internasional atau tingkat harga internasional menginduk pada tingkat harga domestik....

Telah lama ekonom dan politisi mengkritik The Federal Reserve agar tidak bermain dengan aturan yang ketat dalam sistem Gold Standar selama 1920-an.

…Sterilisasi Federal Reserve pada awal 1920-an mungkin sesuai dengan kepentingan terbaik AS.

-Leland Crabbe, Washington, D.C., 1988
Board of Governors of the Federal Reserve System [2]


Arus keluar masuk emas adalah arus riil modal, bahkan bila hari ini hal tersebut dikaburkan dengan transaksi elektronik dari angka-angka imaginer yang disuntik sedemikian rupa. Surat utang hari ini (bond market-walau dengan embel-embel syariah sekalipun) adalah modal imaginer dan tidak bisa mencerminkan kondisi riil yang tidak lain maskudnya adalah sektor ekonomi (dibawah kondisi ekonomi saat ini) plus emas (sebagai satuan nilai atau cermin harga barang dan jasa) barang dan jasa pada harga pasar terkini.

Arus keluar dari modal riil dari setiap wilayah merupakan sinyal kebutuhan untuk memproduksi lebih dan mengurangi konsumsi barang dan jasa (ini pas dengan kondisi Indonesia). Sebaliknya arus masuk modal riil adalah sinyal untuk mengkonsumsi atau bersedekah lebih banyak dan mengerem produksi. Mekanisme harga ini mengantar sinyal bagi para pelaku ekonomi. Arus masuk barang modal akan menaikkan harga yang berarti juga akan menaikkan nilai barang modal tersebut, yang akan membuat harganya naik di pasaran internasional (aktivitas ekspor), sehingga menurungkan ekspor dan menaikkan impor (karena lebih murah). Negara dengan arus masuk barang modal harus mulai menaikkan konsumsi dari produksinya sendiri atau kalau tidak akan terjadi penumpukan dan pembusukan barang modal.

Sistem moneter , dimana arus modalnya dalam bentuk imaginer, mengaburkan kesederhanaan dari apa yang sesungguhnya terjadi hari ini, dan ini sudah didesain sedemikian rupa. Tetapi sesungguhnya ini amat sangat sederhana, dan saya harap dapat membantu anda dalam mengurai benang kusut ini. Setiap orang tahu Sovereign Debt (surat utang yang diterbitkan dengan menggunakan nilai mata uang asing) di Eropa hari ini menjadi masalah. Tetapi yang kita dengar adalah solusi yang rumit yang diajukan oleh otoritas moneter.

Pelajaran dari peerubahan moneter pasca PD I tahun 1920-an adalah apabila anda ingin debitor membayar utang tepat pada waktunya , anda tidak perlu melakukan sterilisasi terhadap emas dengan menghancurkan fungsi emas dengan mengunci kekuatan daya belinya.Ini adalah mekanisme harga-harga barang dan jasa yang berubah dengan emas sebagai cermin-hal ini menghantarkan sinyal yang menyebabkan emas secara fisik mengalir ke tempat yang dapat menghargai emas pada daya beli terbaiknya.

bersambung
[1] The Age of Inflation, Chapter 2, Jacques Rueff
[2] http://fraser.stlouisfed.org/docs/meltzer/craint89.pdf

http://fofoa.blogspot.com/2011/09/once-upon-time.html


1 comment:

Devit Eza Handra said...

Bagus bg, menambah pengetahuan kita..ditunggu tulisan-tulisan berikutnya. Junior.