www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Thursday, November 11, 2010

Dari Gold Standard menuju Dinar Standard I



Robert Zoelick Presiden Bank Dunia yang berbasis di Washington menulis dalam sebuah artikel yang dimuat Financial Times, bahwa negara-negara Industri maju semestinya mengambil peluang untuk kembali ke dalam gold standard (sistem moneter berbasis emas) di masa depan.

Sistem mata uang saat ini yang saling menaikkan dan menurunkan tidak akan bertahan dalam jangka panjang di tengah pertumbuhan ekonomi beberapa negara industri baru. Dalam dunia industri yang tumbuh demikian cepat adalah penting untuk kembali kepada basis nilai tukar yang stabil dalam pasar mata uang internasional. Menurut Zoelick implementasi dari New Gold Standard sudah sepatutnya dipertimbangkan. Khususnya US Dollar, Poundsterling, Euro, Yuan/Renminbi, dan Yen sudah seharusnya menyatu dalam suatu sistem yang baru.

Ucapan Mr Zoellick's memang penuh makna, ini adalah pertama kalinya pejabat tinggi moneter dunia berbicara tentang perlunya kembali pada new gold standard. Padahal pada pertemuan yang berbeda beberapa minggu lalu, mereka tidak mampu menyudahi perselisihan mengenai isu mata uang internasional

Di sisi lain pada pertemuan G20 di Korea Selatan pada akhir Oktober, Menteri Urusan Ekonomi, Rainer Bruederle, mengkritik strategi moneter AS yang bermaksud membanjiri pasar dunia dengan likuiditas yang murah. Akibatnya Federal Reserve hanya akan menurunkan daya beli US Dollar yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ekspor agar dapat bersaing dengan musuh bebuyutannya Cina. Menkeu Jerman Wolfgang Schaeuble mengulangi kritikan koleganya dengan menyebut strategi moneter The Fed’s dengan ‘tidak sistematis dan sama sekali tidak membantu’.

The international Bretton Woods currency system yang diperkenalkan pada tahun 1944 bermaksud untuk mengikat seluruh mata uang utama dunia ke dalam US Dollar. US dollar pada gilirannya diikat dengan emas dan secara bebas dapat dipertukaran dengan emas setelah Perang Dunia II. Sistem ini gagal pada tahun 1973, ketika AS sebagai negara yang memiliki utang sangat besar saat itu (begitu pula dengan saat ini) jatuh tempo utangnya dalam pembiayaan perang Vietnam yang membengkak. Sehingga akhirnya AS memutuskan patokan harga US Dollar terhadap emas . Sejak 1973, situasi ini membawa pada mata uang mengambang dan nilai tukar yang bebas antara dollar & emas yang ikut andil dalam pecahnya krisis keuangan internasional hingga saat ini.

Selain itu, negara-negara yang mengalami defisit neraca terus menerapkan kebijakan utang yang kaku. Sejumlah negara Eropa dan AS memanfaatkan pemutusan sistem gold standard dalam empat dekade terakhir untuk menaikkan utang internasional yang lebih banyak lagi dan menjadi tergantung terhadap utang luar negeri (kebijakan pembangunan berbasis utang). Dengan semakin majunya globalisasi, Cina dan Jepang menjadi pemberi kredit terbesar bagi AS dan lambat laun menyebabkan pudarnya dominasi dollar sebagai mata uang utama dunia.
Sehingga cepat atau lambat Dollar akan segera digantikan dengan mata uang lainnya di dunia.Di tengah perdebatan dan pergulatan dalam mencari mata uang alternatif pengganti Dollar, Dinar & Dirham sesungguhnya telah eksis berabad-abad sebagai alat tukar baik dalam sejarah dunia Islam maupun non Islam. Walaupun dinar berasal dari Romawidan Dirham dari Persia namun dunia Islam telah menggunakannya dalam 14 abad mulai zaman Nabi Muhammad SAW hingga kekhalifahan Islam Utsmaniyah tahun 1924. Sehingga peluang kembalinya Dinar sebagai alat tukar moneter Internasional adalah besar. Namun bagaimana tahapan-tahapan kembalinya mata uang Dinar di tengah cengkraman kapitalis modern saat ini?

Bersambung

1 comment:

Udi Basuki said...

ada tiga pilar kapitalis: uang kertas,kredit dan bunga.
untk melepas dominasi tiga pilar tadi,berjuang masuk lewat sektor riil.sektor riil itulah kelemahan kapitalis.
kita punya singkong,tak mau ditukar uang,maunya ditukar emas.maka gugurlah fungsi uang.
udi basuki/021 7338373