www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Sunday, April 18, 2010

Jejak Mata Uang Emas dan Perak di Nusantara



Menarik menelusuri judul di atas . Tentu pendekatannya adalah sejarah. Dengan sejarah hal-hal masa lalu dapat terungkap. Sebelum sampai ke pokok masalah, baiklah kita kaji terlebih dahulu sejarah Rupiah. Yaitu mata uang yang berlaku saat ini agar nyambung dengan pokok bahasan kita. Menurut Adi Pratomo alumnus Teknik Kimia UGM, seorang peneliti sejarah uang Indonesia, kata Rupiah berasal dari bahasa Mongolia, rupia, yang berarti perak. Waktu itu, Mongolia di bawah Genghis Khan, dilanjutkan Timur Leng, dan Kubilai Khan melakukan serangkaian invasi sampai ke negara-negara selatan. Di antaranya, India, Afghanistan, dan Pakistan serta negara utara, Rusia dan beberapa negara Eropa Timur lainnya.

Nama rupia kemudian menyebar. Sebab, negara-negara bekas jajahan Mongolia itu melakukan perdagangan ke berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. ”Makanya, saudara rupiah itu sebetulnya adalah rubel, mata uang Rusia,” katanya. Namun rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya penambahan huruf ’h’ di akhir kata rupia, sangat khas sebagai pelafalan orang-orang Jawa. Sehingga dapat diambil kesimpulan kata Rupia hidup sejak abad ke 5 atau 6 Masehi yang artinya adalah PERAK.

Menurut Puji Harsono seorang pakar uang di Bandung mengatakan "Anda mungkin sering mengganti kata rupiah menjadi perak.Misalnya, saat mengatakan, “Saya cuma punya uang 500 perak.”Pernahkah Anda bertanya kenapa harus diganti perak? Kenapa tidak emas? Pada tahun 1892, Belanda mengeluarkan uang koin dari perak seharga 1 gulden. Satu gulden berarti satu perak atau satu rupiah.Mungkin dilatarbelakangi hal itu, istilah perak masih dipakai hingga sekarang. Kata pengganti lainnya, seperti ringgit (2,5 gulden), juga masih dikenal. Namun, ukan (0,5 gulden), setalen (1/4 gulden), dan ketit (1/10 gulden) mungkin tidak lagi terdengar.

Jadi dahulu memang Rupiah itu adalah nama lain dari koin peraknya penjajah Belanda.

Jejak mata uang emas dan perak dapat dilihat pada periodeisasi mata uang di Indonesia, yang disusun Puji Harsono berikut ini. Periode ini saya sesuaikan dengan jejak mata uang emas dan perak yang ada di nusantara sbb :

1. ZAMAN KERAJAAN HINDU-BUDDHA (850-1300)

Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :

* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak

Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).

Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.

Pada zaman Kerajaan Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.Pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja bisa membeli seekor kambing.

2. ZAMAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM

Pada masa KERAJAAN PASAI mata uang emas untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.

Setelah Pasai berhasil ditaklukkan oleh KERAJAAN ACEH pada 1524, sultan-sultan Aceh tetap mengikuti tradisi dari kerajaan Pasai dalam pembuatan mata uangnya. Namun uang Dirham Aceh berdiameter lebih besar, antara 12–14 mm. Pada bagian belakangnya terdapat tulisan Arab “as-Sultan al-adil”, yang artinya Sultan yang adil. Aceh juga membuat mata uang dari timah/timbal, yang disebut “Keueh”, dengan nilai satu Mas sama dengan 400 Keueh.

Pada masa KERAJAAN GOWA di Sulawesi Selatan mata uangnya disebut dengan “Dinara”, yang terbuat dari emas. Sultan Alauddin Awwalul Islam yang memerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1593-1639, adalah sultan Gowa pertama yang beralih ke agama Islam. Sultan Hasanuddin, yang memerintah pada tahun 1653-1669, dengan gelarnya “I Mallombasi Muhammad Bakir Dg Mattawang Krg. Bontomangape”. Dengan kekalahannya melawan Belanda, Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya tanggal 18 November 1667. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa wilayah Minahasa, Butung dan Sumbawa yang tadinya termasuk dalam wilayah Kesultanan Gowa harus diserahkan kepada VOC. Dan semua pedagang-pedagang Eropa selain dari VOC, dilarang untuk melakukan perdagangan di wilayah bagian timur tersebut.

3. ZAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Perdagangan dengan VOC (1602-1799)

Tahun 1595 untuk pertama kalinya kapal-kapal Belanda menginjak daratan Indonesia. Ekspedisi ini dikepalai oleh dua bersaudara, Cornelis dan Frederick de Houtman, dan mendarat di pelabuhan Banten. Mereka membawa koin-koin perak untuk dipakai membeli rempah-rempah, baik yang dinamakan Real Batu ataupun Real Bundar. Namun mereka kecewa karena uang yang dipakai di Banten adalah picis-picis dari timbal.

Pada tahun 1743, VOC melakukan perjanjian dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah pemberian hak kepada VOC untuk mencetak mata uangnya sendiri. Uang yang dicetak ini dikenal dengan nama “Derham Djawi” atau “Java Ducat” atau “Gold Rupee” (untuk koin emas), dan “Silver Java Rupee” (untuk koin peraknya). Kemungkinan pada masa inilah kapal VOC yang tenggelam di perairan Brazil yang mengangkut salah satunya adalah 180.000 koin emas.http://www.detiknews.com/read/2009/11/29/172021/1250537/10/kapal-voc-ditemukan-berisi-180000-keping-koin-emas

Koin yang pertama kali dibuat VOC di percetakan uang di Batavia adalah Dirham Jawi dengan tahun 1744. Pada bagian muka terdapat tulisan dalam bahasa Arab: “Ila djazirat Djawa al-kabir”, sedangkan di bagian belakangnya : “Derham min Kompani Welandawi”. Yang artinya : “Uang milik perusahaan Belanda untuk Pulau Jawa Besar”.

4. ZAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA, & INGGRIS (1800-1942)

A. Pemerintahan Hindia Belanda (1800-1942)

Koin perak 2.5 Gulden baru dibuat pada tahun 1840 setelah dilakukan standarisasi pada mata uang pada pemerintahan Raja Willem I. Berbagai macam mata uang baik emas, perak, dan tembaga juga dibuat pada masa-masa pemerintahan Raja Willem II, Willem III, atau Wilhelmina.

Pada masa pemerintahan Raja Willem II (1840-1849), percetakan uang di Batavia dan di Surabaya ditutup untuk selama-lamanya. Batavia ditutup pada bulan Januari 1843, sedangkan Surabaya pada akhir tahun 1843. Dengan ditutupnya percetakan uang di Jawa, maka sejak saat itu semua mata uang dikirim langsung dari negeri Belanda.

Pada zaman Raja Willem III (1849-1890), pernah dicetak koin perak dengan nilai 1/20 Gulden (Kelip). Koin ini bentuknya sangat kecil sekali, sehingga tidak diproduksi kembali setelah cetakan kedua tahun 1855. Koin-koin Sen dari tembaga juga dicetak, dengan pecahan 1 dan 2 ½ Sen. Pada masa-masa inilah koin cash Cina mulai ditinggalkan pemakaiannya. Koin tembaga 2 ½ sen disebut sebagai uang “Gobang” atau “Benggol”, dan mempunyai fungsinya yang lain, yaitu sebagai alat “Kerokan”.

Pada waktu bertakhtanya Ratu Wilhelmina (1890-1948), timbul perang dunia kedua, dimana tahun 1940 Jerman menginvasi serta menduduki Belanda. Keluarga kerajaan termasuk Ratu Wilhelmina lari ke Inggris dengan memakai kapal kargo. Di tempat pelariannya itu, Ratu membentuk “pemerintahan dalam pengasingan”. Pada masa perang itu, koin-koin tahun 1941-45 dicetak di Amerika, dengan tambahan huruf kecil pada bagian belakang bawah. Huruf “D” adalah singkatan dari “Denver” (1943-1945); “P’ adalah “Philadelphia” (1941-1945); dan “S” untuk “San Francisco” (1944-1945). Pada tahun 1945, setelah kekalahan Jerman, Ratu kembali ke negerinya Belanda. Namun pada tanggal 17 Agustus 1945 negara jajahannya di bagian timur telah memproklamasikan kemerdekaannya menjadi Republik Indonesia.

B. Pendudukan Inggris (1811-1816)

Pada tanggal 4 Agustus 1811, kapal-kapal Inggris mendarat di teluk Batavia, yang akhirnya dapat merebut Jawa, sehingga Belanda harus menyerahkan koloninya kepada Inggris. Berbeda dengan pendudukan Perancis terhadap Belanda, pendudukan Inggris dilakukan secara langsung, dimana wilayah Nusantara berada dalam kekuasaan Inggris. Untuk pertama kalinya diangkat Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal.

Satu seri koin menarik yang dicetak pada masa pendudukan Inggris adalah koin Java Rupee yang terbuat dari emas dan perak. Pada bagian depannya ditulis dalam bahasa Jawa kuno, “Kempni Hingglis, jasa hing Sura-pringga. Tahun Ajisaka AS 1741”. Sedangkan di baliknya tertulis dalam bahasa Arab Melayu : “Hinglish, sikkah kompani, sannah AH 1229 dhuriba, dar djazirat Djawa”.

Semua koin pada masa pendudukan Inggris dicetak di Surabaya, kecuali koin-koin darurat Doit Java dari timah murni Bangka dengan tahun 1813 dan 1814, yang dicetak di Batavia. Setelah kekalahan Napoleon di Eropa, maka berdasarkan perjanjian Wina tahun 1814 Inggris harus mengembalikan Jawa dan daerah lainnya kepada Belanda. Penyerahan koloni itu sendiri baru dilaksanakan Inggris pada tanggal 16 Agustus 1816.

PATOKAN NILAI TUKAR MATA UANG ZAMAN DULU

* 1 Silver Dukaton = 3 Gulden = 60 Stuiver = 240 Duit
* 1 Gulden = 20 Stuiver = 80 Duit.
* 1 Dirham emas / Dirham Jawi = 16 Silver Rupee (atau = 16 Gulden)
* 1 Stuiver = 4 Duit

ISTILAH-ISTILAH MATA UANG

* 2 ½ Gulden = Ringgit
* 1 Gulden = Rupiah
* ½ Gulden = Ukon
* ¼ Gulden = Talen atau setalen
* 1/10 Gulden = Ketip
* 1/20 Gulden = Kelip

sumber :
1.http://numisku.wordpress.com/2010/04/09/adi-pratomo-satu-di-antara-sedikit-peneliti-rupiah/
2.http://numisku.wordpress.com/2010/03/27/seminar-numismatik-sejarah-perkembangan-mata-uang-indonesia/
3.http://www.detiknews.com/read/2009/11/29/172021/1250537/10/kapal-voc-ditemukan-berisi-180000-keping-koin-emas
4.http://nom3dic.blogspot.com/2010/04/asal-usul-nama-rupiah-rp-dan-sejarahnya.html
5.http://perlengkapan-numismatik.blogspot.com/2009/02/puji-harsono-merangkai-sejarah-dari.html

2 comments:

McZhum said...

Woow Cool Posting, Thanks For Info...

santia said...

I like Dinar.and its revaluation of currency.
Dinar