www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Sunday, June 24, 2012

Japan : Will Be Next Crisis ?

Krisis utang di Eropa belum lagi usai, ancaman krisis baru datang dari Jepang. Dalam acara 13th Annual Mitsui USA Symposium di Columbia Business School 4 April 2012 lalu Professor Takeo Hoshi, Professor Pacific Economic Cooperation  of International Economic Relations at the School of International Relations and Pacific Studies di Universitas California San Diego AS melakukan persentasi berdasarkan makalah yang dia tulis bersama  Takatoshi Ito, Professor di Universitas  Tokyo berjudul, “Defying Gravity: How Long Will Japanese Government Bond Prices Remain High?” menjelaskan bagaimana beban utang Jepang adalah yang tertinggi di dunia : perbandingan utang bruto dan netto relatifnya terhadap GDP berturut-turut adalah  200% dan 120% , dan utang brutonya dalam bentuk US Dollar adalah  $9.465 trilliun. Jepang juga memiliki rata negatif fiskal relatif terhadap GDP sebesar 7% selama 3 tahun terakhir.  Dengan konsidi ekonomi begitu rupa, mengapa Jepang bisa bertahan hingga kini? Setidaknya menurut Prof. Hoshi ada 3 faktor: 1) Nilai tabungan domestic yang amat besar; 2) Stagnansi ekonomi yang menekan tingkat bunga ; 3) Ekspektasi adanya konsolidasi fiskal di masa depan, konsolidasi fiskal adalah kebijakan yang bertujuan mengurangi defisit negara dan mengurangi akumulasi utang. Dia menyatakan apabila ada perubahan yang substantif dari ketiga faktor tersebut akan memicu krisis.

Apabila Jepang mengalami krisis maka akan berpengaruh terhadap Indonesia, sebab Jepang adalah negara kedua terbesar penanam modal asing di negeri ini. Hingga Maret 2012 realisasi investasi di Indonesia  mencapai USD 5,7 miliar. Investasi ini sampai pada kuartal I tahun 2012 masih didominasi oleh tiga negara investor, yakni Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.
Singapura menanamkan modalnya di Indonesia sebesar 20,2 perse atau nilai investasi USD 1.159,2 juta.  Disusul dengan Jepang sebesar 11 persen (USD 629,5 juta) dan Korea Selatan sebesar 8,9 persen (USD 510,5 juta).

Apabila ada ancaman pengaruh krisis dari Jepang atau negara lainnya, maka mesti dilakukan langkah antisipatif. Salah satu caranya tentu tidak mengandalkan investasi asing. Banyak sekali potensi SDA, SDM , dan Kapital dari negeri ini yang belum tergali. Sehingga bila krisis benar-benar tiba, ketahanan ekonomi negeri ini sudah kuat sehingga imun terhadap krisis asing.

sumber :
1. http://www4.gsb.columbia.edu/filemgr?file_id=7220681
2.http://the-marketeers.com/archives/tiga-negara-penanam-modal-terbesar-di-indonesia.html

No comments: