www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Friday, March 2, 2018

Teori Chaos


Satu kepakan sayap kupu-kupu yang hidup di Seoul dapat menyebabkan badai di New York beberapa bulan kemudian. Sepertinya hanya ada dalam film. Inilah yang disebut dengan efek kupu-kupu. Efek kupu-kupu dikemukakan oleh seorang ahli meteorologi bernama Edward Lorenz saat meneliti mengenai fenomena cuaca. Dengan tidak mengabaikan objek yang seolah-olah tidak ada hubungannya maupun  tidak beraturan, ternyata dapat menimbulkan hal yang signifikan. Dalam suatu penelitian, efek kupu-kupu memberikan dampak pada teori Chaos. Teori Chaos merupakan suatu teori ilmiah yang menjelaskan adanya suatu keteraturan bahkan dalam hal yang terlihat acak dan tidak stabil. Seperti halnya suatu hal kecil yang dapat menyebabkan akibat besar yang tidak dapat diprediksi , suatu hal yang tidak beraturan juga memiliki aturannya sendiri.

Teori Chaos adalah ilmu tentang kejutan (sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan non-linear ). Mengajarkan kita untuk mengharapkan sesuatu yang tidak diharapkan. Berbeda dengan pakem ilmu pengetahuan selama ini  yang berkutat dengan suatu fenomena yang dapat diprediksi seperti gravitasi,energi listrik, reaksi kimua dll. Teori chaos bersinggungan dengan hal yang non-linear yang tidak mungkin dapat diprediksi seperti turbulensi, cuaca, pasar saham, kondisi otak, dll. Fenomena ini seringkali penjelasannya dijabarkan melalui matematika fractal. Yaitu penjelasan matematika untuk pola yang selalu berubah tanpa akhir yang melingkupi kompleksitas alam yang tak terbatas.

Dalam ekonomi terjadi berbagai peristiwa yang dapat diprediksi namun lebih banyak lagi yang tidak. Krismon 1997 di negara-negara Asia tenggara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia ditambah Hongkong dan Korsel bisa termasuk unpredictable crisis. Karena krisis terjadi di tengah optimisme pertumbuhan ekspor yang signifikan. Selama 1990-1996 sebagai contoh nilai ekspor  Malaysia tumbuh  18% per tahun, Thailand 16% per tahun, Singapura 15% per tahun, Hong Kong 14% per tahun, Korsel dan Indonesia 12% per tahun.

Nilai investasi juga mengalami booming hingga pertengahan 1999-an (sebagian besar dibiayai dengan utang). Antara 1990 dan 1995 Gross Domestic Investment tumbuh 16,3% per tahun  di Indonesia, 16% per tahun di Malaysia, 15,3% per tahun di Thailand, dan 7,2% per tahun di Korsel. Sebagai perbandingan pada periode yang sama invetasi di Amerika Serikat tumbuh hanya 4,1% per tahun, dan di negara ekonomi maju hanya tumbuh 0,8% per tahun.


No comments: